Senin, 23 Juni 2014

INTRSPEKDI DIRI

Dalam perjalanan hidup di dunia, tentunya seorang muslim tidak akan lepas dari kesalahan dan dosa sebagai akibat hawa nafsu yang diperturutkan. Selain itu, buah pemikiran yang dihasilkan manusia, yang dibangga-banggakan oleh pemiliknya, tidak jarang yang menyelisihi kebenaran, tidak sedikit yang bertentangan dengan ajaran yang ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Oleh karenanya, seiring waktu yang diberikan Allah kepada manusia di dunia, sepatutnya dipergunakan untuk mengintrospeksi segala perilaku dan pemikiran yang dia miliki, sehingga mendorongnya untuk mengoreksi diri ke arah yang lebih baik.

Introspeksi, Pintu untuk Mengoreksi Diri

Di dalam kitab Shahih-nya, imam Bukhari membuka salah satu bab kitab ash-Shaum dengan perkataan Abu az-Zinad,

إن السنن ووجوه الحق لتأتي كثيرًا على خلاف الرأي

“Sesungguhnya mayoritas sunnah dan kebenaran bertentangan dengan pendapat pribadi” [HR. Bukhari].

Memang benar apa yang dikatakan beliau, betapa seringnya seseorang enggan menerima kebenaran karena bertentangan dengan pendapat dan tendensi pribadi. Bukankah dakwah tauhid yang ditawarkan nabi kepada kaum musyrikin, ditolak karena bertolak belakang dengan keinginan pribadi mereka, terutama tokoh-tokoh terpandang di kalangan kaum musyrikin?

Tidak jarang seseorang tidak mampu selamat dari hawa nafsu dan terbebas dari kekeliruan pendapat karena bersikukuh meyakini sesuatu dan tidak mau menerima koreksi. Hal ini tentu berbeda dengan kasus seorang mujtahid yang keliru dalam berijtihad. Ketika syari’at menerangkan bahwa seorang mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihad yang dilakukannya, hal ini bukan berarti mendukung dirinya untuk menutup mata dari kesalahan ijtihad dan bersikukuh memegang pendapat jika telah nyata akan kekeliruannya. Betapa banyak ahli fikih yang berfatwa kemudian rujuk setelah meneliti ulang fatwanya dan melihat bahwa kebenaran berada pada pendapat pihak lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari penolakan para malaikat terhadap kalangan yang hendak datang ke al-Haudh (telaga rasulullah di hari kiamat). Mereka tidak bisa mendatangi al-Haudhdikarenakan dahulu di dunia, mereka termasuk kalangan yang bersikukuh untuk berpegang pada kekeliruan, kesalahan dan kesesatan, padahal kebenaran telah jelas di hadapan mereka. Hal ini ditunjukkan dalam hadits, ketika para malaikat memberikan alasan kepada nabi,

إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، وَلَمْ يَزَالُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ، فَأَقُولُ: أَلَا سُحْقًا، سُحْقًا

“Mereka telah mengganti-ganti (ajaranmu) sepeninggalmu” maka kataku: “Menjauhlah sana… menjauhlah sana (kalau begitu)” [Shahih. HR. Ibnu Majah].

Kita dapat melihat bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan kecelakaan kepada mereka, karena enggan untuk melakukan introspeksi, enggan melakukan koreksi dengan menerima kebenaran yang ada di depan mata. Oleh karenanya, evaluasi diri merupakan perantara untuk muhasabah an-nafs, sedangkan koreksi diri merupakan hasil yang pengaruhnya ditandai dengan sikap rujuk dari kemaksiatan dan kekeliruan dalam suatu pendapat dan perbuatan.

Sarana-sarana untuk Mengevaluasi Diri

Diantara sarana yang dapat membantu seseorang untuk mengevaluasi diri adalah sebagai berikut:

Pertama, tidak menutup diri dari saran pihak lain

Seorang dapat terbantu untuk mengevaluasi diri dengan bermusyawarah bersama rekan dengan niat untuk mencari kebenaran. Imam Bukhari mengeluarkan suatu riwayat yang menceritakan usul Umar kepada Abu Bakr radhiallahu anhuma untuk mengumpulkan al-Quran. Tatkala itu Abu Bakr menolak usul tersebut, namun Umar terus mendesak beliau dan mengatakan bahwa hal itu merupakan kebaikan. Pada akhirnya Abu Bakr pun menerima dan mengatakan,

فَلَمْ يَزَلْ عُمَرُ يُرَاجِعُنِي فِيهِ حَتَّى شَرَحَ اللَّهُ لِذَلِكَ صَدْرِي، وَرَأَيْتُ الَّذِي رَأَى عُمَرُ

“Umar senantiasa membujukku untuk mengevaluasi pendapatku dalam permasalahan itu hingga Allah melapangkan hatiku dan akupun berpendapat sebagaimana pendapat Umar” [HR. Bukhari].

Abu Bakr tidak bersikukuh dengan pendapatnya ketika terdapat usulan yang lebih baik. Dan kedudukan beliau yang lebih tinggi tidaklah menghalangi untuk menerima kebenaran dari pihak yang memiliki pendapat berbeda.

Kedua, bersahabat dengan rekan yang shalih

Salah satu sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar adalah meminta rekan yang shalih untuk menasehati dan mengingatkan kekeliruan kita, meminta masukannya tentang solusi terbaik bagi suatu permasalahan, khususnya ketika orang lain tidak lagi peduli untuk saling mengingatkan. Bukankah selamanya pendapat dan pemikiran kita tidak lebih benar dan terarah daripada rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” [HR. Bukhari].

Ketika budaya saling menasehati dan mengingatkan tertanam dalam perilaku kaum mukminin, maka seakan-akan mereka itu adalah cermin bagi diri kita yang akan mendorong kita berlaku konsisten. Oleh karena itu, dalam menentukan jalan dan pendapat yang tepat, anda harus berteman dengan seorang yang shalih. Anda jangan mengalihkan pandangan kepada maddahin(kalangan penjilat) yang justru tidak akan mengingatkan akan kekeliruan saudaranya.

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِالْأَمِيرِ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَزِيرَ صِدْقٍ، إِنْ نَسِيَ ذَكَّرَهُ، وَإِنْ ذَكَرَ أَعَانَهُ

“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin/pejabat, maka Allah akan memberinya seorang pendamping/pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Contoh nyata akan hal ini disebutkan dalam kisah al-Hur bin Qais, orang kepercayaan Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu. Pada saat itu, Umar murka dan hendak memukul Uyainah bin Husn karena bertindak kurang ajar kepada beliau, maka al-Hur berkata kepada Umar,

يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199] ، وَإِنَّ هَذَا مِنَ الجَاهِلِينَ، «وَاللَّهِ مَا جَاوَزَهَا عُمَرُ حِينَ تَلاَهَا عَلَيْهِ، وَكَانَ وَقَّافًا عِنْدَ كِتَابِ اللَّهِ»

“Wahai amir al-Mukminin, sesungguhnya Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya, “Berikan maaf, perintahkan yang baik dan berpalinglah dari orang bodoh.” Sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh”. Perawi hadits ini mengatakan, “Demi Allah Umar tidak menentang ayat itu saat dibacakan karena ia adalah orang yang senantiasa tunduk terhadap al-Quran.” [HR. Bukhari].

Betapa banyak kezhaliman dapat dihilangkan dan betapa banyak tindakan yang keliru dapat dikoreksi ketika rekan yang shalih menjalankan perannya.
Ketiga, menyendiri untuk melakukan muhasabah

Salah satu bentuk evaluasi diri yang paling berguna adalah menyendiri untuk melakukan muhasabah dan mengoreksi berbagai amalan yang telah dilakukan.

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau mengatakan,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ

“Koreksilah diri kalian sebelum kalian dihisab dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk pagelaran agung (pada hari kiamat kelak)” [HR. Tirmidzi].

Diriwayatkan dari Maimun bin Mihran, beliau berkata,

لَا يَكُونُ العَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ

“Hamba tidak dikatakan bertakwa hingga dia mengoreksi dirinya sebagaimana dia mengoreksi rekannya” [HR. Tirmidzi].

Jika hal ini dilakukan, niscaya orang yang melaksanakannya akan beruntung. Bukanlah sebuah aib untuk rujuk kepada kebenaran, karena musibah sebenarnya adalah ketika terus-menerus melakukan kebatilan.

Faedah Mengintrospeksi Diri 

Pertama, musibah terangkat dan hisab diringankan

Pada lanjutan atsar Umar di atas disebutkan bahwa sebab terangkatnya musibah dan diringankannya hisab di hari kiamat adalah ketika seorang senantiasa bermuhasabah. Umar radhiallahu anhu mengatakan,

وَإِنَّمَا يَخِفُّ الحِسَابُ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا

“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” [HR. Tirmidzi].

Ketika berbagai kerusakan telah merata di seluruh lini kehidupan, maka jalan keluar dari hal tersebut adalah dengan kembali (rujuk) kepada ajaran agama sebagaimana yang disabdakan nabishallallahu alaihi wa sallam,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ، سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Apabila kamu berjual beli dengan cara inah (riba), mengambil ekor-ekor sapi (berbuat zhalim), ridha dengan pertanian (mementingkan dunia) dan meninggalkan jihad (membela agama), niscaya Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian, Dia tidak akan mencabutnya sampai kalian kembali kepada ajaran agama”

Dalam riwayat lain, disebutkan dengan lafadz,
حتى يراجعوا دينهم

“Hingga mereka mengoreksi pelaksanaan ajaran agama mereka” [Shahih. HR. Abu Dawud].

Anda dapat memperhatikan bahwa rujuk dengan mengoreksi diri merupakan langkah awal terangkatnya musibah dan kehinaan.

Kedua, hati lapang terhadap kebaikan dan mengutamakan akhirat daripada dunia

Demikian pula, mengoreksi kondisi jiwa dan amal merupakan sebab dilapangkannya hati untuk menerima kebaikan dan mengutamakan kehidupan yang kekal (akhirat) daripada kehidupan yang fana (dunia). Dalam sebuah hadits yang panjang dari Ibnu Mas’ud disebutkan, “Suatu ketika seorang raja yang hidup di masa sebelum kalian berada di kerajaannya dan tengah merenung. Dia menyadari bahwasanya kerajaan yang dimilikinya adalah sesuatu yang tidak kekal dan apa yang ada di dalamnya telah menyibukkan dirinya dari beribadah kepada Allah. Akhirnya, dia pun mengasingkan diri dari kerajaan dan pergi menuju kerajaan lain, dia memperoleh rezeki dari hasil keringat sendiri. Kemudian, raja di negeri tersebut mengetahui perihal dirinya dan kabar akan keshalihannya. Maka, raja itupun pergi menemuinya dan meminta nasehatnya. Sang raja pun berkata kepadanya, “Kebutuhan anda terhadap ibadah yang anda lakukan juga dibutuhkan oleh diriku”. Akhirnya, sang raja turun dari tunggangannya dan mengikatnya, kemudian mengikuti orang tersebut hingga mereka berdua beribadah kepada Allah azza wa jalla bersama-sama” [Hasan. HR. Ahmad].

Perhatikan, kemampuan mereka berdua untuk mengoreksi kekeliruan serta keinginan untuk memperbaiki diri setelah dibutakan oleh kekuasaan, timbul setelah merenungkan dan mengintrospeksi hakikat kondisi mereka.

Ketiga, memperbaiki hubungan diantara sesama manusia

Introspeksi dan koreksi diri merupakan kesempatan untuk memperbaiki keretakan yang terjadi diantara manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْوَابَ الْجَنَّةِ تُفْتَحُ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوهُمَا حَتَّى يَصْطَلِحَا ” مَرَّتَيْنِ

“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, di kedua hari tersebut seluruh hamba diampuni kecuali mereka yang memiliki permusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan, “Tangguhkan ampunan bagi kedua orang ini hingga mereka berdamai” [Sanadnya shahih. HR. Ahmad].

Menurut anda, bukankah penangguhan ampunan bagi mereka yang bermusuhan, tidak lain disebabkan karena mereka enggan untuk mengoreksi diri sehingga mendorong mereka untuk berdamai?

Keempat, terbebas dari sifat nifak

Sering mengevaluasi diri untuk kemudian mengoreksi amalan yang telah dilakukan merupakan salah satu sebab yang dapat menjauhkan diri dari sifat munafik. Ibrahim at-Taimy mengatakan,

مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلَّا خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذِّبًا

“Tidaklah diriku membandingkan antara ucapan dan perbuatanku, melainkan saya khawatir jika ternyata diriku adalah seorang pendusta (ucapannya menyelisihi perbuatannya).”

Ibnu Abi Malikah juga berkata,

أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ، مَا مِنْهُمْ أَحَدٌ يَقُولُ: إِنَّهُ عَلَى إِيمَانِ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ

“Aku menjumpai 30 sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, merasa semua mengkhawatirkan kemunafikan atas diri mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan bahwa keimanannya seperti keimanan Jibril dan Mikail” [HR. Bukhari].

Ketika mengomentari perkataan Ibnu Abi Malikah, Ibnu Hajar mengutip perkataan Ibnu Baththal yang menyatakan,

إِنَّمَا خَافُوا لِأَنَّهُمْ طَالَتْ أَعْمَارُهُمْ حَتَّى رَأَوْا مِنَ التَّغَيُّرِ مَا لَمْ يَعْهَدُوهُ وَلَمْ يَقْدِرُوا عَلَى إِنْكَارِهِ فَخَافُوا أَنْ يَكُونُوا دَاهَنُوا بِالسُّكُوتِ

“Mereka khawatir karena telah memiliki umur yang panjang hingga mereka melihat berbagai kejadian yang tidak mereka ketahui dan tidak mampu mereka ingkari, sehingga mereka khawatir jika mereka menjadi seorang penjilat dengan sikap diamnya” [Fath al-Baari 1/111].

Kesimpulannya, seorang muslim sepatutnya mengakui bahwa dirinya adalah tempatnya salah dan harus mencamkan bahwa tidak mungkin dia terbebas dari kesalahan. Pengakuan ini mesti ada di dalam dirinya, agar dia dapat mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukannya sehingga pintu untuk mengoreksi diri tidak tertutup bagi dirinya. Allah ta’ala berfirman,

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

“Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubahnya sendiri” (Al-Ra`d 11).

Manusia merupakan makhluk yang lemah, betapa seringnya dia memiliki pendirian dan sikap yang berubah-ubah. Namun, betapa beruntungnya mereka yang dinaungi ajaran agama dengan mengevaluasi diri untuk berbuat yang tepat dan mengoreksi diri sehingga melakukan sesuatu yang diridhai Allah. Sesungguhnya rujuk kepada kebenaran merupakan perilaku orang-orang yang kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.

INTROSPEKSI DIRI DAN PERANNYA DALAM MENDIDIK JIWA 
"Introspeksi diri" merupakan salah satu tema yang cukup menarik dimana banyak ditemukan dalam berbagai riwayat dan demikian pula puluhan buku ditulis terkait dengan tema ini. Rasulullah saw pernah bersabda:"Selama seseorang tidak pernah mengintrospeksi dirinya, maka ia bukanlah orang yang dikategorikan sebagai yang bertakwa"(Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal. 98). "Dan seseorang yang tidak mengintrospeksi dirinya, tidak bisa dianggap sebagai seorang mukmin"( Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal. 99). Dalam kacamata Beliau saw, "orang yang paling cerdik adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk hari akhiratnya" (Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal. 98). Menurut Imam Kazhim as, "seseorang yang tidak mengintrospeksi dirinya setiap hari, tidak bisa digolongkan sebagai syi'ah dan pengikut Ahlulbait as"(Al Kafi, jilid 2, hal 453). 
Riwayat-riwayat diatas memperjelas bahwa introspeksi diri memiliki nilai yang sangat penting pada keimanan dan akhlak seseorang; dengan demikian, lazimnya muncul dua pertanyaan seperti berikut ini: apa itu introspeksi dan harus bagaimana mengintrospeksi diri? Betapa banyak dampak positif bagi jiwa dan pikiran pada introspeksi diri sehingga ia mendapat posisi yang demikian penting ini. Karena buku-buku akhlak telah banyak menjelaskan secara rinci dalam bentuk tanya jawab, disini hanya akan dijelaskan secara singkat dan tujuan dasar dari makalah ini adalah mengkaji terkait dengan pertanyaan kedua.

Makna Dan Cara Introspeksi Diri 
Introspeksi diri adalah seseorang yang menentukan suatu waktu (siang dan malam) dan waktu tersebut digunakan untuk mengintrospeksi dirinya dan membanding-bandingkan antara ketaatan dan dosa yang dilakukannya (Mulla Ahmad Naraqi, Mi'rajus Sa'adah, hal. 586). Demikian pula, introspeksi diri adalah seseorang mencoba menimbang-nimbang segala nikmat pemberian Allah Swt dengan ketaatan yang ia lakukan terhadap-Nya (Mulla Hadi Sabzawari, Syarhul Asmaul Husna, hal. 154). 
Dalam menjawab pertanyaan berkenaan dengan introspeksi diri, Imam Ali as menitahkan:"Ketika seseorang melewati siang dan malamnya, hendaknya menjadikan jiwa dan dirinya itu sebagai lawan bicara dan mengatakan: wahai jiwa dan diri, hari yang baru saja lewat ini tidak akan pernah kembali lagi, Allah Swt kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu bahwa kamu gunakan waktumu untuk apa, apa yang kamu lakukan ketika itu, apa kamu mengingat Allah Swt? Apakah kamu memuji-Nya? Apakah kamu memenuhi kebutuhan seorang mukmin? Memberi solusi untuknya? Apakah kamu menjaga keluarga dan anak-anaknya ketika mereka (orang mukmin) tidak ada? Apakah kamu tetap memperhatikan keluarga yang ditinggal mati oleh mereka (orang mukmin)? Apakah kamu menahan dari menggibah saudara seimanmu? Apakah kamu menolonga seorang muslim? Pekerjaan apa saja yang kamu lakukan hari ini? Apakah kamu mengingat seluruh pekerjaanmu pada hari itu, kalau kamu tahu bahwa kamu telah mengerjakan pekerjaan baik, maka hendaklah mengakui kebesaran dan memuji-Nya atas taufik yang diberikan kepadamu, dan kalau kamu tahu bahwa yang kamu lakukan adalah perbuatan dosa dan maksiat yang sengaja kamu lakukan, maka memohon ampunlah kepada-Nya dan berniatlah untuk tidak melakukan hal itu lagi."(Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98). 

Tahapan Introspeksi Diri 

Kendatipun kalangan ulama ilmu akhlak menganggap bahwa musyarathah, muraqabah, muhasabah, dan mu'atabah tersebut merupakan sebuah rangkaian, namun adanya sebuah riwayat yang menjelaskan cara introspeksi, menunjukkan bahwa introspeksi sebuah rangkaian yang dibangun atas beberapa tahapan berikut ini: 
  1. Menempatkan dirinya untuk menanyakan jiwa dan dirinya. 
  2. Mengingatkan akan pentingnya waktu dan umur. 
  3. Harus memperhatikan bahwa kelak ia harus mempertanggunjawabkan segala perbuatan dan umurnya. 
  4. Seseorang harus memperjelas pekerjaan-pekerjaan yang dilakukannya hari itu. 
  5. Membandingkan amalan-amalan dengan seluruh aktifitas yang harus dilakukannya. 
  6. Memuji dan mengagungkan Allah Swt ketika melakukan perbuatan baik. 
  7. Bertaubat dan beristighfar ketika melakukan dosa dan maksiat. 
  8. Bertekad untuk meninggalkan perbuatan dosa. 
Perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang pada saat introspeksi, terbentuk dari dua aktifitas pikiran dan perbuatan. Diantara aktifitas pikiran adalah menangkap dan memahami nilai sebuah umur, perhatian terhadap perjanjian, menghitung seluruh perbuatan yang dilakukan oleh setiap orang, menimbang serta membandingkan pekerjaan-pekerjaan ini dengan parameter syari'at dan pada puncaknya adalan berniat serta bertekad meninggalkan perbuatan dosa. Aktifitas yang ada kaitannya dengan perbuatan diantaranya adalah memuji Allah Swt dan memohon ampunan-Nya. Setiap dari kedua aktifitas ini tentunya memiliki peran yang luar biasa dalam memperbaiki kondisi etika dan spiritual seseorang.

Perbedaan 'Introspeksi Diri' dengan 'Menimbang Diri' Yang Ada Pada Psikologi 

Di era ini, dalam budaya psikologi, nampak pengertian tentang 'menimbang diri' (self assessment) atau 'evaluasi diri' (self evaluation). Dengan melihat bahwa pada 'introspeksi diri' terdapat sebuah bentuk yang sifatnya mengevaluasi dan menimbang seluruh perbuatan dan sikap diri, maka muncullah pertanyaan ada korelasi apa antara 'menimbang diri' dengan 'introspeksi diri'? apakah keduanya memiliki perbedaan? 

Untuk mengetahui hubungan dan perbedaan keduanya, mesti memperhatikan definisi dari keduanya. 'menimbang diri' memiliki pengertian psikologis dimana secara umum mencakup segala bentuk 'menimbang diri'. Pada saat sekarang, istilah ini banyak digunakan terkait dengan alat pengukur dan penimbang setiap pribadi.(Nushratullah Pur Afkari, Farhagg-e Jam'e Ravan Syenasi va Ravan Pezesyki, jilid 2, hal. 1364). Perlengkapan atau peralatan ini dibagi menjadi dua bentuk menimbang diri. Dengan menggunakan fasilitas 'menimbang diri', seseorang akan mengetahui kepribadiannya, kesenangannya, kecenderungan-kecenderungan, pikiran dan sikapnya. 

'Introspeksi diri' mengandung pengertian akhlak dan etika dimana seseorang mengevaluasi seluruh perbuatan dan amalnya setiap siang dan malam dan memperhatikan sejauh mana perbuatan dan niatnya itu dekat dengan parameter agama dan syari'at. Ketika ia merasa bahwa perbuatan dan amalnya itu sesuai dengan apa yang dikatakan syari'at dan agama (merasa sukses), maka ia langsung menyatakan kesyukurannya kepada Allah Swt dan sebaliknya, kalau segala perbuatannya itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan agama dan syari'at maka ia langsung bertobat dan memohon ampun kepada-Nya serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut. 

Melihat defenisi-defenisi tersebut, maka harus jelas bahwa pada 'evaluasi diri' dan 'introspeksi diri' ada sebuah bentuk evaluasi atas perbuatan dan aktifitas, pikiran-pikiran, dan motifasi-motifasi yang dilakukan seseorang. Dengan demikian pada keduanya terdapat beberapa perbedaan, yaitu: 
  1. Pada 'introspeksi diri' terdapat parameter nilai yang jelas yang seseorang bisa mengukur amal dan perbuatannya berdasarkan hal itu, namun 'evaluasi diri' pada psikologi lebih dominan diartikan sebagai informasi tentang diri, yakni 'evaluasi diri' pada psikologi tidak memiliki parameter yang jelas dan tertentu yang mana seseorang bisa mengukur aktifitas dan amalnya dengan hal tersebut. 
  2. Pada 'introspeksi diri' seseorang - setelah mengevaluasi dirinya - kalau merasa bahwa ia telah sukses maka akan bersyukur kepada Allah Swt. Kalau merasa ia tidak sukses, maka ia akan mencaci serta mencela dirinya, tetapi 'evaluasi diri' pada psikologi, seseorang hanya sekedar menunjukkan secara umum dan deskriptif tentang dirinya, tanpa ada semacam pemberian hadiah kepada dirinya ketika ia sukses atau ketika tidak sukses, ia mencela dirinya atau bertekad untuk merubah dirinya. 
  3. Pada aspek motifasi, 'introspeksi diri' dan 'evaluasi diri' juga memiliki perbedaan; 'introspeksi diri' dilakukan atas dasar dan motifasi menyesuaikan perbuatan-perbuatan dengan aturan-aturan syari'at dan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt, akan tetapi 'evaluasi diri' dilakukan lebih kepada untuk mengetahui kepribadian, kecenderungan-kecenderungan, cara pandang, dan terkadang karena adanya gangguan-gangguan. 
  4. Cara 'introspeksi diri' dan 'evaluasi diri' juga memiliki perbedaan; pada 'introspeksi diri', seseorang setiap malam berusaha menyepi dan membayangkan seluruh pekerjaan dan aktifitasnya, namun pada 'evaluasi diri' dilakukan dengan cara menggunakan alat-alat yang bermacam-macam. Sebagian dari peralatan ini memberikan informasi tentang kepribadian seseorang, sebagiannya lagi tentang gangguan-gangguan jiwa, serta sebagiannya lagi memberikan gambaran tentang kecenderungan-kecenderungan kerja dan studi seseorang. Dengan peralatan ini orang melakukan proses 'evaluasi diri'. 
Oleh karena itu, kendati 'introspeksi diri' sebuah bentuk evaluasi diri dan penilaian terhadap pekerjaan dan sikap, akan tetapi jangan sekali-kali disamakan dengan 'evaluasi diri' pada psikologi, karena 'introspeksi diri' memiliki cara, tujuan dan falsafah khusus yang tidak ditemukan pada 'evaluasi diri' di psikologi. 

Korelasi Muhasabah dengan Musyarathah, Muraqabah dan Mu'atabah 

Hal yang banyak ditegaskan dalam beberapa riwayat adalah pengertian 'Muhasabah' yang caranya telah dijelaskan sebelumnya. Sebelumnya juga sebagian ulama akhlak menjelaskan tentang 'Musyarathah', 'Muraqabah' dan 'Mu'atabah' tidak beriringan dengan 'Muhasabah'. 

Khojah Abdullah Anshari (396-481 H) menganggap bahwa meniti jalan 'Muhasabah' tersebut hanya mungkin ketika telah bertekad untuk bertaubat. Beliau meyakini bahwa niat dan tekad itu memiliki tiga rukun: 
  1. Membandingkan seluruh nikmat dan seluruh dosa; 
  2. Menentukan hal-hal yang sifatnya datang dari hamba dan hal-hal yang datang dari Allah SWT 
  3. Mengenal dan mengetahui mana ketaatan dan mana maksiat. 
Khojah Abdullah Anshari tidak pernah menjelaskan masalah 'Musyarathah' dan 'Muraqabah' tersebut berdampingan dengan 'Muhasabah', namun beliau menjelaskan 'Muraqabah' itu pada bab muamalah dan 'Muhasabah' pada bab awal pembahasan (Khojah Abdullah Anshari, Manazilus Sairin, hal. 39). Sayid bin Thawus (589-664 H) dalam bukunya, Muhabatun Nafs, mencoba mengisyarah kepada ayat-ayat serta riwayat yang ada hubungannya dengan 'Muhasabah'. Beliau menjelaskan tentang diperlihatkannya seluruh amal perbuatan pada hari senin dan kamis, tentang 'introspeksi diri' setiap malam, tentang doa-doa yang berkenaan dengan 'Muhasabah' dan 'introspeksi diri' pada akhir setiap malam. Dalam buku ini, Musyarathah, Muraqabah, dan Mu'atabah diterangkan berdampingan dengan Muhasabah (Sayid bin Thawus, Muhasabatun Nafs, hal. 13-31). Salah satu ulama di era ini, Sayid Abdullah Syabbar (1188-1242 H), dalam bukunya menjadikan bahasan 'Muhasabah' dan 'Muraqabah' tersebut menjadi dua pasal. Pasal pertama tentang 'Muhasabah' dan pasal kedua, mengenai 'Muraqabah', tanpa ada hubungan apa-apa diantara keduanya, namun beliau tidak membahas hal yang ada kaitannya dengan 'Musyarathah' dan 'Mu'atabah' (Sayid Abdullah Syabbar, Al Akhlaq, hal 284-287). 

Sebagian pakar ilmu akhlak menempatkan 'Muhasabah' - tentunya dalam pengertian yang lain - di bawah tema yang lebih luas, yaitu 'Murabathah'; Abu Hamid Ghazali (wafat 505 H) menjelaskan pengertian 'Murabathah' dalam bukunya, Ihya 'Ulumuddin, dengan menyimpulkan dari ayat "Ishbiru wa Shabiru wa rabithu"(Qs. Ali Imran:200). Beliau menganggap bahwa 'Murabathah' memiliki enam maqam: 
  1. Musyarathah: pada awal waktu berjanji dengan diri untuk tidak berbuat hal yang bertentangan dengan aturan-aturan Allah Swt. 
  2. Muraqabah: mengawasi dan waspada terhadap perbuatannya pada siang hari, sesuai dengan niat, tekad dan janjinya. 
  3. Muhasabah: mengevaluasi diri dan jiwa tentang perbuatan dan amal yang telah dilakukannya di siang hari. 
  4. Mu'aqabah: memberi sanksi dan peringatan kepada dirinya atas dosa-dosa yang dilakukannya, dengan melakukan pembatasan-pembatasan. 
  5. Mujahadah: seperti halnya pada saat melakukan dosa, ia memberi sanksi dan peringatan pada diri dan jiwanya, maka ketika ia banyak lalai dari beribadah dan meninggalkan kewajiban yang mesti dilakukannya, maka ia memaksa dirinya untuk berusaha dan bekerja lebih keras lagi. 
  6. Mu'atabah: mencaci dan menghina diri dan jiwanya atas kesalahan-kesalahan dan dosa yang dilakukannya di siang hari.(Abu Hamid al Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, jilid 4, hal 417-448). Oleh karena itu, kendati pengertian Musyarathah, Muraqabah, Mu'atabah, Mujahadah dan Mu'aqabah tidak dijelaskan berdampingan satu sama lain, akan tetapi para ulama ilmu akhlak menganggap bahwa kesemuanya itu adalah hal yang saling melengkapi. 
Peran 'Muhasabah' dalam Mendidik Jiwa dan Nafs 

Ketilitian pada puluhan riwayat dan buku-buku akhlak menunjukkan bahwa 'Muhasabah' senantiasa bergandengan dengan beberapa kondisi psikologis. Kondisi-kondisi ini merupakan hal mendasar yang membuat 'Muhasabah' itu memiliki pengaruh dan efek dalam tarbiyah dan pendidikan moral dan akhlak. Setiap dari kondisi-kondisi ini memiliki peran masing-masing dalam merubah perbuatan-perbuatan dan akhlak setiap orang. Pentingnya 'introspeksi diri' itu nampak pada bahwa ia senantiasa bergandengan dengan himpunan kondisi-kondisi ini yang mana membuatnya lebih dalam memberikan dampak dan efek pada proses pendidikan moral dan akhlak. Dengan menelaah puluhan riwayat dan buku-buku akhlak, maka kondisi-kondisi psikis berikut ini dapat dijelaskan pada 'Muhasabah': 

1. perasaan sudah diintrospeksi 

diantara perasaan-perasaan yang bisa sangat berpengaruh pada sikap dan perbuatan manusia adalah perasaan 'Sudah Diintrospeksi'. Kalau seseorang percaya bahwa harus bertanggungjawab terhadap setiap perbuatan-perbuatan yang sifatnya kecil atau pun besar, fisik atau pun non-fisik, maka terhadap setiap dari hal itu harus diberi sanksi atau balasan, dengan alasan perbuatan jelek harus diazab dan dengan alasan perbuatan dan amal baik, maka ia harus diberi balasan pahala. Perasaan atau perhatian pikiran ini, betul-betul bisa menjadi salah satu penentu perbuatan dan amal manusia. Kendati pada psikologi, 'pengertian' atau 'aturan' secara khusus belum ditemukan dimana kenyataan ini menjadi bahan perhatian dan perasaan 'sudah diintrospeksi' tersebut dianggap sebagai salah satu penentu sikap dan perbuatan manusia, akan tetapi pada sumber-sumber Islam, kenyataan ini telah berulangkali didengar dimana setiap manusia akan dihisab pada suatu hari dan seluruh amal dan perbuatannya akan ikut turut andil dalam proses penghisaban atau perhitungan ini (diantara ayat-ayat yang mengisyaratkan hal ini adalah: Al Baqarah: 235 dan 281, Ali Imran: 30, Al Kahfi: 49, Al Anbiya: 47). Penegasan-penegasan ini menunjukkan bahwa perasaan 'sudah dihisab dan diintrospeksi' benar-benar bisa mempengaruhi sikap dan perbuatan manusia.

Oleh karena itu, salah satu unsure dan aspek yang membuat 'introspeksi diri' sebagai penawar pendidikan akhlak dan pertumbuhan spiritual manusia adalah perhatian terhadap perasaan 'sudah dihisab dan diintrospeksi'. Seseorang yang mengintrospeksi jiwa dan dirinya, menandakan aspek pengetahuan ini sedang aktif dalam dirinya dan mengetahui bahwa suatu hari dia akan dihisab dikarenakan amal dan perbuatan ini dan sekecil atau sebesar apa pun amal dan perbuatannya, akan menjadi bahasan perhitungan pada hari hisab tersebut (Qs. Zilzalah:7). Diantara prinsip-prinsip yang di dalamnya 'Muhasabah' sangat konsisten adalah kesiap siagaan manusia dalam mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan dan amalannya pada hari kiamat. Allah Swt memerintahkan kepada para malaikat untuk menyediakan, setiap dari amal dan perbuatan manusia, sebuah buku catatan amal dan buku catatan ini akan menjadi bahan kajian nanti di hari kiamat (Muhammad Ridha Mahdawi Kani, Nuqteh-hay-e Agaz dar Akhlaq-e Amali, hal. 356). 

Al Qur'an menggandenkan 'introspeksi diri' tersebut dengan 'perhitungan seluruh amal' pada hari kiamat:"Hendaknya setiap orang melihat apa yang dikirimkan untuk hari esok dia dan bertakwalah kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kalia lakukan"(Qs. Al Hasyr:18). Dan beberapa riwayat juga menganggap adanya korelasi antara 'introspeksi diri' dengan 'perhitungan' pada hari kiamat:"Hai Abu Dzar, hisablah dirimu sebelum engkau dihisab, karena hal itu akan mempermudah perhitungan di hari kemudian kamu. Timbanglah dirimu sebelum ia ditimbang dan bersiap-siaplah untuk hari yang sangat besar dimana hari itu tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Swt"(Hurra Amili, Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98). Mayoritas buku-buku akhlak juga - dalam masalah introspeksi diri - mengisyarah kepada ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang ada kaitannya dengan 'Muhasabah' (baca; perhitungan) hari kiamat (Abu Hamid Ghazali, Ihya 'Ulumuddin, jilid 4, hal 417; Muhsin Faiz Kasyani, Al Mahajjatul Baidha, jilid 8, hal 149; Mulla Muhammad Mahdi Naraqi, Jami'us Sa'adat, jilid 3, hal 92; Sayid Abdullah Syabbar, Al Akhlaq, hal. 284).

Ayat-ayat dan riwayat-riwayat ini menerangkan tentang falsafah dan tujuan 'introspeksi diri dan jiwa' tersebut dan menyampaikan kepada pemirsanya bahwa harus bersiap siaga menghadapi hari perhitungan yang lebih besar dan dengan alasan inilah, maka harus mengintrospeksi diri dan jiwa ini; dengan kata lain, sebelum datang ujian yang besar, hendaknya lebih dulu mengadakan ujian tes kemampuan. Hal ini membuat motifasi seseorang meningkat untuk 'introspeksi diri' dan juga hal ini melahirkan sebuah bayangan dalam pikiran orang bahwa ia harus bersiap-siap mengahadapi ujian besar dan pertanggungjawaban yang luar biasa. Kekhawatiran dan rasa takut ini akan berperan lebih baik dalam menghidayahi setiap orang menuju sebuah perbaikan dan pendidikan moral dan akhlak.

2. efek dari adanya pengawasan langsung 

diantara prinsip-prinsip yang 'introspeksi diri' dibangun diatasnya adalah dicatat dan direkamnya seluruh amal perbuatan dan adanya pengawasan langsung dari Allah Swt dan para malaikat (Muhammad Ridha Mahdawi Kani, Nuqteh-hay-e Agaz dar Akhlaq-e Amali, hal. 357). Ada banyak ayat dan riwayat yang bermacam-macam yang mengisyarahkan realitas ini dimana seluruh perbuatan manusia itu selalu berada dibawah sebuah pengawasan:"Tak ada seorang pun yang tidak dikawal oleh seorang penjaga"(Al Thariq: 4). "Tak ada sebuah kata pun yang dia ucapkan, kecuali disampingnya ada seorang pengawas yang senantiasa hadir"(Qaf:18). "Apakah mereka menyangka bahwa bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka itu?! Iya! Para utusan kami hadir bersama mereka serta mencatat". Sumber-sumber agama menginformasikan kepada manusia bahwa ia selalu berada dalam sebuah pengawasan, seluruh tingkah lakunya, baik yang terang-terangan atau pun yang tersembunyi, senantiasa menjadi bahan kajian secara jeli dan teliti dan akan direkam serta dicatat. Dari sisi kejiwaan, 'perasaan selalu diawasi' mempengaruhi tingkah laku setiap manusia. Sekarang ini, pada metodologi berbagai penelitian, telah jelas bahwa salah satu problem yang membuat status penelitian menjadi turun dan melemah adalah 'hadirnya para pemirsa dan penonton' (Haidar Ali Hauman, Syenakht-e Ravesy-e Ilmi dar Ulum-e Raftari, hal. 246). Kalau orang-orang merasa bahwa seluruh tingkah lakunya itu berada dalam pengawasan dan ada orang-orang yang menyaksikan mereka, sikap dan perilaku mereka akan terpengaruhi dan menyebabkan terjadinya perubahan pada sikap dan tingkah mereka; berdasarkan hal ini, mungkin saja sikap dan tingkah yang nampak itu bukanlah sebuah realitas, akan tetapi ia nampak seperti hal yang direkayasa dan dibuat-buat.

Pada psikologi social juga menunjukkan eksperimen-eksperimen yang bermacam-macam bahwa disaksikan atau dilihat dan berbuat di hadapan orang lain, sangat dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan setiap orang (Yusuf Karimi, Ravan Syenasi Ijtima'I, hal 64). Berdasarkan teori dampak social, besarnya pengaruh dan efek para pemirsa dan penonton pada sikap dan tingkah seseorang bergantung pada tiga factor berikut ini: semakin banyak kuantitas penonton dan pemirsa, maka semakin banyak pula dampak dan pengaruhnya, semakin dekat para penonton itu kepada seseorang, maka sikap dan tingkah orang tersebut akan lebih terpengeruh dan semakin tinggi status social pemirsa dan penonton, maka pengaruhnya terhadap tingkah laku seseorang akan semakin besar (Yusuf Karimi, Ravan Syenasi Ijtima'I, hal 65). 

Oleh karena itu, 'introspeksi diri', dengan 'perasaan selalu diawasi dan disaksikan' memberikan pengaruh pada sikap dan tingkah seseorang dan akan mempermudah dalam mendidik pendidikan akhlak dan moral serta spiritual. 

3. meningkatkan kesadaran diri 

'Introspeksi diri' bisa menambah pengetahuan seseorang terhadap dirinya sendiri. Tanpa 'introspeksi diri', seorang akan lalai dari seluruh sikap dan tingkah lakunya. Terkadang mungkin saja seseorang memiliki kondisi yang lebih baik dan kondusif, namun karena pengaruh lemahnya kesadaran diri, maka ia akan berimajinasi negative tentang dirinya sendiri. Mungkin saja yang terjadi sebaliknya: seorang memiliki kondisi yang kurang baik dan tidak kondusif, namun karena pengaruh kelalaian ia menyangka bahwa ia memiliki tanggapan yang benar, akan tetapi 'introspeksi diri' bisa menyingkirkan orang dari kelalaian dan menambah kesadaran dirinya. "kesadaran diri, kemampuan mengenal diri dan karakter pribadi, kemampuan dan kelemahan, keinginan, dan rasa takut. Kedewasaan dalam kesadaran diri bisa membantu seseorang sehingga mengetahui apakah ia berada dalam kondisi stress atau tidak". 

Kesadaran diri memiliki dua keuntungan: pertama, mengetahui pemikiran-pemikiran sendiri yang dalam istilah psikologi disebut "di luar pengetahuan" dan yang kedua adalah, mengetahui akan berbagai perasaan, kecenderungan diri yang dalam istilahnya disebut "di luar penciptaan". Kesadaran diri juga bisa mencakup dua pengetahuan internal; mengetahui tentang berbagai pengetahuan dan kepercayaan dan mengetahui tentang berbagai perasaan (Danial Galman, Husy Hayajani, hal 77). 

Kesadaran diri, yang mana ia diperoleh melalui 'introspeksi diri', lebih universal dari pada pengertian dan makna psikologinya, karena makna diatas, dimana ia dijelaskan untuk 'kesadaran diri', khusus untuk kondisi-kondisi pengetahuan dan perasaan internal, sementara 'kesadaran diri' yang bersumber dari 'introspeksi diri' mencakup seluruh aktifitas dan pekerjaan, berbagai perasaan dan pengetahuan. Ilmuan akhlak telah memperkenalkan bahwa seorang pengintrospeksi, selain mengevaluasi seluruh aktifitas dan perbuatan lahiriah dirinya, ia juga mengevaluasi segala apa yang terlintas dalam pikirannya, pemikirannya, kepercayaan, pikiran maksiatnya dan lain sebagainya (Sayid Abdullah Syabbar, Ibid, hal 285; Mulla Ahmad Naraqi, Mi'rajus Sa'adah, hal. 593; Mulla Mahdi Naraqi, ibid, hal. 89-99). Jadi, 'introspeksi' juga bisa menambah dan memperluas berbagai dimensi diri seseorang seperti pengetahuan, perasaan dan sikap serta kesadaran diri. 

Dalam Al Qur'an - setelah menyebutkan perintah tentang 'introspeksi diri' - dikatakan bahwa jangan sampai kalian seperti orang yang telah melupakan Allah Swt dan Allah Swt pun membuat mereka lupa diri (Qs. Al Hasyr:18-19). Oleh karena itu, perhatian terhadap hari kiamat dan beramal untuk hari kemudian, bisa menyebabkan seorang tidak akan lupa kepada Allah Swt dan akhirnya, dia pun tidak akan melupakan dirinya dan kesadaran dirinya pun akan meningkat."Terkait dengan masalah ini, Al Qur'an dengan sangat transparan menyatakan bahwa melupakan Allah Swt bisa menyebabkan lupa pada diri sendiri. Alasannya pun sangat jelas, karena dari satu sisi lupa dan lalai kepada Allah Swt dapat menyebabkan manusia tenggelam dalam kelezatan dan kenikmatan syahwat dan ia pun menjadi lupa akan tujuan dari penciptaan dirinya dan pada akhirnya, ia pun menjadi lupa dan lalai dengan perbekalan yang cukup untuk hari kemudian"(Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemuneh, jilid 23, hal. 540). "Orang seperti ini lupa kepada Allah Swt dan kembalinya keharibaan Dia dan menghindar dari memperhatikan Allah Swt dan memperhatikan yang lain. Hasil dari semua itu adalah dia pun lupa dengan dirinya sendiri."(Allamah Thabathabai, Tarjume-e Tafsir Al Mizan, jilid 19, hal. 378). Seseorang yang lupa dengan dirinya, kesadaran dirinya pun lemah, yakni ia juga lupa dan lalai dengan posisinya sebagai hamba dan tidak punya perhatian bahwa suatu hari ia harus mempertanggungjawabkan dirinya dan ia juga lupa dengan kondisi dirinya yang sekarang ini, yakni tidak punya perhatian tentang kondisi bagaimana perbuatan baik serta dosa-dosanya; jadi ia memiliki kesadaran diri yang lemah. Dengan demikian, 'introspeksi diri' menyebabkan kesadaran dirinya lebih meningkat dan akan lebih memahami bahwa ia berada pada posisi orang muslim yang bagaimana. 

Dalam untaian hikmah Imam Ali as, 'lalai terhadap diri' itu memiliki posisi yang berlawanan dengan 'introspeksi diri': "Barangsiapa yang mengevaluasi dirinya, maka akan beruntung dan barangsiapa yang lalai dengan dirinya, maka akan merugi"(Nahjul Balaghah-e Bun-yad, Qashar 199). Jadi 'introspeksi diri' dimana merupakan sebuah bentuk dan jalan keluar dari kelalaian, berperan sebagai penambah kesadaran diri. Sejatinya, dalil adanya penegasan atas 'introspeksi diri' yang ada dalam banyak ayat dan riwayat adalah supaya masyarakat tersadar dan bangkit dari kelalaiannya dan menanam serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan di kemudian hari (Mahdi Kani, ibid, hal 382). 

Sampai pada saat ini, kita konklusikan bahwa 'introspeksi diri' menyebabkan bertambah dan meningkatnya kesadaran diri, sementara 'kesadaran diri' memiliki dampak positif pada perbaikan aktifitas dan amal seseorang, karena seseorang tahu tentang dirinya dan kalau ia merasa ada kekurangan pada dirinya, maka akan berusaha menghilangkan dan memenuhi kekurangan tersebut. Demikian pula ia akan mengetahui berbagai potensi dan kemampuannya serta kelemahan dirinya dan dengan menggunakan potensi dan kemampuan tersebut, ia akan memperbaharui kondisi dirinya. 

4. menghargai waktu 

seseorang yang siang dan malam mengintrospeksi serta mengevaluasi berbagai amal dan perbuatannya, sangat menyadari akan pentingnya umur dan waktu. Al Qur'an mengingatkan yang isinya kurang lebih bahwa: hendaknya setiap manusia memandang bahwa kelak apa yang akan berlaku dikemudian harinya (Qs. Al Hasyr:18). Kata 'Besok' dalam ayat tersebut mengisyarah kepada pentingnya waktu. Secara mendasar dengan alasan inilah Allah Swt memerintahkan kepada kaum mukmin untuk mengintrospeksi dirinya dan mengawasi segala bentuk amal dan aktifitasnya yang mana dipersiapkan untuk hari kiamat nanti. Demikian dekatnya peristiwa hari kiamat sehingga Allah Swt mengibaratkannya dengan kata-kata 'Besok'. Allamah Thabathabai menuturkan: maksud daripada 'Besok' adalah hari kiamat. Dan alasan kenapa ia dita'birkan sebagai 'Besok', karena demikian dekatnya peristiwa tersebut (Allamah Thabathabai, al Mizan fi Tafsiril Qur'an, jilid 19, hal 218). Kemudian Allamah bersandar pada ayat berikut ini: "Mereka melihat kiamat itu sangat jauh, sementara kita melihatnya sangat dekat."(Qs. Al Ma'arij:6 dan 7). 

Oleh karena itu, ungkapan 'Besok' menunjukkan betapa sedikitnya peluang dan waktu dan dengan itu, orang-orang harus selalu mengawasi segala amal dan perbuatannya dan mempersiapkan diri untuk hari kemudian yang sangat dekat tersebut. Dengan melihat poin bahwa 'introspeksi diri' merupakan sebuah perintah yang sumbernya dari agama kepada kaum muslimin, ketika mereka mengintrospeksi dan mengevaluasi dirinya maka otomatis mereka pun akan sangat memperhatikan kepada konsekuensi-konsekuensinya; yaitu pentingnya waktu dan persiapan bekal untuk hari kemudian. Imam Ali as - ketika menjelaskan bagaimana 'introspeksi diri' tersebut - mengajak para pendengar untuk melihat betapa pentingnya waktu ketika mengintrospeksi diri (Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98).
Para ulama akhlak pun sangat memperhatikan pentingnya waktu ketika mengintrospeksi diri dan mengingatkan kepada para pendengarnya bahwa betapa pentingnya yang namanya waktu itu. Faiz Kasyani menuturkan:"Jangan sekali-kali lalai dari 'introspeksi diri', bahkan hendaknya mengawasi segala gerak gerik, diam, imajinasi dan khayalan serta langkah-langkah jiwa dan diri, karena setiap nafas dan nafas-nafas umur mengandung mutiara yang sangat berharga dimana ia tidak memiliki sebuah harga jelas dan bisa dibeli dengan harta karun yang bernilai tinggi. Kalau setiap detik dari umur ini terbuang begitu saja, maka betapa besar kerugian yang akan menimpa seseorang dimana seorang yang berakal tidak akan mungkin merelakan dirinya pada itu (Muhsin Faiz Kasyani, ibid, jilid 8, hal 152).

Dari sini, 'introspeksi', membuat seseorang sadar akan pentingnya waktu; ketika seseorang telah memahami betapa pentingnya waktu maka pemahamannya akan mempengaruhi segala sikap dan tingkahnya dan ketika itu seseorang akan senantiasa mengawasi dan mewaspadai segala amal dan perbuatannya dan akan menjadi lebih santai dalam mengawasi perbuatan-perbuatannya. Seseorang yang mengintrospeksi dirinya, seperti halnya dia dalam kondisi sedang mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dimana waktunya demikian dekat. Sangat wajar pada kondisi ini seseorang tidak akan berani berbuat seenaknya saja dan akan berusaha dengan segala kemampuan dan usahanya untuk mempersiapkan diri mengahadapi ujian tersebut. Perhatian terhadap pentingnya waktu dan adanya perhitungan pada hari kiamat akan melahirkan serta mewujudkan perasaan semacam ini pada diri seseorang dan perasaan ini terjadi ketika seseorang mengintrospeksi dirinya dan juga akan berpengaruh pada segala amal dan perbuatannya. 

5. mengevaluasi diri dan amal perbuatan 

Salah satu kegiatan yang dilakukan ketika sedang mengintrospeksi diri adalah mengevaluasi serta menelaah seluruh amal perbuatan yang dilakukan setiap hari. Imam Ali as menyabdakan yang intinya adalah tentang cara 'introspeksi diri' dimana menjadikan diri dan jiwanya sebagai lawan bicara bahwa pekerjaan apa saja yang telah dilakukan hari ini (Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98). Untuk introspeksi, hal yang harus didahulukan adalah terkait dengan hal-hal yang wajib, lalu kemudian melihat tentang dosa-dosa apa saja yang telah dikerjakannya. Demikian juga ia harus memberi perhatian terhadap masalah keuangan dan ekonomi dan juga harus mengevaluasi hal-hal yang melintas di pikiran, berdiri, duduk, tidur, makan, minum dan bahkan diamnya (Sayid Abdullah Syabbar, ibid, hal 285; Mulla Ahmad Naraqi, Mi'rajus Sa'adah, hal 593). Jadi 'introspeksi diri' itu dibangun atas beberapa hal diantaranya menimbang dan mengukur seluruh amal dan aktifitas (Muhammad Ridha Mahdawi Kani, ibid, hal 353). Seseorang ketika melakukan introspeksi diri dan ingin melihat apakah perbuatannya baik atau buruk, maka ia harus mengukur seluruh amal dan perbuatannya. Menurut kacamata psikologi, bahwa mengukur serta menimbang perbuatan secara otomatis memiliki dampak yang sifatnya membangun. 

6. membandingkan amal perbuatan dengan parameter syar'i 

Dalam introspeksi, seseorang mengukur seluruh perbuatannya dengan parameter yang telah ditetapkan sebelumnya. Islam memperkenalkan perbuatan-perbuatan khusus itu sebagai sesuatu yang baik dan yang selainnya dianggap buruk. Seseorang yang melakukan introspeksi diri, tentunya ia mengenal amal perbuatan tersebut dan menganggapnya sebagai 'parameter yang telah ditetapkan terdahulu'. Kemudian disamping introspeksi, ia pun menimbang serta membanding-bandingkan seluruh amalnya itu dengan parameter-parameter tersebut dan menyaksikan bahwa sejauh mana amal perbuatannya itu sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh syari'at. Imam Ali as menyatakan:"Lihatlah apa yang telah kamu kerjakan hari ini. Apakah kamu mengingat Allah Swt? Apakah kamu memuji-Nya? Apakah kamu telah memenuhi kebutuhan seorang mukmin? Apakah kamu membantunya untuk menyelesaikan masalahnya? Apakah kamu menjaga keluarga dan anak-anaknya ketika ia sedang pergi? Apakah kamu memperhatikan orang-orang yang ditinggalkannya ketika ia meninggal? Apakah kamu mencegah dari menggibah saudaramu yang mukmin? Apakah kamu telah menolong seorang muslim? Pekerjaan apa saja yang telah kamu lakukan di hari ini?."(Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98).

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa Imam Ali as telah menjelaskan beberapa contoh dari perbuatan baik tersebut sehingga seseorang bisa membandingkan amal perbuatannya dengan hal tersebut. Kalau saja parameter ini tidak ada, pengukuran amal akan menjadi tak beraturan dan pada puncaknya akan masuk pada wilayah yang sifatnya personal dan setiap orang bisa memiliki kesimpulan yang berbeda dari yang lainnya; sebagai perumpamaan bahwa seseorang yang setiap harinya sibuk dengan aktifitas propesinya dan kebiasaannya, mungkin saja akan merasa bahwa ia melakukan pekerjaan yang baik, akan tetapi Imam Ali as telah menetapkan tentang parameter pekerjaan dan perbuatan baik itu dan mengatakan introspeksilah diri dan lihatlah apakah kamu mengingat Allah Swt? Apakah kamu memujinya? Apakah kamu telah membantu yang lain? Apakah kamu telah membela dan mendukung saudaramu yang mukmin dan lain-lain.

Ketika seseorang membandingkan dan mengukur seluruh amal perbuatannya dan itu pun dengan sebuah parameter, maka itu akan menambah peluang berubah serta membaiknya seluruh amal dan aktifitas, karena pada langkah pertama kesadaran dan pengetahuan seseorang terhadap perbuatan-perbuatannya semakin meningkat. Dan akan menemukan bahwa perbuatan dan amal baik mana yang telah ditetapkan dalam syari'at, telah dilakukannya dan yang tidak. Bertambahnya kesadaran diri pada semua amal perbuatan tersebut membuat lowongan untuk perbaikan dan perubahan kondisi seseorang. Pada langkah kedua, ketika seseorang membandingkan, ia seakan-akan ia sedang menimbang-nimbang amal perbuatannya. Menimbang dan mengevaluasi berbagai perbuatan, itu mengandung dampak positif pada perbaikan sikap seseorang. Dengan demikian, menimbang-nimbang seluruh amalan dan perbuatan itu dengan sebuah parameter khusus, itu memiliki dampak yang membangun.

7. merasa sukses dan berterima kasih kepada Allah Swt 

puluhan riwayat yang bermacam-macam dan juga berbagai buku-buku akhlak yang telah menerangkan bahwa seseorang, setelah muhasabah dan introspeksi, ketika menyadari bahwa pekerjaan dan perbuatan yang dilakukannya itu positif, maka ia akan langsung berterima kasih kepada Allah Swt. Seperti sebelumnya bahwa Imam Ali as menyatakan: "yakni kalau setelah pelaksanaan introspeksi diri, ia sadar dan tahu bahwa yang dilakukannya adalah pekerjaan yang sifatnya baik, dengan taufik inilah, ia memuji Allah saw mengagungkannya (Wasailus Syi'ah, jilid 16, hal 98). Imam Kazhim as bersabda:"yakni kalau setelah introspeksi baru ia sadar dan tahu kalau ia telah melakukan pekerjaan yang baik, maka ia akan mengharap supaya Allah Swt menambahkannya" (Al Kafi, jilid 2, hal. 354). Imam Khomeini pun menuturkan bahwa:"Kalau kamu tahu bahwa telah berbuat dan beramal sesuai dengan tuntunan syari'at, hendaknya kamu bersyukur karena taufik ini dan ketahuilah bahwa sanya kamu telah mengalami kemajuan selangkah" (Imam Khomeini, Syarh-e Cehl Hadits, hal 10). 

Oleh karena itu, ketika seseorang selesai dari melakukan introspeksi diri dan tahu serta sadar bahwa dirinya telah mengalami kondisi yang cukup progresif dan sukses dalam menunaikan kewajiban agamanya, maka ia akan merasa telah mengalami kesuksesan dan telah siap melakukan hal yang lebih dari itu.

8. tekad untuk berubah (taubat) 

Seseorang yang ingin aktif melakukan introspeksi diri, sesuai dengan tuntunan buku-buku akhlak, pertama ia harus menyaratkan kepada dirinya untuk tidak lagi melakukan dosa. Kemudian senantiasa waspada jangan sampai berbuat kesalahan lantas yang terakhir, ia harus mengoreksi serta mengevaluasi seluruh amal perbuatannya di setiap akhir waktu. Tentunya pribadi seperti ini, telah bertekad terlebih dahulu untuk mengadakan perubahan. Khajah Abdullah Anshari mendeskripsikan hal ini dengan menuturkan bahwa:"Introspeksi diri hanya bisa dititi setelah betul-betul bertekad melakukan taubat" (Manazilus Sairin, hal. 39). Taubat yakni perubahan dan niat serta tekad untuk bertaubat adalah berniat dan bertekad untuk mengadakan perubahan. Tentunya niat dan tekad ini terjadi sebelum proses introspeksi.

Niat serta tekad untuk meninggalkan perbuatan dosa yakni memiliki motifasi untuk mengadakan perubahan. Seseorang yang telah berniat dan bertekad untuk tidak mendekati yang nama dosa, sejatinya ia telah bertekad untuk merubah dirinya, menjadi orang yang berbeda dari yang dulu, melakukan amal perbuatan yang berbeda dengan yang lalu. Menurut tinjauan psikologi, niat dan tekad semacam ini sangat bernilai, karena pertama seseorang telah menemukan motifasi untuk merubah dan kemudian berniat serta bertekad untuk merubah dirinya. Motifasi semacam ini cukup maksimal dalam memberikan kesiapan terhadap seseorang dalam melakukan perubahan serta memiliki peran dan efek yang cukup banyak dalam memperbaharui sikap dan perbuatan seseorang. Introspeksi diri melalui media motifasi perubahan, dapat melahirkan peran yang luar biasa dalam pendidikan akhlak dan moral seseorang.

Poin Terakhir 

Dalam masalah introspeksi, seseorang beusaha mengkaji serta menilai seluruh amal perbuatannya. Demikian pula, ia akan melakukan hal yang sama terhadap parameter-parameter yang dijadikan seseorang sebagai landasan untuk sampai kepada tujuan dan maksudnya; oleh karena itu, mungkin saja hal ini punya hal-hal yang bisa membahayakan diri seseorang. Penilaian yang tidak objektif mungkin saja bisa membuat introspeksi tersebut tak punya dampak apa-apa dan seseorang tidak akan sampai pada hasil yang diharapkan setelah mengadakan introspeksi. Allamah Thabathabai dalam menafsirkan ayat al Qur'an Surah Al Hasyr ayat 18, menuturkan bahwa:"dalam ayat ini, Allah Swt memerintahkan sebanyak dua kali untuk bertakwa: adapun maksud dari perintah takwa yang pertama adalah, hendaknya seseorang senantiasa menjaga takwa dalam melakukan amal perbuatan, dan adapun maksud dari perintah takwa yang kedua adalah, hendaknya seseorang senantiasa menjaga takwa dalam mengintrospeksi diri" (Allamah Thabathabai, Al Mizan fi Tafsiril Qur'an, jilid 19, hal 219). Jadi hendaknya seseorang teliti dalam introspeksi diri sehingga bisa punya dampak dan hendaknya juga punya keinginan untuk mengadakan perubahan ke arah yang lebih baik.

Introspeksi diri yang tidak memberikan hasil yang gemilang 
  1. Mengkaji kondisi yang ada juga harus dilakukan secara objektif tanpa diserta dengan sikap yang berlebih-lebihan. Kalau seseorang lebih banyak mengevaluasi dan menilai seluruh perbuatannya itu lebih rendah dari apa yang diharapkan, maka penyingkapan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang ada sangatlah jauh. Seseorang akan merasa bahwa ia tidak akan sukses. Dengan ini, ia akan terjatuh dan akan terkalahkan dan puncaknya introspeksi diri tidak bisa berjalan dengan sukses.
  2. Ketika seseorang menjadikan parameter-parameter syari'at sebagai bahan perbandingan. Kalau seseorang memiliki penilaian yang berlebih-lebihan terhadap parameter-parameter ini, maka ia tetap akan merasa bahwa amal perbuatannya sangat jauh dari apa yang syari'at inginkan. Dengan ini, mungkin saja usahanya yang kontinitas itu tidak akan bisa mengurangi jarak yang ada antara kondisi yang sekarang dengan kondisi yang lebih baik dan yang diharapkan, dan seseorang akan terperangkap pada kondisi kehilangan motifasi.
  3. Introspeksi diri harus berakhir pada adanya perubahan dalam bertindak dan beramal, yakni setiap harinya seseorang mengintrospeksi diri dan akan merasa bahwa kondisi dirinya akan mengarah kepada perbaikan. Akan tetapi, kalau amal perbuatan tetap tidak mengalami perubahan dan seseorang hanya sekedar mengevaluasi dan menilai berbagai aktifitasnya dan menyaksikan bahwa ia punya jarak yang jauh dengan kondisi yang baik serta yang diharapkan, maka hal ini munkin saja dapat membuat seseorang tidak termotif lagi dan akan merasa bahwa intropkesi diri tidak lagi bisa mengobati luka dirinya; oleh karena itu, hendaknya hal itu dihindari dan jangan sekali-kali lagi mendekatinya. Jadi, semestinya ia betul-betul melaksanakn introspeksi dan setelah melakukan introspeksi, seseorang harus bertaubat dan berniat serta bertekad meninggalkan berbagai perbuatan dosa, lantas kemudian menjadikan perbuatan beramal sebagai uswah dan semoga Allah Swt memberikan taufik kepadanya. 
Tips Bermuhasabah (Introspeksi diri)

Menjelang puasa, Tahun Baru dan lain sebagainya  adalah saat-saat yang tepat bagi kita untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Gunakanlah pergantian tahun sebagai momen yang tepat untuk melakukan perubahan diri. Beberapa tips untuk melakukan muhasabah yang baik adalah sebagai berikut
  1. Carilah tempat yang tanpa gangguan untuk muhasabah, misalnya di kamar yang sepi, atau di masjid, atau di tempat yang kita agak asing di situ.
  2. Bawa alat tulis dan buku khusus muhasabah. Ini penting, agar kelak, beberapa bulan ke depan atau beberapa tahun ke depan jika suatu saat kita ingin mengukur sejauh mana perubahan telah terjadi dalam diri kita, kita dapat melihatnya dari buku itu.
  3. Berdo’a kepada Allah SWT dan mohonkan ampunan-Nya, kemudian mohonlah agar dapat memuhasabah diri sebagai ikhtiar memperbaiki diri.
  4. Renungkan berbagai kekurangan kita dalam beribadah kepada Allah SWT, baik dalam muamalah kepada sesama ataupun berbagai aspek lain dalam hidup kita. Gunakan pertimbangan ukhrowi saat merenungkan, maksudnya renungkanlah akibat perbuatan kita dari sisi Allah, bukan hanya dari sisi duniawi saja. Catatlah renungan di buku kita itu. Jangan malu menuliskan kekurangan kita. Format bebas sesuai kesukaan masing-masing. Sebagai contoh, bisa dibagi kertas itu dalam 2 bagian. Bagian yang lebar untuk menuliskan hasil muhasabah kita. bagian yang kecil nanti untuk menuliskan solusinya.
  5. Setelah merasa cukup menuliskan semua hal yang kita rasa perlu diperbaiki dalam diri kita, barulah tuliskan solusi-solusinya di kertas bagian kanan di buku khusus kita itu. Buatlah solusi yang riil (terjangkau) yang dapat kita lakukan dalam waktu dekat. Bisa harian atau mingguan. Setiap kita pastilah memiliki solusi-solusi yang berbeda bergantung dengan cara pandang, pola pikir, dan wawasan kita.
  6. Setelah usai membuat solusi, bacalah ulang semua yang telah kita tulis tadi. Azzamkan/ teguhkan dalam diri kita bahwa kita akan menjalankan solusi-solusi riil itu.
  7. Perbanyaklah ibadah dan ketaatan pada Allah SWT dengan terus berdo’a agar memperbaiki diri kita dan meneguhkan semua ikhtiar kita dalam menuju ridho-Nya. Mintalah bantuannya ketika kita butuh bantuan diikuti dengan ikhtiar sebagai salah satu syarat terkabulnya do’a kita itu. Ikutilah setiap kesalahan atau perbuatan buruk yang kita perbuat dengan perbuatan baik. Lakukan terus menerus perbuatan baik yang dicintai Allah SWT sebanyak-banyaknya.
  8. Evaluasilah hasil kita dalam jangka waktu tertentu. bisa per 3 hari, lalu per minggu, dan per bulan. Lakukan dengan konsisten dengan terus meningkatkan kapasitas “solusi” yang kita buat. Terus perbaiki yang kurang dalam diri, dengan terus memohon kepada Allah SWT.
  9. Jika gagal, bangkit lagi, gagal, bangkit lagi, dan terus bangkit. jangan sampai kita menyerah karena menyerah berarti lari dari rahmat Allah SWT
Semoga dengan muhasabah yang baik kita akan menjadi hamba-Nya yang makin mendekat kepada-Nya, mendekat pada syafaat Rasulullah SAW dan pada akhirnya, mendekat pada surga-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Amin.

1 komentar:

  1. Jenengku yaiku Amisha, aku dadi randha karo rong anak. Aku weruh postingan blog babagan perusahaan sing bisa menehi wong dhuwit kanggo miwiti bisnis, aku hubungi wong-wong mau, aku nindakake kabeh sing padha takon lan aku diwenehi etangan. email kula yen sampeyan perlu klarifikasi utawa informasi liyane (ammisha1213@gmail.com)

    Yen sampeyan butuh dhuwit kanggo miwiti bisnis, kesempatan iki kanggo sampeyan.

    Perusahaan investasi Suzan menehi tarif kapentingan sing kurang. Perusahaan Suzan nawakake kabeh jinis silihan saka $ 1,000 nganti $ 10.000.000.

    Email: (suzaninvestment@gmail.com).

    BalasHapus