Jumat, 05 Oktober 2012

IMAN DAN TAQWA LANDASAN UNTUK SUKSES

Kita diciptakan di dunia ini untuk satu hikmah yang agung dan bukan hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main. Tujuan dan himah penciptaan ini telah dijelaskan dalam firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَآأُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ إِنَّ اللهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (QS. 51:56-58)

Allah telah menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa tujuan asasi dari penciptaan manusia adalah ibadah kepadaNya saja tanpa berbuat syirik.Sehingga Allah pun menjelaskan salahnya dugaan dan keyakinan sekelompok manusia yang belum mengetahui hikmah tersebut dengan menyakini mereka diciptakan tanpa satu tujuan tertentu dalam firmanNya :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami. (QS. 23:115)

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main saja, namun diciptakan untuk satu hikmah. Allah tidak menjadikan manusia hanya untuk makan, minum dan bersenang-senang dengan perhiasan dunia, serta tidak dimintai pertanggung jawaban atas semua prilakunya didunia ini. Tentu saja jawabannya adalah kita semua diciptakan untuk satu himah dan tujuan yang agung dan dibebani perintah dan larangan, kewajiban dan pengharaman, untuk kemudian dibalas dengan pahala atas kebaikan dan disiksa atas keburukan (yang dia amalkan) serta (mendapatkan) syurga atau neraka.

Demikianlah seorang manusia yang ingin sukses harus dapat bersikap profesional dan proforsonal dalam mencapai tujuan tersebut, sebab sesungguhnya tujuan akhir seorang manusia adalah mewujudkan peribadatan kepada Allah dengan iman dan taqwa. Oleh karena itu orang yang paling sukses dan paling mulia disisi Allah adalah yang paling taqwa, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. 49:13)

Namun untuk mencapai kemulian tersebut membutuhkan dua hal :
  1. I’tishom bihablillah. Hal ini dengan komitmen terhadap syariat Allah dan berusaha merealisasikannya dalam semua sisi kehidupan kita. Sehingga dengan ini kita selamat dari kesesatan. Namun hal inipun tidak cukup tanpa perkara yang berikutnya, yaitu;
  2. I’tishom billah. Hal ini diwujudkan dalam tawakal dan berserah diri serta memohon pertolongan kepada Allah dari seluruh rintangan dan halangan mewujudkan yang pertama tersebut. Sehingga dengannya kita selamat dari rintangan mengamalkannya.
Sebab seorang bila ingin mencapai satu tujuan tertentu, pasti membutuhkan dua hal, pertama, pengetahuan tentang tujuan tersebut dan bagaimana cara mencapainya dan kedua, selamat dari rintangan yang menghalangi terwujudnya tujuan tersebut.

Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: Poros kebahagian duniawi dan ukhrowi ada pada I’tishom billahi dan I’tishom bihablillah dan tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang yang komitmen dengan dua hal ini. Sedangkan I’tishom bi hablillah melindungi seseorang dari kesesatan dan I’tishom billahi melindungi seseorang dari kehancuran. Sebab orang yang berjalan mencapai (keridhoan) Allah seperti seorang yang berjalan diatas satu jalanan menuju tujuannya. Ia pasti membutuhkan petunjuk jalan dan selamat dalam perjalanan, sehingga tidak mencapai tujuan tersebut kecuali setelah memiliki dua hal ini.

Dalil (petunjuk) menjadi penjamin perlindungan dari kesesatan dan menunjukinya kejalan (yang benar) dan persiapan, kekuatan dan senjata menjadi alat keselamatan dari para perampok dan halangan perjalanan. I’tishom bi hablillah memberikan hidayah petunjuk dan mengikuti dalil sedang I’tishom billah memberikan kesiapan, kekuatan dan senjata yang menjadi penyebab keselamatannya di perjalanan.

Oleh karena itu hendaknya kita menekuni bidang kita masing-masing sehingga menjadi ahlinya tanpa meninggalkan upaya mengenal, mengetahui dan mengamalkan ajaran islam yang merupakan satu kewajiban pokok setiap muslim. Agar dapat mencapai tujuan penciptaan tersebut dengan menjadikan keahlian dan kemampuan kita sebagai sarana ibadah dan peningkatan iman dan takwa kita semua.

Tentu saja hal ini menuntut kita untuk dapat mengambil faedah dan pengetahuan tantang syariat sebagai wujud syukur kita atas nikmat yang Allah anugerahkan. Semua itu agar mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang tunduk dan diatur dan mereka memiliki Rabb yang maha pencipta dan maha mengatur mereka.

Pengertian Iman dan Takwa

Apa arti Takwa? Kalimat takwa diambil dari rumpun kata wiqayah artinya memelihara. memelihara hubungan yang baik dengan tuhan. memelihara diri jangan sampai terpesorok kepada suatu perbuatan yang tidak diridhaikan oleh tuhan. Memeliharan segala perintahnya supaya dapat dijalalkan. Memelihara kaki jangan terpesorok ke tempat yang lumpur atau berduri. Sebab pernah ditanyakan orang kepada Rasulullah saw, Abu Hurairah ra, apa erti takwa? Beliau berkata: Pernahkah engaku bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakan mu waktu itu? Orang itu menjawab:- Apabila aku melihat duri, aku mengelak ke tempat yang tidak ada duri atau aku melangkahi atau aku mundur. Abu Hurairah menjawab:- Itulah dia takwa! (riwayat Dari Ibnu Abid Dunya).

Takwa adalah adalah perlaksanaan dari iman dan amal shalih. Mestipun di satu-satu waktu ada juga diartikan dengan takut, tetapi terjadi yang demikian ialah pada susunan ayat yang cenderung kepada arti yang terbatas itu saja. Padahal arti takwa lebih mengumpul akan banyak hal. bahkan dalam takwa terdapat juga berani! Memelihara hubungan dengan tuhan, bukan saja kerana takut, tetapi lebih lagi kerana ada kesadaran diri, sebagai hamba. Lalu diterangkan sifat atau tanda-tanda dari orang yang bertakwa itu, yang kita dapat menilik diri kita sendiri supaya memeunhinya dengan sifat-sifat itu.

Mereka yang percaya kepada yang ghaib, dan mereka yang mendirikan sembahyang, dan dari apa yang kami anugerahkan kepada mereka, mereka dermakan. Percaya kepada yang ghaib. Yang ghaib ialah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera; tidak nampak oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, iaitu dua pancaindera yang utama dari kelima pancaindera kita. Tetapi dia dapat dirasa adanya oleh akal. Maka yang pertama sekali ialah percaya akan adanya hari kemudian, iaitu kehidupan kekal yang sesudah dibangkit dari maut.

Iman bererti percaya, iaitu iaitu pengakuan hati yang terbukti dengan perbuatan yang diucapkan oleh lidah menjadi keyakinan hidup. Maka iman akan yang ghaib itulah tanda pertama atau syarat pertama dari takwa tadi.

Tersebut di dalam hadis sebuah hadis yang dirawikan oleh Imam Ahmad, ad-darimi, al-Baqawardi dan Ibnu Qani di dalam Majma’ush Shahabah dan ikut juga merawikan oleh Imam Bukhari di dalam Tarikhnya dan At Thabarani dan al-Hakim, mereka meriwayatkan daripada Abi Jumah al-Anshari:-Berkata dia (Abu Jumah al-Anshari):; Aku bertanya: ya Rasullulah saw:- Adakah suatu kaum yang lebih besar pahalanya daripada kami, padahal kami beriman kepada engkau dan kami mengikut akan engaku? Berkatalah beliau: Apalah akan halangannya bagi kamu (buat beriman kepada ku), sedang Rasulullah saw ada dihadapan kamu, dan datang kepada kamu wahyu(langsung) dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka kitab Allah yang ditulis diantara dua luh, maka merekapun beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut di dalamnya. Mereka itu adalah lebih besar pahalaanya daripada kamu.

Dan dikeluar pula oleh At-Thayalisi, Imam Ahmad dan Bukhari di dalam Tarikhnya, At Thabarani dan al-Hakim, mereka riwayatkan daripada Abu Umamah al_Baihili.Berkata dia (Abu Umamah) berkata Rasulullah saw. Bahagilah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku dan berbahagialah bagi siapa yang beriman , padahal dia tidak melihat aku. Hadis ini dikuatkan lagi oleh yang dirawikan Imam Ahmad. Ibnu Hibban dari Abu Said al-Khudri:- Bahawasanya seorang laki-laki berkata Rasulullah saw. Bahagia bagi siapa yang melihat engkau dan beriman kepada engkau. Beliau pun menjawab: bahagialah bagi siapa yang beriman kepadaku; dan berbahgialah bagi siapa yang beriman kepdaku, padahal dia tidak melihat aku.

Kita tidak melihat wajah belaiu. Bagi kita beliau adalah ghaib. Kita hanya mendengar berita dan sejarah atau bekas-bekas tempat beliau hidup di Makkah, namun bagi setengah orang yang beriman, demikian cintanya kepada Raulullah saw, sehingga dia merasa seakan-akan Rasulullah saw itu tetap hidup, bahkan kadang-kadang titik airmatanya kerana terkenang akan Rasulullah saw dan ingin hendak menjadi ummatnya yang baik dan patuh, ingin mengerjakan sunnahnya dan memberikan segenap hidup untuk melanjutkan agamanya. Maka orang beginipun termasuk orang yang mendalam keimanannya kepada yang ghaib.
Maka keimanan yang ghaib pun turut dengan sendirinya dengan mengerjakan sembahyang.

Pemantapan Iman dan Takwa

Masa depan ditentukan oleh umat yang memiliki kekuatan budaya yang dominan.Generasi pelopor penyumbang dibidang pemikiran (aqliyah), dan pembaruan (inovator), perlu dibentuk di era pembangunan.
 
Keunggulan generasi pelopor akan di ukur ditengah masyarakat dengan pengetahuan dan pemahaman (identifikasi) permasalahan yang dihadapi umat, dengan equalisasi mengarah kepada kaderisasi (patah tumbuh hilang berganti). Keunggulan ini di iringi dengan kemampuan penswadayaan kesempatan-kesempatan. Pentingnya menumbuhkan generasi pelopor menjadi relevansi tuntutan agama dalam menatap kedepan.

Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi. Usaha kearah pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang. Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam pembangunan bangsa itu sendiri.

Pemberdayaan lembaga adat, agama, perguruan tinggi, untuk meraih keberhasilan, mesti sejalan dengan kelompok umara’ yang adil (kena pada tempatnya). Pertemuan pendapat ilmuan dan para pengamat melalui dialog, penekanan amanah kepada pemegang kendali ekonomi, menyatukan gerak masyarakat disertai do’a (harapan) sebagai perpaduan usaha, menjadi pekerjaan mendesak meniti pengembangan pembangunan (development). Peran da’i ilaa Allah aktif menyokong mempertahankan nilai-nilai ruhaniyah sebagai modal dalam menghasilkan yang belum dimiliki. Generasi pelopor (inovator) pembangunan harus dipersiapkan supaya tidak lahir generasi pengguna (konsumptif) yang tidak produktif, yang merupakan benalu bagi bangsa dan negara.

Melemahnya Jati Diri

Kelemahan mendasar ditengah perkembangan zaman adalah melemahnya jati diri, dan kurangnya komitmen kepada nilai luhur agama yang menjadi anutan bangsa. Isolasi diri karena tidak berkemampuan menguasai “bahasa dunia” (politik, ekonomi, sosial, budaya, iptek), berujung dengan hilangnyapercaya diri. Kurangnya kemampuan dalam penguasaan teknologi dasaryang akan menopang perekonomian bangsa, dipertajam oleh kurangnya minat menuntut ilmu, menjadikan isolasi diri masyarakat bertambah tertutup. Kondisi ini akan menjauhkan peran serta di era-kesejagatan (globalisasi), dan akhirnya membuka peluang menjadi anak jajahan di negeri sendiri.

Sosialisasi pembinaan jati diri bangsa mesti disejalankan dengan pengokohan lembaga keluarga (extended family), dan peran serta masyarakat pro aktif menjaga kelestarian adat budaya (hidup beradat, di masyarakat Minangkabau adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah). Setiap generasi yang di lahirkan dalam satu rumpun bangsa wajar tumbuh menjadi kekuatan yang peduli dan pro-aktif menopang pembangunan bangsa.

Melibatkan generasi muda secara aktif menguatkan jalinan hubungan timbal balik antara masyarakat serumpun di desa dalam tata kehidupan sehari-hari. Aktifitas ini mendorong lahirnya generasi penyumbang yang bertanggung jawab, di samping antisipasi lahirnya generasi lemah.

Arus Globalisasi

Menjelang berakhirnya alaf kedua memasuki millenium ketiga, abad dua puluh satu ditemui lonjakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pesat. Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya. Era globalisasi adalah era perubahan cepat. Dunia akan transparan, terasa sempit seakan tanpa batas.

Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan jarak satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Arus globalisasi juga menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern.

Arus kesejagatan (globalisasi) secara dinamik memerlukan penyesuaian kadar agar arus kesejagatan tidak mencabut generasi dari akar budaya bangsanya. Sebaliknya arus kesejagatan mesti di rancang bisa merobah apa yang tidak di kehendaki.

Membiarkan diri terbawa arus deras perubahan sejagat tanpa memperhitungkan jati diri akan menyisakan malapetaka. Globalisasi menyisakan banyak tantangan (sosial, budaya, ekonomi, politik, tatanan, sistim, perebutan kesempatan menyangkut banyak aspek kehidupan kemanusiaan.

Globalisasi juga menjanjikan harapan dan kemajuan. Setiap Muslim harus ‘arif dalam menangkap setiap pergeser­an dan tanda-tanda perubahan zaman. Kejelian dalam menangkap ruh zaman (zeitgeist) mampu men- jaring peluang‑peluang yang ada, sehingga memiliki visi jauh ke depan.

Diantara yang menjanjikan itu adalah pertumbuhan ekonomi yang pesat. Pesatnya pertumbuhan ekonomi menjadi alat untuk menciptakan kemakmuran masyarakat.

Sungguh nikmat yang wajib disyukuri. “Lain syakartum la adzidannakum“. Yang mampu menjaga nikmat Allah (syukur), secara ekonomis dan politis mampu menjaga pertumbuhan ekonomi dan memelihara stabilitas kawasan, maka nikmat itu akan ditambah.

Bila tindakan tidak terpuji menjadi kenyataan, korupsi, kolusi, pemeliharaan lingkungan dilupakan, nikmat akan diubah menjadi bencana seperti krisis moneter (krismon) berkembang menjadi krisis ekonomi (krisek) seterusnya menjadi krisis total (kristal), yang telah melanda kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia sejak tahun 1998.
Namun di kawasan ini masih tersimpan potensi besar, berbentuk natural resource, dengan jumlah populasi penduduk yang besar dan menjanjikan tersedianya human power resources yang tinngi dimasa depan. Apa artinya semua ini? Kita akan menjadi pasar raksasa.

Pertanyaan perlu jawaban segera, “sudahkah kita siap mengha­dapi perubahan zaman yang cepat dan penuh tantangan ini?” Jawabannya segera melaksanakan kewajiban memper­siapkan generasi baru yang siap bersaing dalam era global terse­but dengan memadukan seluruh potensi yang ada.

Karena itu, perlu sekali penjalinan kerja sama lembaga-akademik dengan penggunaan fasilitas akan mendorong penelitian terhadap perubahan yang terjadi dan memberikan petunjuk dalam menggali ekoteknologi yang memiliki kearifan ramah lingkungan.

Konsekwensinya wajib ditanamkan keyakinan bahwa apa yang ada sekarang, sebenarnya menjadi milik generasi mendatang. Generasi kini berkewajiban memelihara secara utuh nilai-warisan yang akan diserahkan secara estafeta kepada generasi pengganti, secara yang lebih baik dan lebih sempurna. Tujuan yang hendak dicapai adalah terwujudnya kesejahteraan dengan adil melalui program pembangunan merata yang perlu disertai prinsip jelas, equiti berkesinambungan, sehingga partisipasi tumbuh dari bawah sehingga setiap individu di dorong maju, aman dan terjamin kesejahteraan.

Perancangan pembangunan arus bawah di hidupkan dengan pendekatan holistik(holistic approach). Sasaran berikut pemantapan jati diri bangsa dan bernegara untuk memperkuat interaksi kesejagatan. Pemberdayaan institusi (lembaga) kemasyarakatan yang ada (adat, agama, perguruan tinggi), dalam meraih keberhasilan, mesti disejalankan dengan kelompok umara’, penguasa yang adil (kena pada tempatnya. Dari sini akan dirasakan spitrit reformasi. 
Mengantisipasi perkembangan kedepan melahirkan keharusan memelihara gerak pertumbuhan dari bawah (bottom-up). Usaha nyata di kembangkan melalui ekonomi keluarga dengan memfungsikan kekuatan ekonomi pasar dimulai dari pedesaan. Yang akan memimpin orang banyak adalah yang bisa berbuat banyak untuk orang banyak itu. 

Ada pula kewajiban untuk membentuk Sumber Daya Umat (SDU) yang bercirikan kebersamaan dengan nilai asas “gotong royong”, berat sepikul ringan sejinjing, atau prinsip ta’awunitas. 

Betapapun krisis tengah melanda Indonesia sebagai bahagian dari kawasan Asia Tenggara, namun sebagai bangsa yang besar semestinya bersikap optimis dengan dorongan semangat besar bahwa bangsa (kawasan) ini akan menjadi pusat kegiatan di masa datang, dalam penguasaan ekonomi ataupun intelektual menghadapi percaturan abad ke duapuluh satu.

Suatu kenyataan selama ini instalasi kekuatan ekonomi terpegang jumlah terkecil (selected minority) dari pelaku ekonomi dan menguasai kebutuhan mayoritas penduduk di pedesaan.

Apabila masyarakat pedesaan dengan kekuatan kecil ini mampu dibangkitkan peran sertanya dalam penguasaan kebutuhan primer terbesar masyarakat, maka adalah suatu keniscayaan semata bangsa ini akan dapat bergerak secara pasti menjadi umat yang di perhitungkan.

Upaya intensif ini semestinya menjadi penggiring Sumber Daya Umat dengan tetap bertumpu kepada science dengan nilai agama dan budaya, dan secara tegas tidak terjatuh kepada sikap-sikap non-science. Tugas ini perlu di emban secara terpadu. 

Kecemasan di tengah perkembangan zaman (era globalisasi) tampilnya generasi yang belum siap memerankan tugas di masa depan. Gejala itu terlihat dari banyaknya generasi bangsa yang terdidik menjadi ikut pengembang prilaku non-science seperti kecenderungan kepada hal-hal yang berbau mistik, paranormal, pedukunan, penguasaan kekuatan jin, budaya lucah, pergaulan bebas, free sex, kecanduan ectacy (XTC), menjadi konsumen setiapenanyangan pornografi (VCD,Internet,booklet,majalah), ditengah-tengah berkembangnya iptek. Gejala ini tampil kepermukaan pergaulan dan tidak jarang telah dipermudah oleh kemajuan teknologi informasi dan produk cyber space.

Kecemasan lain adalah tumbuhnya pemenuhan keinginan non- selektif (mubazir., wasted), peniruan gaya hidup tidak berukuran. Tindakan non-ekonomis ini jangka pendek berdampak menghambat kesiapan menatap masa depan. Kondisi ini terjadi lebih banyak dikarenakan kurangnya interest terhadap agama dan karena mulai meninggalkan puncak-puncak budaya yang diwarisi. Situasi masyarakat yang mulai kehilangan ukuran pantas dan patut, diperberat oleh tindakan para pemimpin formal dan non-formal yang seringkali banyak terpaut pada pengamalan tradisional dan non-science tersebut.

Problematika sosial dan prilaku ini hanya bisa diatasi dengan memeliharakemurnian Akidah (paradigma tauhid) agar tidak terjadi pemahaman agama yang campur aduk, dan tidak pula terjerumus kepada pengamalan kehidupan materialis yang berakhir dengan hedonistik. 

Kecemasan lain ada sebahagian generasi yang bangkit kurang menyadari tempat berpijak. Pada kawasan yang tengah berkembang memang lazim ditemui pemeranankolektivitas lebih mengedepan daripada aktivitas individu. Solusinya dapat diatasi dengan menyatukan gerak langkah tetap memelihara sikap harmonis guna menghindari eksploitasi dalam hubungan bermasyarakat. Implementasi konsep aktual sangat penting dikembangkan melalui research untuk membentuk kondisi.

Masalah-masalah manusia dalam kehidupan modern adalah munculnya dampak negatif (residu), mulai dari berbagai penemuan teknologi yang berdampak terjadinya pencemaran lingkungan, rusaknya habitat hewan maupun tumbuhan, munculnya beberapa penyakit, sehingga belum lagi dalam peningkatan yang makro yaitu berlobangnya lapisan ozon dan penasan global akibat akibat rumah kaca.

Tidakkah kita belajar dari pohon, daun yang gugur karena sudah tua apakah tidak menjadikan residu yang merugikan tetapi justru bermanfaat bagi kesuburan pohon itu sendiri, ini menyiratkan perlunya teknologi yang ramah lingkungan dan meminimalisasi dampak lingkungan yang di timbulkannya. manusia juga tidak melihat di dalam kegelapan seperti kelelawar, namun akal manusia yang dapat menciptakan lampu, untuk mengatasi kelemahan itu.

Manusia tidak mampu lari seperti kuda dan mengangkat benda-benda berat seperti sekuat gajah, namun akal manusia telah menciptakan alat yang melebihi kecepatan kuda dan sekuat gajah. Kelebihi manusia dengan mahkluk lain adalah dari Akalnya. Sedangkan dalam bidang ekonomi kapitalisme-kapitalisme yang telah melahirkan manusia yang konsumtif, meterialistik dan ekspoloitatif. 

Paradigma Tauhid

Paradigma tauhid, laa ilaaha illa Allah, mencetak manusia menjadi ‘abid, hamba yang mengabdi kepada Allah dalam arti luas, berkemampuan melaksanakan ajaran syar’iymengikuti perintah Allah dan sunnah Rasul Allah, untuk menjadi manusia mandiri (self help), sesuai dengan eksistensi manusia itu di jadikan.

Manusia pengabdi (‘abid) adalah manusia yang tumbuh dengan Akidah Islamiah yang kokoh. Akidah Islamiah merupakan sendi fundamental dari dinul Islam, dan titik dasar paling awal untuk menjadikan seorang muslim. 

Akidah adalah keyakinan bulat tanpa ragu, tidak sumbing dengan kebimbangan, membentuk manusia dengan watak patuh dan ketaatan yang menjadi bukti penyerahan total kepada Allah.Akidah menuntun hati manusia kepada pembenaran kekuasaan Allah secara absolut. Tuntunan Akidah membimbing hati manusia merasakan nikmat rasa aman dan tentram dalam mencapai Nafsul Mutmainnah dengan segala sifat-sifat utama.

Manusia berjiwa bersih (muthmainnah) selalu memenuhi janjinya terhadap Allah (Yang Maha Menjadikan), dan tidak pernah merusak perjanjian dengan Allah dalam melaksanakan semua perintah Allah secara konsekwen, serta berupaya membina diri untuk tidak mencampurkan iman dengan kedzaliman (syirik). Konsistensi istiqamah adalah sikap yang tidak mencampur-baur keimanan dan kemusyrikan dalam mengamalkan syari’at Islam secara tidak terputus ibarat akar dengan pohonnya.

Karena itu, sangat mustahil bagi muslim untuk hidup dengan tidak memiliki iman (Akidah) secara benar. Hakikinya tanpa Akidah tidak ada artinya seorang muslim. Akidah Islamiah ialah Iman kepada Allah dengan mengakui eksistensiNya (wujudNya). Akidah adalah landasan utama (dasar) Dinul Islam yang bersifat Abadi dan Universal (tidak berubah sepanjang masa).

Konsekwensi misi risalah, menempatkan Allah pada titik Centris atau pusat dari segala-galanya, mewajibkan semua makhluk untuk menempatkan kepatuhan, mono loyalitas kepada Allah semata.

Dengan paradigma tauhid secara mudah dapat dipahami posisi ibadah dalam spirit penghambaan kepada Allah bukan dalam pengertian sempit semata-mata tetapi secarakonsisten penuh keikhlasan melaksanakan semua perintah-perintah Allah tanpa reserve dengan penuh disipilin diri mencari redha Allah.

Sikap tawakkal merupakan konsekwensi dari ikhtiar dan usaha yang keduanyaberjalin berkulindan merupakan mekanisme terpadu dalam kerangka kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa dan Agung. Keyakinan tauhid mengajarkan kesadaran mendalam bahwa Allah selalu ada disamping manusia. Karena itu keyakinan iman dan taqwa mampu menepis rasa takut untuk berbuat dan gentar menghadapi resiko hidup.

Apabila Akidah tauhid telah hilang, dapat dipastikan akan lahir prilaku fatalistisdengan hanya menyerah kepada nasib sambil bersikap apatis dan pesimis. Sikap negatif ini adalah virus berbahaya bagi individu pelopor penggerak pembangunan. Keyakinan tauhid secara hakiki menyimpan kekuatan besar berbentuk energi ruhaniah yang mampu mendorong manusia untuk hidup inovatif.

Mantapnya pemahaman agama dan adat budaya (tamaddun) dalam perilaku seharian jadi landasan dasar kaderisasi re-generasi. Usaha kearah pemantapan metodologi pengembangan melalui program pendidikan dan pelatihan, pembinaan keluarga, institusi serta lingkungan mesti sejalin dan sejalan dengan pemantapan Akidah Agama pada generasi mendatang. Political action berkenaan pengamalan ajaran Agama menjadi sumber kekuatan besar menopang proses pembangunan melalui integrasi aktif, dimana umat berperan sebagai subjek dalam pembangunan bangsa itu sendiri.

Problematika sosial dan prilaku ini hanya bisa diatasi dengan memeliharakemurnian Akidah (paradigma tauhid) agar tidak terjadi pemahaman agama yang campur aduk, dan tidak pula terjerumus kepada pengamalan kehidupan materialis yang berakhir dengan hedonistik. 

Permasalahan-permasalahan yang ada di era globalisasi sekarang yang banyak menyimpang dari aturan agama khususnya di Indonesia sangat miris sekali. Yang diperlukansekarang adalah generasi muda yang handal, dengan daya kreatif, inno­vatif, kritis, dinamis, tidak mudah terbawa arus, memahami nilai‑nilai budaya luhur, siap bersaing dalam knowledge based society, punya jati diri yang jelas, memahami dan mengamalkan nilai‑nilai ajaran Islam sebagai kekuatan spritual. Kekuatan yang memberikan motivasi emansipatoris dalam mewujudkan sebuah kemajuan fisik‑material, tanpa harus mengorbankan nilai‑nilai kemanusiaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar