Senin, 17 Desember 2012

Langkah mengubah karakter

“Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku, maka hendaklah kamu bersungkur dengan bersujud kepadanya “ (QS Shaad (38):72). 

Allah menciptakan manusia melalui dua tahap, pertama menciptakan jasadnya dan kedua meniupkan ruh ke dalam jasad itu. Dengan tahapan ini, jadilah mansuia itu zat yang terdiri dari “segenggam tanah dan setiup ruh”. Dan keduanya menjadi unsur utama pembentuk karakter kepribadian manusia yaitu unsur materi yaitu fisik manusia dan unsur ruh yaitu hati dan jiwa manusia. 

Dari unsur ruh itu Allah SWT menciptakan kecenderungan fitrah kepada ibadah yaitu kecenderungan untuk bertuhan dan menyembah Tuhan. Sedangkan dari unsur fisik, Allah menciptakan kecenderungan dan dorongan untuk bertindak dan bersikap. Allah menjelaskan tentang unsur ruh ini (yang kemudian disebut dengan fitrah) di dalam QS Al-A’raaf (17):172-173). Sebagai penjelasan adanya korelasi antar ruh (jiwa) dan fisik (amal) maka Rasulullah menerangkan dalam sebuah haditsnya : 

“ Wahai Wabishoh, bertanyalah pada jiwamu : kebaikan adalah sesutau yang hati dan jiwa menjadi tenang padanya. Adapun dosa adalah apa yang terbetik dalam jiwa dan meragu-ragukan di dalam hati, sekalipun orang lain memberimu fatwa (bahwa hal tiu benar). ( HR Ahmad).. 

Proses penciptaan manusia inilah yang menjadi dasar pokok pembentukan karakter manusia itu. Ketika pembentukan karakter itu sesuai dengan jalan proses penciptaannya, maka manusia mampu menunjukkan jatidirinya sebagai “hamba Allah”. Sebaliknya, ketika pembentukan karakter itu bertolak belakang dengan proses penciptaannya, maka manusia akan berrevolusi menjadi “hamba thogut”. 

Faktor-faktor pembentuk Karakter 

Tindakan manusia pada umumnya didasarkan pada dua keadaan yaitu keadaan sadar dan keadaan tidak sadar. Tindakan sadar berarti bahwa manusia bertindak berdasarkan unsur kehendak atau motif, sedangkan tindakan tidak sadar tidak mengandung unsur kehendak yang pada umumnya disebabkan hilangnya salah satu faktor pendorong tindakan seperti hilangnya akal (gila, koma, pingsan, tidur atau sejenisnya), atau hilangnya kendali diri seperti gerakan refleks. Beban tanggungjawab manusia hanya berlaku pada tindakan sadar saja, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : 

“ Tidak berlaku hukum atas orang gila sampai dia sembuh, orang tidur sampai dia bangun dan anak-anak sampai dia baligh”. 

Jadi, karakter atau kepribadian seseorang hanya diukur dengan apa yang dia lakukan berdasarkan tindakan sadarnya. Dengan demikian ,yang yang harus kita perhatikan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan sadar tersebut. Secara umum faktor-faktor tersebut terbagi dalam dua kelompok yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 

Faktor internal adalah kumpulan dari unsur kepribadian atau sifat manusia yang secara bersamaan mempengaruhi perilaku manusia. Faktor internal tersebut diantaranya : 

Instink Biologis (Dorongan biologis) seperti makan, minum dan hubungan biologis. Karakter seseorang sangat terlihat dari cara dia memenuhi kebutuhan atau instinks bilogis ini. Contohnya adalah sifat berlebihan dalam makan dan minum akan mendorong pelakunya sersifat rakus/tamak. Seseorang yang bisa mengendalikan kebutuhan biologisnya akan memiliki karakter waro, zuhud dan qona’ah yang membawanya kepada karkater sederhana. 

Kebutuhan psikologis seperti kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, penerimaan dan aktualisasi diri. Seperti orang yang berlebihan dalam memenuhi rasa aman akan melahirkan karakter penakut, orang yang berlebihan dalam memenuhi kebutuhan penghargaan akan melahirkan karakter sombong/angkuh dll. Apabila seseorang mampu mengendalikan kebutuhan psikologisnya, maka dia akan memiliki karakter tawadhu dan rendah hati. 

Kebutuhan pemikiran, yaitu kumpulan informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti isme, mitos, agama yang masuk ke dalam benak seseorang akan mempengaruhi cara berfikirnya yang selanjutnya mempengaruhi karakternya. 

Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar diri manusia, namun secara langsung mempengaruhi karakternya. Faktor eksternal tersebut diantaranya faktor keluarga dalam membentuk karakter anak, kemudian faktor sosial yang berkembang di masyarakat yang kemudian disebut budaya, serta lingkungan pendidikan yang begitu banyak menyita waktu pertumbuhan setiap orang, baik pendidikan formal seperti sekolah atau pendidikan informal seperti media massa, media elektronik atau masjid. 

Dalam perkembangannya, sebagian faktor itu bersifat mutlak/tetap dan sebagian lainnya bersifat nisbi/berubah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw: 

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi “. 

Kalimat “fitrah” mewakili karakter muslim. Kalimat “bapaknyalah” bisa bermakna orang tua dan setiap pihak yang mempengaruhi karakternya, dan kalimat “yahudi, nasrani serta majusi” mewakili karakter atau sifat bukan bangsa atau ras. 

Dengan adanya kedua faktor itu, maka bisa disimpulkan bahwa karakter seseorang tergantung kepada dua hal yaitu karakter fitriyah yaitu sifat bawaan yang melekat serta karakter muktasabah yaitu sifat yang terbentuk dari lingkungan alam, social dan pendidikan. Rasulullah bersabda : 

“Ilmu diperoleh dengan belajar dan sifat santun diperoleh dengan latihan menjadi santun” (HR Bukhori). 

Metoda Pembentukan karakter 

Metoda pembentukan karakter berkaitan langsung dengan tahapan perkembangannya. Tahapan tersebut terbagi dalam tiga tahapan yaitu tahapan karakter lahiriyah (karakter anak-anak), tahapan karakter berkesadaran (karakter remaja) dan tahapan kontrol internal atas karakter (karakter dewasa). Pada tahapan lahiriyah metoda yang digunakan adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman) serta indoktrinasi. Sedangkan pada tahapan perilaku berkesadaran, metoda yang digunakan adalah penanaman nilai melalui dialog yang bertujuan meyakinkan, pembimbingan bukan instruksi dan pelibatan bukan pemaksaan. Dan pada tahapan kontrol internal atas karakter maka metoda yang diterapkan adalah perumusan visi dan misi hidup pribadi, serta penguatan akan tanggungjawab langsung kepada Allah. Tahapan diatas lebih didasarkan pada sifat daripada umur. 

Proses Pembentukan karakter 

Karakter terbentuk setelah mengikuti proses sebagai berikut

Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideology, pendidikan, temuan sendiri atau lainnya.  Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk rumusan visinya. Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan membentuk mentalitas. an melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap.  Sikap-sikap yang dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan mencitrai dirinya adalah apa yang disebut sebagai kepribadian atau karakter. 

Jadi, proses pembentukan karakter itu menunjukkan keterkaitan yang erat antara fikiran, perasaan dan tindakan. Dari wilayah akal terbentuk cara berfikir dan dari wilayah fisik terbentuk cara berperilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berperilaku menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi pengulangan yang terus-menerus menjadi kebiasaan, maka sesuai dengan pendapat Imam al-Ghozali yang mengatakan : Akhlak atau karakter adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa melalui proses pemikiran. 

Dengan mengetahui tahapan, metoda dan proses pembentukan karakter, maka bisa diketahui bahwa akar dari perilaku atau karakter itu adalah cara berfikir dan cara merasa seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang, kita bisa melakukan tiga langkah berikut : 

Langkah pertama 

adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir yang kemudian disebut terapi kognitif, dimana fikiran menjadi akar dari karakter seseorang. 

Langkah kedua 

adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa yang disebut dengan terapi mental, karena mental adalah batang karakter yang menjadi sumber tenaga jiwa seseorang. 

Langkah ketiga 

adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak yang disebut dengan terapi fisik, yang mendorong fisik menjadi pelaksana dari arahan akal dan jiwa. 

Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki jati diri (karakter). Dan hanya bangsa yang memiliki jati diri yang mampu mengangkat harga dirinya. Mari kita bangun jati diri bangsa ini, agar kita mampu mengangkat harga diri bangsa. 

Wallahu a’lam bish-showab. 

Maroji’ : Muhammad Anis Matta, Membentuk Karakter Cara Islam.

1 komentar: