Rabu, 09 Januari 2013

YOGA

"Bagaikan bulan dalam tempayan air. Seperti itulah Tuhan enampakkan dirinya kepada orang yang melakukan Yoga." (Paramhansa Yogananda)
Pengertian

Yoga berasal dari bahasa Sanskrta 'Yuj'berarti "menghubungkan" atau "mempersatukan". Yoga adalah suatu teknik untuk menghubungkan kesadaran manusia dengan Ilahi. Pernyataan ini bukan berarti  "penyatuan" Tuhan dan manusia secara fisika, namun kesadaran. Sebenarnya bukannya Tuhan yang terpisah dari manusia, tapi manusialah yang memisahkan diri. Ketidaktahuan (avidya) yang menjadi sebab terjadinya pemisahan antara manusia dan Tuhan. Jenis penyatuan ini sulit untuk diwujudkan. Namun, tiap usaha walaupun kecil tetap ada manfaatnya. Penyatuan ini seperti sungai menuju ke samudra yang kemudian lenyap meninggalkan nama dan bentuknya. Begitu pula seseorang yang menyatu dengan yang Ilahi..

Yoga bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan agama atau kepercayaan tertentu. Yoga adalah Yoga. Yoga merupakan suatu satu seni spiritual yang lebih tua dari agama apa pun di dunia, termasuk agama Hindu dan Buddha. Para Yogi (praktisi yoga) sudah terdapat di India jauh sebelum jaman Veda, jaman berdirinya agama Hindu.  Namun harus diakui, bahwa Yoga sekarang merupakan warisan dari budaya India. Maka istilah-istilah dalam Yoga mempunyai banyak kesamaan dengan istilah-istilah dari agama yang lahir di India. Oleh karenanya, bila ingin mendalami Yoga, harus tidak keberatan menerima istilah-istilah sanskrta. Sebagaimana kita tidak pernah keberatan menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris untuk mendalami ilmu Ekonomi. Sampai saat ini, praktisi yoga tidak hanya pemeluk Hindu saja, namun dari berbagai agama dan kepercayaan. Yoga adalah milik dunia, tanpa ada ikatan agama maupun tradisi.  Sebagaimana sinar matahari, semua berhak berjemur dibawahnya.

Bila kita mengenal Kungfu dan yang  semacamnya sebagai sebagai suatu seni untuk membela diri, maka Yoga merupakan suatu seni untuk mengenal diri. Mengenal diri sendiri adalah syarat dalam spiritual. "Siapa yang mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya". Sebagai seni spiritual (Sadhana), maka gerakan Yoga tidak seperti senam biasa, harus berlandaskan moralitas, barulah diperoleh kesadaran spiritual, sembuh dari penyakit, kebangkitan kundalini, dan penghapusan karma. Sebagaimana seni bela diri, berlatih Yoga juga memerlukan disiplin yang keras. Tidak ada dispensasi untuk memperpendek jalan. Namun, berlatih Yoga tidak ada istilah terlambat untuk dimulai. Apakah seorang anak - orang tua, wanita - pria, cacat - sehat, terpelajar - buta huruf, bahkan seorang yang suci atau pendosa pun dengan kesungguhan hati semuanya dapat berlatih Yoga. Latihan yoga tidak harus meninggalkan keluarga dan menyepi di hutan. Seorang Yogi (praktisi yoga) bisa saja berada di tengah keramaian dunia. Seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, tapi tidak tercemar oleh lumpur.

Teknik yoga merupakan explorasi terhadap diri sendiri, sehingga dapat memaksimalkan segenap potensi diri yang belum dikenali. Tubuh manusia merupakan perangkat komputer yang super canggih sekaligus pesawat yang dapat membawa dirinya menjelajah ke seluruh pelosok penjuru bumi dan langit  Yoga membawa manusia untuk melampaui yang fana, baik yang tampak maupun tidak tampak. Yoga menuntut pengalaman langsung. Tidak hanya berkutat pada pengetahuan saja, sebagaimana kaum cendekiawan, berolah pikir dan berdebat tentang Tuhan, alam dan manusia, tapi tidak pernah sampai pada pengalaman yang lebih jauh tentang alam, manusia, dan Tuhan. Bahkan seringkali justru terjerumus pada pen-dewa-an akal dan alam, kemudian mengesampingkan Tuhan. Mereka tidak memiliki pengalaman rohani, karena tidak pernah menterjemahkan pengetahuannya dalam hidup sehari-hari. Menguasai berbagai kitab suci, tapi tidak memahaminya. Memahaminya tapi tidak melaksanakan. Di sinilah perbedaan antara para Yogi dengan para cendekiawan.

Jenis-Jenis Yoga

Di bumi ini ada ratusan bahkan ribuan macam Yoga. Secara garis besar dapat dibedakan dalam empat macam, yaitu Jnana Yoga, Bhakti Yoga, Karma Yoga, dan Raja Yoga. Adapun Mantra Yoga, Japa Yoga, Hatha Yoga, Kundalini Yoga, dll. dikatagorikan sebagai Yoga hasil dari pengembangan. Namun semua perbedaan terjadi hanya pada penekanannya saja, adapun tujuannya sama.

  1. Jnana Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pengetahuan. Praktisi yoga ini beranggapan bahwa kebodohan (avidya) merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan dan kelalaian. Terhapusnya kebodohan, maka terhapus pula kemiskinan, ketidakadilan, kesewenangan, serta kerusakan alam semesta. Dengan demikian semakin damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya.
  2. Karma Yoga, merupakan yoga yang dilakukan penekanan pada tindakan. Para praktisinya selalu memperhatikan segala sesuatu yang diperbuatnya, sehingga tidak menimbulkan karma yang membawa pada penderitaan. Para praktisinya tidak pernah mengeluh menghadapi masalah kehidupan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma yang telah dibuatnya, maka harus diterima dan dihadapi sebagai pendidikan dan kasih sayang Ilahi. Konsep ini banyak disalah-pahami sebagai konsep hidup pasif, padahal konsep ini justru membawa manusia menjadi aktif dalam menghadapi kehidupan. Karma Yoga mengajarkan pada manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan, bukan melarikan diri dari persoalan. Praktisi Karma Yoga tidak pernah melarikan diri dari masalah. Melarikan diri bukan solusi, tapi justru menimbun masalah dan membuat masalah baru. Masalah tidak akan pernah hilang, yang ada hanyalah penundaan dan penumpukan. Untuk menyelesaikannya, mau ataupun tidak, suka ataupun terpaksa, semua harus dihadapi. Entah kapan, yang jelas semua persoalan perlu penyelesaian. Banyak penderita stress, bahkan yang bunuh diri, dikarenakan tidak mau menerima suatu persoalan sebagai kenyataan dan menyelesaikannya, kemudian melarikan diri tanpa mau menghadapi dan menyelesaikannya.
  3. Bhakti Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pada bakti kepada Tuhan, yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi Bhakti bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua ciptaanNYA. Mencintai ciptaan merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta itu sendiri. Cinta seorang Bhakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci yang miskin maupun yang kaya, yang indah maupun yang buruk, yang pintar maupun yang bodoh, yang beriman maupun yang kafir.
  4. Raja Yoga, merupakan yoga yang dilakukan dengan menekankan pada pengendalian pikiran. Dengan mengendalikan pikiran, maka terkendali pula semua indra-indra manusia. Hasil dari semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.). Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Perkembangan kemudian, hanya Raja Yoga lah yang dikenal sebagai Yoga. Bagi praktisi Raja Yoga, praktek Hatha, Japa, Mantra, Kundalini, dsb. bukanlah sesuatu yang terpisah.
Bagian-Bagian Yoga

Patanjali, seorang Yogi, menerangkan bahwa yoga memiliki 8 bagian yang tidak terpisahkan. Bagian-bagian yoga tersebut tidak dapat dipisahkan, sebagaimana bagian tubuh manusia yang juga tidak dapat dipisah-pisahkan. Kedelapan bagian itu adalah :

1.      Yama (menjauhi larangan),
2.      Niyama (mentaati perintah),
3.      Asanas (sikap-sikap badan),
4.      Pranayama (pengaturan prana),
5.      Pratyahara (pengaturan indra),
6.      Dharana (konsentrasi),
7.      Dhyana (meditasi),
8.      Samadhi (keseimbangan total).

Kedelapan bagian tersebut adalah satu kesatuan yang dikenal sebagai Astanga Yoga. Telah dijelaskan di atas bahwa Yoga adalah sadhana (disiplin spiritual), maka pondasinya adalah moralitas (Yama dan Niyama). Tanpa moralitas tidak dapat disebut sebagai Yoga.

Kemampuan supernormal (shakti) bukanlah tujuan yoga. Banyak sekali kemampuan supernormal dapat diperoleh dengan teknik yoga. Namun tanpa didukung dengan moralitas yang baik, maka kemampuan-kemampuan tersebut tidak akan menunjang peningkatan spiritual para praktisi yoga. Keinginan untuk memperoleh kemampuan supernormal bukanlah sesuatu yang salah, namun keterikatan itulah yang tidak dapat dibenarkan.

Bagi pemula seringkali kemampuan ini menjadi obsesi sehingga menghambat perkembangannya. Adapun bagi praktisi yang sudah memperoleh seringkali terjerumus dalam penyalahgunaan daya super tersebut sehingga membuat semakin jauh dari tujuan spiritual. Tanpa ditunjang dengan moralitas yang baik, kemampuan supernormal justru memperburuk kondisi praktisi. Perlu diingat bahwa segala perbuatan merupakan "sebab" yang akan melahirkan "akibat". 

Rsi Patanjali menetapkan Yama dan Niyama sebagai dasar moralitas kehidupan spiritual. Aturan ini dibuat untuk para praktisi yoga supaya tetap berada dalam jalur spiritual yang benar. Dan hendaknya diingat bahwa moralitas bukan merupakan puncak tujuan hidup kerohanian, namun hanyalah merupakan suatu perangkat. Walau demikian moralitas harus digariskan sedemikian rupa sehingga mampu melengkapi kehidupan manusia dengan penuh "keserasian" dan "keindahan" untuk bergerak maju di dalam menempuh jalan kerohanian. Yama dan Niyama bukan suatu perangkat hukum yang bermakna perintah. Yama dan Niyama adalah suatu nasehat yang tidak menekankan pada hukuman bila melanggar, namun menekankan pada keuntungan bila dilaksanakan.

1.  Yama dan Niyama

A.   Yama

Yama (kendali) terdiri dari lima aspek yang prinsip yaitu Ahimsa, Satya, Asteya, Brahmacarya dan Aparigraha. Kelima prinsip Yama ini lebih bermakna ekstern yaitu mengatur hubungan diri kita dengan pihak lain.
  1. Ahimsa, jangan berbuat kekerasan. Jangan sekali-kali dengan sengaja menyakiti mahluk lain baik dalam perbuatan, ucapan, maupun pikiran. Hal terpenting dalam prinsip ini adalah bahwa pencari spiritual harus selalu mempertahankan sikap tanpa kekerasan.
  2. Satya, jangan tidak jujur. Ini merupakan salah satu alasan mengapa para praktisi spiritual lebih banyak diam. Prinsip ini harus didorong oleh semangat untuk memberi kebahagiaan sehingga melahirkan kebaikan untuk bersama.
  3. Asteya, jangan mencuri. Prinsip ini bertujuan untuk melepaskan keterikatan pada sesuatu yang bukan milik kita baik dalam pikiran maupun perbuatan. Tipu muslihat yang menyebabkan orang lain tidak mendapatkan apa yang semestinya telah menjadi haknya, termasuk katagori mencuri.
  4. Aparigraha, jangan menerima. Prinsip ini merupakan konsekwensi wajar dari prinsip "jangan mencuri". Aparigraha merupakan perjuangan terus menerus guna membatasi kesenangan pribadi yang diperoleh dari penderitaan orang lain.
  5. Brahmacarya, mengalir bersama Brahma, tetap melekat pada Brahma (Tuhan). Pengertian Brahmacarya yang benar adalah memandang dengan sepenuh perasaan jiwa bahwa di dalam segala-galanya tersembunyi kecemerlangan sinar Brahma, cahaya Illahi. Dengan demikian memunculkan rasa saling menghormati sesama mahluk dan menciptakan kekuatan untuk pengendalian diri di semua bidang kehidupan,
B.    Niyama

Niyama (lakukan) terdiri dari lima prinsip pula yaitu shaoca, santosa, tapah, svadhaya, Isvara Pranidhana. Berbeda dengan Yama, prinsip Niyama lebih bermakna intern yaitu mengatur diri kita sendiri.
  1. Shaoca, kebersihan. Bersih secara lahir dan batin. Menjaga agar badan, pakaian dan lingkungan tetap bersih, merupakan kebersihan lahiriah, dengan kebersihan ini maka benda-benda yang langsung berhubungan dengan diri kita dibersihkan sehingga baik untuk dipergunakan. Kebersihan batin, merupakan kegiatan mental yang harus dilakukan dengan menghilangkan segala kekacauan di dalam pikiran.
  2. Santosa, kepuasan. Keadaan yang menyenangkan dan wajar. Ini dicapai dengan didasarkan bahwa kesenangan tidak akan dapat dicapai dengan mengikuti dorongan-dorongan lahiriah berupa keinginan-keinginan yang tak berkesudahan.
  3. Tapah, kesederhanaan. Keadaan yang tidak berlebih-lebihan dalam segala sendi kehidupan.
  4. Svadhyaya, Sva (diri sendiri); dhyaya (belajar). Svadhyaya memiliki arti lebih dari sekedar introspeksi diri. Svadhyaya berarti memahami dengan sebaik-baiknya setiap permasalah diri. Mencari kebenaran di balik semua kejadian, bukan mencari pembenaran akan tindakan.
  5. Ishvara Pranidhana, Isvara (Tuhan); Pranidhana (menjadikan sesuatu sebagai tempat bersandar). Ishvara Pranidhana bermakna penyerahan diri atau pengabdian kepada Tuhan. Dalam artian bahwa satu-satunya tujuan hanyalah Tuhan dalam segala tindakan. Maksud dari sadhana ini adalah dalam setiap aktivitas kita, senantiasa mengingat Tuhan, bahkan dalam keadaan tidur sekalipun, sehingga suatu ketika akan dicapai keadaan turiya, suatu keadaan dimana kesadaran Illahi selalu ada dalam keadaan dan aktivitas apapun. Jika kita mau menyadari bahwa dalam 24 jam sehari seluruh aktivitas tubuh kita melakukan aktivitas mengingat tuhan (zikr), dalam denyut jantung, setiap tarikan dan hembusan napas, pori-pori kulit, aliran darah, kedipan mata, dsb. Yang kita perlukan hanyalah menyadarinya sepenuhnya hakekat dari semua itu. Maka langkah awal yang termudah untuk menyadarinya adalah melalui Ishvara Pranidhana. Dalam setiap aktivitas kita, senantiasa mengingat Tuhan, memusatkan dan mengarahkan pikiran pada Tuhan. Jika hal ini kita lakukan maka kesadaran akan semakin meluas, mencapai kesadaran supra, dan bahkan melampauinya.
Yama dan Niyama sangat penting bagi seorang praktisi spiritual Yoga. Perbuatan yang bertentangan dengan sepuluh prinsip di atas dapat menjatuhkan seorang yogi.  Rsi Patanjali menjelaskan bahwa lobha (keserakahan), krodha (kemarahan), dan moha (keterikatan) menjadi penyebab kelalaian yang menjerumuskan seorang yogi untuk melanggar kesepuluh prinsip di atas. Karena Yama dan Niyama merupakan panduan untuk menghadapi realitas kehidupan, maka Yama dan Niyama ini merupakan pondasi untuk mencapai kesempurnaan jalan yoga selanjutnya yaitu asana, pranayama, pratyahara, dharana, dhyana, dan samadhi.

2.  Asanas

Asanas adalah pengaturan sikap-sikap tubuh. Dalam perkembangannya menjadi sebuah teknik yang disebut Hatha Yoga, yoga yang mempelajari berbagai postur-postur untuk memperbaiki sistem tubuh. Seorang praktisi Hatha Yoga melakukan berbagai postur tubuh untuk merangsang berbagai kelenjar dan syaraf, selain untuk keseimbangan tubuh dan menjaga keremajaan seluruh persendiannya. Asanas tidak hanya berarti sikap yang nyaman dalam postur-postur tubuh saja, tapi secara luas adalah pola hidup yang nyaman, yaitu pola hidup yang seimbang. Makan tidak berlebihan, puasa juga tidak berlebihan. Mencintai tidak berlebihan,-membenci juga tidak berlebihan, dan seterusnya. Rasa nyaman ini harus permanen-tidak temporer.

3. Pranayama

Pranayama yaitu menyadari proses pernafasan. Menyadari proses pernafasan berarti menyadari tipisnya jarak antara kehidupan dan kematian. Bermula dari sini manusia akan mencapai tingkatan kasih tanpa pamrih. Tingkatan ini-lah yang membedakan antara manusia dengan hewan.

4. Pratyahara

Pratyahara berarti menyadari pola-pola berpikir. Pola pikir terkendali maka kontrol diri (indra-indra) juga terkendali. Dengan demikian seseorang tidak akan tergoda oleh objek-objek duniawi. Peng-haram-an atas objek-objek dunia, seperti sex bebas, narkoba, dsb. Tidak akan banyak membantu. Justru, pelarangan tersebut seringkali membuat seseorang terobsesi. Ajaran yoga tidak mengharamkan sesuatu apa-pun, tapi menuntut pengendalian/pelepasan diri terhadap objek-objek duniawi tersebut. Demikian-lah yoga, menuntut pelepasan ego secara luas. Selama seseorang belum dapat mengendalikan dirinya, maka tidak dianjurkan melakukan yoga (jalan spiritual). Karena tujuan yoga adalah menenangkan danau pikiran manusia sehingga bayangan ilahi nampak terlihat dengan sangat jelas. Oleh sebab itu, supaya pikiran tidak kacau maka dibutuhkan niat yang kuat dalam melaksanakan yoga.

5. Dharana

Dharana (konsentrasi), mencapai konsentrasi berarti seseorang telah mencapai ketenangan yang alami.Ketenangan yang permanen-bukan dibuat-buat. Pada bagian ini seseorang mencapai kedamaian Illahi sekaligus memancarkan cahaya ilahi pada lingkungannya. Tidak ada lagi gundah-gulana, sedih-gembira, baik-buruk, yang dapat mempengaruhinya.

6. Dhyana

Dhyana (meditasi yang mendalam),menyadari sesuatu tanpa ada gangguan lagi.

7. Samadhi

Samadhi (tujuan akhir meditasi), kondisi ini tidak dapat lagi dijelaskan. Inilah pencerahan, tempat pertemuan antara kekasih dengan yang dikasihi, pertemuan antara hamba dengan Tuan, pertemuan antara Khalik dengan mahluk.
Demikian sekilas penjelasan tentang 8 bagian yoga yang diajarkan oleh Patanjali. Kedelapan bagian tersebut berkaitan-tidak bisa dipisahkan. Pelaksanaan dari 8 bagian tersebut itu-lah yang disebut yoga dalam arti yang sesungguhnya. Ini perlu dijelaskan karena bagi masyarakat Indonesia, yoga seringkali disalahartikan sebagai “akrobat” atau semacam “praktek-praktek klenik”, dan lain sebagainya.

I.   Kelenjar-kelenjar penting dalam tubuh

Saling ketergantungan antara kelenjar dan emosi dihubungkan oleh kelenjar endokrin, yang memimpin simponi tubuh yang rumit dengan mengeluarkan cairan hormon ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini mempunyai bermacam-macam efek tidak hanya terhadap fungsi tubuh saja, seperti pertumbuhan, pencernaan, energi, seks, dan lain-lain, melainkan juga berpengaruh terhadap pikiran.

Kadar hormon memiliki efek yang bermacam-macam terhadap suasana hati, temperamen dan efisiensi mental. Kelebihan dan kekurangan hormon dapat menyebabkan gangguan emosi dan mental, yang merusak kesehatan dan ketenangan pikiran. Kelebihan hormon yang berasal   dari kelenjar tiroid, misalnya akan membuat orang yang sangat normal menjadi gugup dan mudah marah. Pada saat ovulasi seorang wanita kelihatan optimis dan penuh percaya diri, yaitu pada saat hormon estrogen dan progresteron berkadar tinggi, akan tetapi wanita tersebut akan menjadi was-was dan pemarah ketika kadar hormonnya menurun, yaitu pada saat sebelum dan selama menstruasi. Ada interaksi yang dinamis antara emosi, hormon dan penyakit - antara tubuh dan pikiran.

Hubungan di atas telah lama dirasakan oleh para yogi yang mengembangkan sistem latihan untuk memberikan tekanan yang spesifik pada bermacam-macam kelenjar endokrin.
  1. Kelenjar Pineal, Merupakan kelenjar yang paling misterius dalam tubuh manusia, terletak tepat di tengah otak. Para Yogi menyebutkan sebagai salah satu bagian dari Guru Chakra, yaitu yang berhubungan dengan tubuh fisik, dan merupakan inti jiwa atau pengendali pikiran. Kelenjar ini mengeluarkan cairan hormon yang disebut 'seratonin' dan 'melatonin', yang tidak saja mempengaruhi oran-organ tubuhnamun juga situasi pikiran. Kelenjar ini sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga pada saat malam jumlah melatonin yang dikeluarkan sangat tinggi dan seratoin sangat rendah. Hal ini menghasilkan rasa rileks pada tubuh dan pikiran sehingga kita mudah tertidur. Sepanjang siang hari, keadaan yang berlawanan terjadi, jumlah melatonin berkurang dan seratonin bertambah, sehingga menghasilkan suasana penuh aktivitas. Jika prosuksi seratonin secara bertahap dihentikan, maka seseorang akan merasakan keadaan yang semakin damai sebelum ia memasuki keadaan yang lebih tinggi dan dapat merasakan kebahagiaan batin dan perasaan bersatu dengan alam.
  2. Kelenjar Pituitari, Dalam ilmu kedokteran disebut kelenjar utama, namun dalam kenyataannya berfungsi sebagai stasiun pemancar bagi impuls-impuls yang muncul pada hipotalamus di dalam otak, yang menghubungkan sistem saraf dengan sistem kelenjar. Kelenjar ini mengirim berita dari hipotalamus ke semua kelenjar endkrin dalam tubuh. Hormon pituitari merangsang gerakan usus, menggiatkan jalan darah, mengontrol suhu tubuh, pertumbuhan, perkembangan dan menstimulir kerja ginjal. Produksi kelenjar pituitari yang tidak semestinya mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal, seperti kegemukan, kerdil, terlalu besar, dsb.
  3. Kelenjar Tiroid dan Paratiroid, Terletak di leher (dengan lubang-lubangnya pada kedua sisi jakun), mengendalikan kecepatan metabolik tubuh, dimana terjadi proses kimia dari tubuh. Kelenjar ini mengatur proses perbaikan dan pembuangan. Hormon yang dihasilkan dari kelenjar 'paratiroid' mengatur metabolisme kalsiun dan fosfor. Ketidak seimbangan kelenjar tiroid ini bisa berakibat serius. Kelebihan sedikit produksi hormon ini akan menyebabkan seseorang mudah sekali tersinggung, sedangkan kelebihan banyak kelenjar tiroid akan menyebabkan gugup, jantung berdebar, sulit tidur, gangguan usus, serng berkeringat, gemetar, kehilangan berat badan. Sebaliknya kekurangan hormon ini akan menyebabkan rasa lelah dan lemah, sedangkan sangat kekurangan hormon ini akan menyebabkan metabolisme yang lambat, lemah jantung, sehu rendah, dungu, nafsu makan turun, lambat bicara dan kegemukan.
  4. Kelenjar Timus. Terletak di belakang tulang dada, pada masa anak-anak bentuknya sangat besar dan mengkerut menjadi seperempat dari bentuk aslinya pada masa puber. Kelenjar ini mengatur daya tahan tubuh terhadap penyakit.
  5. Kelenjar Adrenal, Terletak tepat di atas ginjal, membantu mengendalikan pengeluaran panas dan energi secara mendadak dan menstimulir respon untuk melawan atau menghindar. Pada saat krisis, ketika semua tergantung pada kerja otot, maka otak akan mengirim berita kepada kelenjar ini, yang segera mengeluarkan cairannya ke dalam aliran darah. Cairan adrenalin mempercepat kerja jantung dan memperlebar aliran darah ke otot serta menstimulir kelenjar keringat, sehingga tubuh menjadi sejuk. Hal ini memperlambat gerakan organ pencernaan dan mengkontraksi aliran-aliran darahnya, hal ini membuat limpa mengeluarkan simpanan gulanya sehingga otot-otot mempunyai suplai bahan bakar yang berlimpah. Seseorang yang kelenjar adrenalnya tidak mampu berproduksi secara cukup, tidak akan beraksi degan baik pada saat menghadapi suatu krisis, sebaliknya apabila terlalu banyak beroduksi akan menyebabkan ketegangan saraf.
  6. Kelenjar Pankreas, Terletak di perut dan menghasilkan enzim pencernaan yang disalurkan ke dalam usus kecil, seperti insulin, suatu hormon yang menurunkan kadar gula (yang menjadi sumber energi) dalam darah. Kerusakan kelenjar ini menyebabkan penyakit diabetes.
  7. Kelenjar Gonads, Gonads (ovarium dan testis) terutama mengatur fungsi seksual. Pada wanita, ovarium terletak di daerah perut dan pada pria, testis terletak di daerah kantung kemaluan. Kelenjar ini memproduksi sperma dan sel telur, mengeluarkan andrenogen (hormon seks pria) dan estrogen (hormon seks wanita). Hormon-hormon ini mengatur perkembangan fisik dan pola seksual. Proporsi hormon yang tepat menyebabkan terjadinya keseimbangan kepribadian.
II.        Efek Asanas

Seluruh jaringan, sel, organ tubuh manusia dipengaruhi oleh hormon, pertumbuhan yang wajar dan fungsi bermacam-macam bagian tubuh hanya mungkin berjalan jika ada keseimbangan pengeluaran hormon, ketidak seimbangan sedikit saja dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam penyakit.

Gerakan asanas membuat produksi hormon dari berbagai kelenjar menjadi seimbang.

Posisi menekuk dan meregang dari gerakan asanas yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, memberikan tekanan yang khusus dan kontinyu pada kelenjar-kelenjar, sehingga akan merangsang kelenjar dengan berbagai cara, mengatur produksi kelenjar dan akhirnya akan mengontrol emosi. Jika keseimbangan kelenjar teratasi, pikiran menjadi bebas dan ganggunan emosi serta ketenangan batin yang sempurna akan tercapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar