Selasa, 23 Oktober 2012

ETIKA BERDOA

Tiada Kata Seindah Doa

Sesegar apapun tubuh manusia, seketika ia terjatuh mati saat otak menjumpai ajalnya. Aktifitas yang sehat akan terlaksana dengan baik bila otak masih berstamina. Jikalau aktifitas-aktifitas duniawi manusia hanyalah nonsen dan hampa tanpa ibadah kepada Sang Pencipta, maka doa lah yang menjadi otaknya. Tanpa doa, semu jua ibadah-ibadah kita.Sungguh benar sabda Baginda "al-Du'a' mukhkhul-ibadah". Bagaimana tidak, sebab kita tidak memiliki apa-apa jika Tuhan belum memberinya.

 Kita tak sanggup kemana-mana jika Tuhan belum menunjukinya. Sekeras apapun usaha hamba, ia masih memerlukanNya, ia masih perlu berdoa dan banyak berdoa.Tatkala hamba masih mengandalkan usaha kerasnya, dan telah lupa akan kuasaNya, maka yakinlah, usaha itu tak sekeras kepalanya! Ia telah angkuh secara terang-terangan di hadapanNya. Bukankah Tuhan sendiri bertitah dalam firmanNya: "Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Jahannam dalam keadaan hina dina".Tiada kata seampuh doa.

Segala ibadah, doa otaknya. Bayangkan saja, setebal apapun takdir bakuNya, hanya doa mampu menembusnya! Rasul bersabda: "La yarud al-qadha' illa al-du'a'", "al-Du'a' silah al-mukmin". Untuk menembus suratan-suratan takdir, dan merubah segala yang negatif padanya, doa lah senjata satu-satunya!.Etika Berdoa.Dalam momen apapun, etika selalu yang utama. Setiap orang yang berhajat pada manusia, ia akan melindungi etika agar terpenuhi hajatnya. Padahal, manusia teramat lemah untuk memberi, menerima, bahkan menyapa. Bagaimana ketika Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa menjadi obyek permohonan kita? Sudahkah etika dijaga?!Wali-wali Allah yang telah menguasai seni etika dalam berdoa, telah mengajarkan banyak hal yang harus diperhatikan sewaktu memohon kepadaNya. Salah satu mereka adalah Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi (Syekh Thariqah Dusuqiyah Muhammadiyah). Beliau telah menasehati murid-muridnya...
  1. Kalau belum ditimpa musibah, jangan berdoa dengan "Allahumma ij'alni min al-Shabirin" (Ya Allah, jadikanlah hambaMu orang yang sabar) karena doa itu berarti: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini musibah agar hamba dapat bersabar! Jika sering berdoa seperti itu maka artinya kita mengharap musibah yang sebanyak-banyaknya!Sebaiknya kita sering berdo'a dengan "Allahumma ij'alni min al-Syakirin" (Ya Allah, jadikanlah hambaMu ini orang yang pandai bersyukur) karena itu artinya: Ya Allah, berikanlah hambaMu ini nikmat agar hamba dapat mensyukurinya. Dengan sering berdoa seperti itu maka kita akan mendapat nikmat yang sebanyak-banyaknya (Amien!).
  2. Janganlah memohon perlindungan Allah dari kedengkian orang-orang kepada kita! sebab semua nikmat dan rizki itu pasti mendapat kedengkian dari orang lain, Rasulullah Saw. pernah bersabda: "Setiap yang mendapat nikmat pasti ada yang dengki padanya". Jika kita tidak mau didengki orang maka sama artinya kita tidak menginginkan rizki dan nikmat! Mintalah dari Allah agar dilindungi dari kejahatan orang-orang yang dengki, jangan minta dihindarkan dari kedengkian mereka itu sendiri. Katakanlah: Ya Allah, jagalah hambaMu ini dari kejahatan para pendengki dan jagalah hati hambaMu ini dari sifat dengki itu sendiri.
  3. Doa itu faridlah (kewajiban), sementara terkabulnya doa hanyalah hibah (anugerah). Wajib bagi kita berdoa, dan tidak wajib bagiNya mengabulkan doa. Dikabulkan atau tidak, sepenuhnya terserah Dia, karena Allah bukan pelayan restoran. Allah Swt. adalah Tuhan yang berhak memberi atau tidak. Kita selaku hamba yang hina hanya wajib mengemis dan meminta. Jika terkabul, maka semata-mata karuniaNya. Jika tidak, maka wajar-wajar saja, sekali lagi Dia Tuhan, bukan suruhan kita.
  4. Berdoalah dengan penuh optimisme. Mintalah dari Allah sesuai keyakinanmu akan kekuasaanNya. Percayalah bahwa Ia Maha Kuasa atas segala-galanya. Sedangkan kita pun tercipta dari tiada, apakah Ia tak sanggup memberi kita walau sekedar dari yang ada?!
  5. Jangan lupa diri! Kita masih penuh dosa. Ketika berdoa, jangan lupa bertwassul kepadaNya melalui Nabi, Sahabat, Ahlul-Bait dan Auliya'Nya. Sebab posisi mereka di sisiNya, tak butuh kata-kata.
  6. Imam Ali Ra. pernah menyatakan: "Semua doa akan mogok di langit sampai ia diiringi selawat kepada Nabi Muhammad Saw. dan Ahlul-Bait". Sertai dan indahkanlah doa-doa kita dengan selawat.
  7. Kuat berdoa tanpa diiringi usaha yang maksimal serta amal shalih yang cukup, sungguh tercela!
  8. Tidak etis bahkan dilarang keras meminta hal-hal yang melampaui batas, semisal: Ya Allah jadikanlah hambaMu ini nabi! atau mala'ikat!.
  9. Carilah saat-saat berlian untuk berdoa, seperti tengah malam, bulan Ramadan, malam nishfu Sya'ban, Lailatul-Qadr (malam 27 Ramadan), sewaktu wukuf di Arafah dan lain sebagainya. Carilah juga tempat-tempat mulia seperti Ka'bah, maqam Rasulullah, maqam Ahlul-Bait dan para wali. Allah Swt. menceritakan dalam suta Ali Imran ayat 37-39 bahwa doa Saidina Zakaria saja (sebagai nabi) baru terkabul sewaktu berdoa di mihrab Siti Maryam (yang sebatas wali perempuan). Bagaimana ketika kita (yang bukan wali, nabi atau rasul) berdoa di maqam seorang wali atau maqam Junjungan alam semesta ?!?
  10. Antara Ijabah dan Istijabah. Dalam al-Qur'an cukup jelas perbedaan antara ijabah dan istijabah. Maulana Syekh Mukhtar Ali Muhammad al-Dusuqi telah mengupasnya secara detail dalam surat kabar al-Fajr edisi 2 Oktober 2006, dan dalam surat kabar al-Buhairah wal-Aqalim edisi 195 tahun 2006. Terang beliau, istijabah ialah terkabulnya doa secara fleksibel, bergantung pada kehendak Allah seutuhnya; entah ditunda, diberi kurang, atau diganti dengan yang lebih baik di sisiNya. Sedangkan ijabah ialah terpenuhinya doa persis sesuai permintaan hamba. Tentunya ijabah lebih kita harapkan!Singkatnya, istijabah akan selalu diperoleh selagi kita masih berdoa tanpa melalui tawassul, karena Allah berfirman: "Ud'uni astajib lakum". Sementara ijabah akan diraih jika melalui tawassul kepada Rasulullah Saw. dimana beliau lah yang nanti akan memintakan hajat kita kepada Allah Swt. dan tentunya doa beliau 100% mujab. Allah Berfirman: "Wa idza sa'alaka ibadi anni fa inni qaribun ujibu da'wata al-da'i idza da'ani". "Idza" dalam ayat di atas adalah adat syarat. Fi'il syaratnya adalah "sa'alaka". Maka jawab syaratnya adalah "fa inni qarib". Sehingga Allah akan meng-ijabah doa RasulNya ("al-Da'i") untuk kita, jika kita memenuhi syaratnya, yakni bertawassul dengan Rasulullah Saw.Ayat di atas menyimpulkan bahwa syarat kedektan ("Qarib") Allah kepada kita adalah apabila kita meminta / berdoa ("Sa'alaka") melalui Rasulullah Saw. yang kemudian beliau memintakan hajat kita kepada Allah secara personality, dan Allah tentu meng-ijabah doa Baginda kalau saja beliau sudi berdoa untuk kita ("Ujibu da'wata al-Da'i idza da'ani").
Bila diperhatikan, makna di atas cukup senada dengan ayat 64 surat al-Nisa' yang berarti: "Dan jikalau mereka menganiaya diri sendiri lalu mereka (1) datang kepada Rasul, dan (2) memohon ampun kepada Allah, kemudian (3) Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, maka tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".Ayat di atas jelas menegaskan bahwa untuk melancarkan proses penerimaan taubat pun harus melalui istighfarnya Rasulullah Saw.

Di sini kita perlu mengetahui perbedaan antara Ghaffar dan Tawwab. Ghaffar adalah mengampuni dosa hamba tapi tidak memeliharanya dari dosa itu lagi. Adapun Tawwab ialah mengampuni dosa hamba sekaligus menjaganya dari kembali ke dosa lagi.Allah berfirman: "Istaghfiru Rabbakum innahu kana Ghaffara". Allah akan berlaku Ghaffar terhadap kita apabila kita beristighfar kepadaNya secara langsung tanpa melalui Rasul. Allah Swt. baru berlaku Tawwab tatkala kita mendatangi (mewasilahi) Rasulullah Saw. sebagaimana ayat 64 surat al-Nisa' di atas. Dan apabila kita enggan mendatangi beliau maka Allah berfirman: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: "marilah agar Rasulullah memintakan ampun bagimu", mereka berpaling dan menyombongkan diri, maka sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan bagi mereka atau tidak, Allah tidak akan sudi mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah ogah memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Kembali ke ijabah dan istijabah. Terdapat cara / keadaan lain untuk mendapatkan ijabah, yaitu apabila berdoa dalam keadaan gawat alias darurat (dalam kesulitan yang amat sangat). Allah Swt. berfirman: "Siapakah selain Allah yang akan meng-ijabah doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepadaNya".

Doa adalah makanan kita sehari-hari. Doa kita adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik, penghilang nestapa, mencapai semua hasrat dan angan kita. Dan Alhamdulillah ternyata doa itu mudah asalkan kita tahu caranya. Ayo kita gunakan waktu kita untuk banyak berdoa sebelum semuanya terlambat. Ayo kita jadikan diri kita sebagai pembawa rahmat dan berkah. Kita jaga mulut dan tangan kita meskipun hanya di FB. Ayo kita berikan yang terbaik bagi diri kita dan orang lain. Jangan hanya pandai mengkritik tanpa pernah berbuat apapun. Karena semuanya akan terbalas sekecil apapun perbuatan kita. Jangan pula menyinggung perasaan orang lain, karena keburukan akan kembali kepada kita.


ETIKA BERDOA


Dalam berdoa, ada etika yang ahrus dipenuhi agar setiap permohonan kita dikabulkan oleh ALlah SWT.
Adapun etika berdoa, kita ambil saja langsung dari ayat Suci Al Qur'an dengan beberapa poin di bawah ini.

Setidaknya ada 3 point penting yang menjadi cikal bakal terkabulnya doa yang kita panjatkan.

Etika dalam berdoa adalah:

1. Ikhlas.

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ ٢٩

Artinya: Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu[533] di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)".
(QS. Al-A'raf: 29)

[533] Maksudnya: tumpahkanlah perhatianmu kepada sembahyang itu dan pusatkanlah perhatianmu semata-mata kepada Allah.

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ ٢٢

Artinya: Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), Maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan Kami dari bahaya ini, pastilah Kami akan Termasuk orang-orang yang bersyukur".
(QS. Yunus: 22).

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ٦٥

Artinya: Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya[1158]; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)
(QS. Al-Ankabuut: 65).

[1158] Maksudnya: dengan memurnikan ketaatan semata-mata kepada Allah.

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ ٣٢

Artinya: "Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus[1186]. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar."
(QS. Luqman: 32).

[1186] Yang dimaksud dengan jalan yang Lurus Ialah: mengakui ke-esaan Allah.
فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ١٤

14. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).
(QS. AL-Mu'min: 14).
هُوَ الْحَيُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٦٥)

Artinya: Dialah yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."
(QS. Al-Mu'min: 65).

2. Berdoa dengan Suara Pelan.
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ٥٥

Artinya: "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas[549]."
QS. Al-A'raf: 55).

[549] Maksudnya: melampaui batas tentang yang diminta dan cara meminta.

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ ٢٠٥

Artinya: "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu Termasuk orang-orang yang lalai."

QS. Al-A'raf: 205).

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا ١١٠

Artinya: Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[870] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
(QS. Al-Israa': 110).

[870] Maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma'mum.

3. Mengulang-ulang Doa.

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ ٤٥

Artinya: Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."

QS. Huiud: 45).

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا ٤

Artinya: ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku."

(QS. Maryam: 4).

Itulah etika berdoa yang telah diajarkan Allah SWT melalui Rasululah SAW kepada kita semua.

Jadi sedapat mungkin, jangalah menyerah untuk berdoa kalau permohonan kita belum dikabulkan oleh Allah SWT. Jelas dalat Al Qur'an kita disuruh untuk mengulang-ulang doa meskipun sampai ubanan ya harus tetap berdoa biar bisa terkabul.

YANG MENGHANCURKAN KEMUSTAJABAN DOA

Betapa banyaknya orang yang berdoa sambil menghancurkan kemustajaban doanya sendiri. Dia mengira, berdoa hanya sebatas ibadah verbal alias kata-kata. Dia lupa, bahwa Allah menilai keseriusan doa itu sampai ke perbuatannya. Bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa seseorang, ketika perbuatan orang itu berlawanan dengan kata-katanya?

Menurut Anda, apakah Allah akan mengabulkan doa seseorang yang berdoa minta sehat, sementara setiap saat dia tidak menjaga kesehatannya? Setiap pagi sampai malam makannya berlebihan. Kandungan gizinya juga sangat buruk, penuh kolesterol, purin, gula kadar tinggi, dan berbagai toksin kesehatan. Juga tidak pernah berolahraga, ritme hidupnya tidak beraturan, dan selalu negative thinking dalam bersikap. Singkat kata, pola makan dan pola hidupnya buruk. Mustajabkah doanya?

Menurut Anda, akan terkabul jugakah jika kita berdoa minta rezeki, tetapi sambil bermalas-malasan? Memutuskan hubungan silaturahim, yang kata Nabi adalah sebagai jembatan datangnya rezeki. Tidak mau belajar untuk memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh lingkungannya. Tidak bisa bekerjasama dengan orang lain dalam bekerja. Dan segala sikap, yang justru menyebabkan pintu-pintu rezekinya tertutup. Bakal dikabulkankah doa yang dia lantunkan sepanjang pagi sampai malam untuk memperoleh rezeki?

Menurut Anda, akan dikabulkankah doa orang ini: ia ingin hidupnya damai penuh kebahagiaan, tetapi setiap hari kerjaannya mencari musuh. Dengan tetangga bertengkar. Dengan istri atau suami bertengkar. Dengan anak-anaknya juga suka bertengkar. Dan kepada siapa saja tidak bisa berprasangka baik. Akankah Allah memberikan kedamaian hidup kepadanya?

Sahabat, seringkali kita salah kaprah dalam berdoa. Kita mengira doa hanya sabatas kata-kata. Padahal doa adalah sebuah permohonan yang diekspresikan secara total kepada Sang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana. Berdoa dengan hati, berdoa dengan pikiran, berdoa dengan mulut, dan berdoa dengan perbuatan, seluruhnya menyatu dalam permohonan yang tulus kepada Allah. Dia sungguh Maha Mengetahui siapa-siapa yang berdoa dengan sungguh-sungguh. Bukan ’pura-pura’, atau hanya formalitas belaka.

Begitu sering kita mendengar doa yang sangat panjang. Kadang sampai lebih dari satu jam. Segala macam dimintanya kepada Allah. Mulai dari rumah, mobil, istri, anak, saudara, sahabat, tetangga, bisnis, sampai kekuasaan. Setelah itu dia berdiam diri, atau setidak-tidaknya tak melakukan usaha keras untuk mencapai isi doanya. Dan, lebih suka menunggu datangnya ’keajaiban’ dari Tuhan Yang Maha Pemurah… :(

Ada dua hal yang mesti kita introspeksi dari doa yang semacam itu. Yang pertama, kita terkesan serakah. Segala macam diminta. Dan yang kedua kita tidak serius dalam berdoa, karena hanya berharap kepemurahan-Nya tanpa melakukan usaha yang sesuai. Kata orang sekarang: bossy, alias sok ’ngeboss’ – tinggal suruh sana suruh sini. Padahal yang dihadapinya adalah Tuhan. Jangan memerintah Tuhan, sehalus apa pun..! Karena Allah ’lebih suka’ membantu usahaAnda, daripada mengabulkan orang yang tidak punya etika dalam berdoa karena hanya ’main perintah’ kepada Tuhannya. Jangan salah mempersepsi dan bersikap atas sifat Maha Pemurah-Nya…

QS. Al Israa’ (17): 20

Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini (yang berusaha mengejar dunia) maupun golongan itu (yang berusaha meraih akhirat) Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Doa yang hanya ’bermodal’ kata-kata, seringkali tidak mustajab. Kecuali orang-orang yang tak berdaya atau sedang teraniaya. Allah sangat memperhatikan hamba-hamba-Nya yang sedang menderita itu. Tetapi, bagi yang cuma suka ’main perintah’ dan mendikte Tuhan, siap-siaplah ’gigit jari’… :)

Berdoa yang hanya verbal, memiliki berbagai syarat agar terkabul. Memang Allah Maha Mengabulkan doa. Dan selalu memotivasi kita untuk berdoa hanya kepada-Nya. Akan tetapi jika tidak terpenuhi syaratnya, tentu saja doa itu menjadi tidak terkabulkan dengan sendirinya.

QS. Al Baqarah (2): 186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Akumengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itumemenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman (yakin) kepada-Ku, mudah-mudahan mereka berada di jalan yang benar (on the right track).

Allah sangat dekat dengan kita. Dan Dia akan mengabulkan doa semua orang yang memohon hanya kepada-Nya.Asalkan: memenuhi segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta beriman alias yakin kepada-Nya. Dan, dua persyaratan itu masih ditutup dengan kalimat: mudah-mudahan mereka menjalankannya dengan benar.

Jadi, sudah diberi syarat harus total dalam berdoa (bukan hanya verbal), masih ditambahi dengan ungkapan ’mudah-mudahan’ sudah benar caranya. Artinya, terkabulnya sebuah doa yang hanya sebatas ’kata-kata permohonan’ itu masih jauh dari dikabulkan. Berbeda dengan orang yang berdoa dengan cara ’bersyukur’.

Apakah bersyukur itu termasuk doa? Ternyata, iya. Karena kepada orang yang bersyukur, Allah berjanji akan menambahkan kenikmatan baginya. Sesuai dengan firman-Nya yang sangat populer berikut ini.

QS. Ibrahim (14): 7

Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Jadi, orang yang bersyukur, ia sebenarnya sedang berdoa kepada Allah tanpa menggunakan kalimat meminta. Apalagi kalimat perintah. Karena, Allah menjanjikan kepada kita bahwa siapa saja bersyukur, otomatis Dia akan menambahkan barokahnya.

Jadi, jika Anda mensyukuri rezeki-Nya yang telah dikaruniakan kepada Anda, maka Allah akan menambahkan kenikmatan atas rezeki itu. Seketika. Yakni, saat Anda dijalari oleh perasaan syukur yang sesungguhnya. Tapi, jika syukurnya hanya pura-pura, tentu saja Anda tidak akan merasakan kenikmatannya. Dan, ketika Anda merasa nyaman serta merasa nikmat dengan rasa syukur itu, otomatis Anda sedang positive thinking kepada segala variabel kebaikan di sekitar Anda.

Maka, saat itu juga segala faktor kebaikan akan mendatangi Anda, dan menjadikan kebaikan itu berlipat ganda. Ini sudah dibuktikan oleh penelitian psikologi modern, bahwa positive thinking dan positive feeling ternyata akan memicu bekerjanya mekanisme positip alam semesta yang disebut sebagai servo-mechanism alam bawah sadar. Atau yang dalam Islam disebut sebagai sunnatullah. Bahwa getaran positip akan meresonansi variabel-variabel positip alias kesuksesan, dan sebaliknya getaran negatip akan memicu aktifnya variabel-variabel negatip alias kegagalan.

QS. Asy Syuura (42): 23

… Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (membalas kebaikan).

QS. Luqman (31): 12

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Maka, bersyukur memiliki kemustajaban lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang berdoa sekedar meminta dengan kata-kata. Karena, bersyukur adalah ungkapan tulus dari hati yang paling dalam, terucap dalam kata-kata, dan kemudian dijalankan dengan perbuatan. Karena itu, Allah berfirman di dalam Al Qur’an bahwa cara bersyukur yang baik adalah pengakuan tulus atas Kepemurahan Allah yang diikuti dengan kerja keras.

QS. Saba’ (34): 13

… Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang (bisa)berterima kasih.

Kalau kita mencermati QS. 14: 7, maka kita akan memperoleh informasi tentang kepastian bahwa Allah akan memberikan tambahan kenikmatan kepada orang yang bersyukur: la insyakartum la aziydannakum ~ jika kamu benar-benar bersyukur, Aku benar-benar akan menambahkan (apa yang kamu syukuri itu).

Penggunaan kata ’la’ pada ayat di atas adalah bersifat penegasan, bahwa siapa bersyukur dengan sungguh-sunguh,pasti Allah aka menambahkan nikmat kepadanya. Tanpa syarat lagi. Ini berbeda dengan orang yang berdoa alias ’memohon’ secara verbal. Tidak ada kepastian akan dikabulkan, kecuali telah memenuhi syarat dalam berdoa.

Jadi, bersyukur menjadi pilihan cara berdoa yang lebih baik dibandingkan dengan sekedar berdoa verbal. Sehingga, kalau Anda ingin sehat, sebenarnya nggak usah banyak-banyak berdoa secara verbal kepada Allah, cukup banyak-banyaklah bersyukur kepada-Nya atas kesehatan yang telah Anda terima sambil terus menjaga pola makan dan pola hidup Anda. Maka, pasti Allah akan menambahkan kualitas kesehatan Anda. Karena sudah berbuat sesuai dengan sunnatullah.

Jika Anda ingin rezeki yang membahagiakan, juga nggak usah berdoa dengan cara memohon kepada-Nya sambil menunggu ’keajaiban’ tanpa mengusahakannya. Karena Allah lebih suka membantu orang yang bekerja keras mencari rezeki-Nya sambil terus bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Dan seterusnya. Dan sebagainya.

Dan, yang paling hebat dibandingkan dengan kedua cara di atas adalah berdoa dengan melakukan ’amal kebajikan’. Tidak pakai memohon atau apalagi memerintah Allah, melainkan langsung beramal kebajikan sebanyak-banyaknya. Maka, Allah berjanji memberi balasan berlipat ganda di sisi-Nya, tanpa hitungan lagi.

QS. Al Mukmin (40): 40

… Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab (tanpa hitungan).

QS. Saba’ (34): 37

… orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yangberlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (derajatnya).

Maka, doa adalah sebuah harapan akan pertolongan Allah yang disampaikan dengan sepenuh hati dan setulus-tulusnya, disertai dengan usaha untuk menggapainya sambil bertawakal kepada-Nya.

QS. Alam Nasyrah (94): 7-8

Maka apabila kamu telah selesai (mengerjakan suatu urusan), (segera) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh(urusan) yang lain, dan (hasilnya) hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

QS. Ash Shaaffaat (37): 61

Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.

Wallahu a’lam bishshawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar