Minggu, 09 Desember 2012

ROSO JATI..SEJATINE ROSO...ROSONE ROSO


1. Perasaan labil-stabil, susah-senang, duka- gembira saling bergantung secara 'inheren' dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan hidup bukan untuk 'in akumulasi kebahagiaan' dan 'meminimalisasi kesedihan', yang pada dasarnya hal itu tidak akan mungkin.

2. Untuk menuju pencapaian tujuan hidup kita perlu mengendalikan hawa nafsu, sehingga mampu mengerti 'perasaan yang bisa mendeteksi benar-salah, baik-buruk'. Harapannya adalah PADHANGING MANAH, RESEPING PANDULU. kedamaian, ketenangan, dan ketentraman dalam hati.

3. Di balik ekspresi lahiriah, tedapat perasaan dasar yang murni, yang merupakan jatidiri seorang individu dan merupakan manifestasi ke Illahian dalam individu ybs. Disadari atau tidak, terdapat kecenderungan bahwa ada tujuan "tersembunyi" untuk mengetahui atau me 'rasa' kan rasa tertinggi dalam masing-masing pribadi. Prestasi demikian, akan membawa pada KEPEKAAN DAN KEKUATAN SPIRITUAL, sebagai modal awal untuk mendeteksi SINYAL dariNya.

4. Pengakuan rasa tertinggi ini bisa dicapai dengan cara memiliki "kehendak yang murni dari diri sendiri" untuk 'memusatkan' kehidupan batiniahnya, mengintensifkan dan memusatkannya pada titik yang kecil seperti suryakonta menghasilkan panas maximum pd suatu titik fokus.

5. Kecuali disiplin spiritual dan meditasi (nyuwung-kosong), studi empiris terhadap kehidupan emosional (puasa, ngurang-ngurangi, melek malam, sholat malam dll), akan sampai pd kondisi psikologi metafisik, yang akan menimbulkan suatu pengertia dan pengalaman mengenai "rasa jati, sejatining rasa, ros ing rasa, AS".

6. Karena seseorang berbeda-beda dalam kesanggupannya melaksanakan disiplin spiritual, maka sangat mungkin suatu keadaan akan meletakkan sesorang oada tingkatan yang berbeda-beda menurut kesanggupan dan prestasi spiritualnya (inilah yg mungkin sering kita sebut "durung wayahe"...padahal yg dimaksud meletakkan scr proporsional).

7. Pada tingkat 'pengalaman' dan 'eksistensi tertinggi', semua orang adalah satu, sama dan tidak ada individualitasnya, karena rasa 'aku' pada masing-masing individu sama (hardware n softwarenya sama), pemberdayaannya yang beda.

8. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tujuan semua manusia dari demensi spiritual adalah sama, yaitu untuk mengalami rasa jati sebagai rasa tertinggi, maka idealnya sistem religi dan kepercayaan, seharusnya hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan itu dengan segala variasi opersionalnya. Hal ini menimbulkan pandangan yang 'realistis' terhadap sistem serupa, sehingga, adanya "toleransi" mutlak diperlukan.....dan ini adalah pra kondisi terciptanya......GUYUB RUKUN SAK PADHA PADHANE TUMITAH.....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar