Senin, 07 Januari 2013

MISTERI ROH MANUSIA DAN JUMLAHNYA

aبِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِارَّحْمَنِ ارَّحِيم

Persoalan roh, atau ruh, sejak dulu hingga kini tetap menjadi misteri. Sebab pengetahuan manusia tentang roh sangatlah sedikit, dan lebih banyak prasangka daripada kenyataan. Karena itulah timbul berbagai pemikiran dan kepercayaan tentang roh. Namun berbagai pendapat manusia tentang roh lebih banyak menyesatkan dari pada memberi petunjuk.
Pengetahuan yang benar tentang roh tentang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Ini bisa kita tilik dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. Ketika itu seorang Yahudi pernah bertanya tentang roh kepada beliau, sebagaimana diabadikan di dalam Al-Qur’an, surah Al-Isra’: 85.

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-mu, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Dalam riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud dikemukakan, Nabi Muhammad SAW, pada suatu hari berjalan bertongkat di Madinah disertai Ibnu Mas’ud, dan lewat di depan segolongan kaum Yahudi. Salah seorang dari mereka berkata, “Mari kita bertanya kepadanya.” Merekapun berkata; “Cobalah terangkan kepada kami tentang roh?”

Nabi Muhammad SAW berdiri sesaat dan mengangkat kepalanya ke langit, beliau diberi wahyu. Kemudian Nabi bersabda; “Roh itu termasuk urusan Tuhan mu, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

Kata Ar-Ruh dalam Al-Qur’an terulang sebanyak 24x dengan berbagai konteks dan makna. Dari semua ayat itu tidak ada yang berkaitan dengan manusia. Al-Maraghi dalam tafsir Al-Maraghi juz 15 menyebutkan, ada tiga pendapat mengenai kata Ar-Ruh di dalam Al-Qur’an.

1. Ar-ruh yang dimaksud ialah Al-Qur’an.

Al-Qur’an memang juga disebut Ar-Ruh di beberapa tempat dalam Al-Qur’an, misalnya seperti firman Allah dalam surah Asy-Syura:52, “Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu Ar-Ruh (wahyu Al-Qur’an) dengan perintah kami.”
Dengan Al-Qur’an-lah kehidupan roh dan akal bisa diperoleh, karena dengan kitab suci inilah bisa diperoleh pengenalan mengenai Allah, para Malaikat, Nabi, dan Rasul-Nya, Kitab-kitabNya, dan akhir zaman.

2. Ar-Ruh yang dimaksud adalah malaikat Jibril AS.

Ini pendapat Al-Hasan Bashri dan Qatadah. Jibril disebut pula Ar-Ruh di bebagai tempat dalam Al-Qur’an, seperti firman Allah SWT surah Asy-Syura; 193); “Al-Qur’an dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad).”
Juga firmanNYa surah Maryam:17 ; “Lalu kami mengutus roh ciptaan kami (Jibril) kepadanya (Maryam).” Sementara itu, Jibril sendiri berkata pada ayat lain, surah Maryam (64), “Dan tiadalah kami (Jibril) turun kecuali dengan perintah Tuhanmu.”

3. Ar-Ruh yang dimaksud Ar-Ruh adalah yang membuat tubuh manusia menjadi hidup.
Ini pendapat Jumhur, kesepakatan mayoritas ulama.

HAKIKAT ROH

Dalam penggalan pertama surah Al-Isra’ (85) disebutkan, roh adalah urusan Allah, bukan urusan makhluk, termasuk manusia. Hanya Allah yang tahu hakikatnya. Dan penggalan berikutnya menyebutkan, kalaupun makhluk atau manusia tahu, karena mereka diberi ilmu oleh Allha, dan jumlahnya hanya sedikit. Dari yang ‘sedikit’ itu, menurut Al-Marqhi, ada dua pendapat mengenai hakikat roh.

1. Roh adalah Jisim Nurani,

Sebangsa cahaya, yang hidup dan bergerak dari alam yang tinggi. Tabiatnya berbeda dengan tabiat jisim yang bisa diindera dan berjalan dalam jasad kasar. Ini sebagaimana air mengalir dalma bunga mawar, minyak dalam zaitun, dan api dalam bara. Ia tidak bisa digantikan, dipisah-pisahkan, maupun dipecah-pecah. Roh memberi kepada jasad ini kehidupan dengan segala aksesnya. Kalau tidak, jadilah kematian. Ini pendirian yang dipegang teguh Ar-Razi dan Ibnu Qayyim dalam Kitabul Ruh telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

2. Roh bukanlah Jisim dan bukan pula sebangsa Jasmani.

Ia berkaitan dengan tubuh, dengan sikap membimbing dan mengatur saja. Ini adalah pendapat yang dianut oleh Hujjatul Islam (Pembela Islam) Imam Al-Ghazali dan Abu Qasim Ar-Raghib Al-Isfahani.

Orang sering menyamakan roh dengan nyawa, nafs. Kalau kita merujuk pada Al-Qur’an jelas keduanya berbeda. Sebagaimana pengertian di atas, roh adalah urusan Allah, sedang nafs lebih banyak merupakan urusan manusia.

Kesalahan menganggap bahwa roh sama dengan nafs terjadi ketika orang mengartikan ayat alam surah Shad (71), “Sungguh Aku menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya, dan ku-tiupkan roh-Ku kedapanya, hendaklah kelian hormat kepadanya.”

Juga pada surah As-Sajdh (8-9); “Setelah manusia diberi ruh, akan hidup. Tetapi mengapa ketika mati yang merasakan adalah nafs, bukannya roh? Sebagaimana Al-Qur’an surah Ali Imran (185) menyebutkan,” Tiap nafs merasakan kematian.

Jadi yang keluar dari tubuh manusia ketika mati bukan roh, tetapi nyawa atau nafs. Menurut Dr. Mustafa Mahmud, dalam bukunya terjemahaan Al-Qur’an Kainun Hayyun, nafs merasakan kematian tetapi tidak mati.

Ia merasakan kematian pada saat keluar dari badan. Nafs sudah ada sebelum manusia lahir, dan akan ada sepanjang hayat. Setelah jasad mati dan nafas keluar, ia akan kembali lagi kepada jasadnya di hari kiamat.

Wujud nafs sebelum lahir dapat diketahui dari firman Allah, surah Al-A’raf (172), “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-cucu Adam dari sulbi (pinggang) mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap nafs mereka seraya berfirman, ‘Bukan aku ini Tuhanmu?’ mereka menjawab,’ Benar (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”

Sementara Dr. Quraish Shihab dalam makalah berjudul manusia dalam pandangan Al-Qur’an cenderung pada pendapat bahwa, usai ditiupkan roh kepada manusia, manusia menjadi alq akhar (makhluk yang unik), seperti pada surah Al-Mukminun:14.

Makhluk yang unik, dalam arti berbeda dengan makhluk lain, seperti orang utan (binatang), yang juga punya nyawa tetapi kepadanya tidak ditiupkan roh. Karena itu, nyawa bukan sesuatu yang menjadi manusia unik, tetapi rohlah yang membuat manusia menjadi lain dari makhluk lainnya.

Kata nafs selalu merujuk kepada makhluk, tetapi ada juga yang menunjuk kepada “Nafs Tuhan” (termasuk ayat mtasyabihat, ayat yang belum diketahui secara pasti pengertian), seperti firman-Nya, surah Al-an’am:12), “Allah mewajibkan atas nafsNya menganugerahkan rahmat. Begitu juga surah Ali Imran: 28,” ….. dan Allah mengingatkan kamu akan nafs-Nya. Juga, surah Al-Maidah: 116, “Engkau mengetahui nafs-ku (Isa), tetapi aku tidak mengetahui nafs Engkau.”

Hanya saja, apabila nafs dinisbahkan kepada Allah, itulah zat Allah. Nafs Iiahiah dan nafs insaniah hanya sama dalam sebutan, tetapi pada hakikatnya sangat berbeda. Sebab, sebagaimana disebut dalam surah Asy-Syura: 11, “Tiada sesuatu yang serupa dengan dia.”



Apakah benar apabila seseorang telah meninggal dunia rohnya dapat memasuki jasad orang yang masih hidup (keluarganya) dan berkomunikasi dengan orang sekitarnya melalui jasad orang yang masih hidup, Bagaimana pandangan Islam mengenai hakekat keberadaan roh setelah meninggalkan dunia?

Allah swt berfirman : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka dia tahanlah jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar : 42) 

Ibnu Qoyyim menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas tentang ayat ini, dia,”Telah sampai kepadaku bahwa roh orang-orang yang masih hidup dan roh orang-orang yang sudah mati bisa bertemu didalam mimpi. Mereka saling bertanya lalu Allah swt menahan roh orang-orang yang sudah mati dan melepaskan roh orang-orang yang masih hidup menemui jasadnya.” 

Ibnu Abi Hatim didalam tafsirnya menyebutkan riwayat dari as Suddiy tentang makna firman Allah swt “dan jiwa yang belum mati di waktu tidurnya” adalah mematikannya saat tidurnya lalu roh orang yang masih hidup bertemu dengan roh orang yang sudah mati dan mereka saling berbincang, berkenalan. Dia mengatakan,”lalu roh orang yang masih hidup dikembalikan kepada jasadnya di dunia hingga sisa waktu yang telah ditentukan sementara itu roh orang yang sudah mati menginginkan kembali ke jasadnya namun dia tertahan.” 

Bukti pertemuan antara roh orang-orang yang masih hidup dengan roh orang-orang yang sudah mati adalah bahwa orang yang masih hidup dapat melihat orang yang sudah mati didalam tidurnya. Orang yang masih hidup itu meminta informasi darinya lalu orang yang sudah mati itu memberitahukan kepadanya tentang apa-apa yang tidak diketahui oleh orang yang masih hidup sehingga menjadi sebuah informasi seperti tentang masa lalu dan yang akan datang. Terkadang dia memberitahukan kepadanya tentang harta yang dikuburnya di suatu tempat mati yang tidak diketahui kecuali oleh dirinya atau barangkali dia memberitahu kepadanya tentang utangnya dan menyebutkan bukti-buktinya. 

Yang lebih jelas lagi misalnya berupa pemberitahuan tentang amal yang telah dikerjakannya yang tidak dilihat oleh seorang pun di alam atau pemberitahuan bahwa anda akan mendatangi kami pada waktu ini dan itu dan akan terjadi seperti apa yang diberitahukannya atau pemberitahuan tentang perkara-perkara yang tidak diketahui kecuali dirinya (orang yang sudah meninggal) 

Said bin al Musayyib mengatakan bahwa Abdullah bin Salam telah bertemu dengan Salman al Farisiy. Salah seorang dari mereka berdua mengatakan kepada yang lainnya,”Jika kamu meninggal sebelumku maka temuilah aku dan beritahukan kepadaku tentang apa yang kamu dapati dari Tuhanmu dan jika aku meninggal sebelum dirimu maka aku akan menemuimu dan memberitahukanmu (tentangnya).” Sementara itu yang lainnya mengatakan,”Apakah orang-orang yang sudah mati dapat bertemu dengan orang-orang yang masih hidup?” dia berkata,”Ya. Roh-roh mereka di surga bepergian sekehendaknya.” 

Al Abbas bin Abdul Muthalib mengatakan,”Aku sangat ingin bermimpi bertemu Umar didalam tidurku dan aku tidak pernah dimimpikannya hingga mendekati waktu setahun aku melihatnya mengusap keringat dari dahinya dan mengatakan,’Ini adalah masa senggangku, hampir-hampir singgasanaku roboh jika aku tidak bertemu Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” 

Abdullah bin Umar bin Abdul Aziz mengatakan,”Aku telah melihat ayahku didalam tidur setelah kematiannya seakan-akan dia berada di sebuah taman dan memberikan apel-apel kepadaku maka aku pun mengambil salah satunya! Aku bertanya,”Amal apa yang engkau dapati paling utama?’ ayahku menjawab,”Istighfar.” (ar Ruh hal 20 – 22) 

Adapun apa yang anda tanyakan tentang roh dari orang-orang yang sudah mati memasuki jasad dari orang yang masih hidup lalu melakukan kegiatan sebagaimana layaknya orang yang masih hidup seperti berbincang-bincang, bercerita dan sebagainya maka hal ini tidaklah ada kaitannya dengan roh dari orang-orang yang sudah mati itu. Akan tetapi itu semua adalah tipu daya yang dilakukan oleh jin yang memasuki jasad orang yang masih hidup tersebut. 

Jin itu merasuki tubuh seseorang dan berpura-pura seolah-olah dirinya adalah ayah dari yang pemilik tubuh yang dirasuki, ibunya, seorang ulama atau seorang shaleh yang sudah meninggal dan berbicara untuk menyesatkan manusia.Wallahu A’lam. 

Berikut Jumlah ROH dalam Manusia : 

Menurut Ilmu batin pada diri manusia terdapat Sembilan jenis ROH. Dan masing-masing mempunyai Fungsi sendiri-sendiri . kesembilan Roh macam Roh yang ada pada manusia itu adalah sebagai berikut : 


1. ROH IDOFI ( ROH ILOFI ) : adalah roh yang sangat utama bagi manusia. Roh idofi juda disebut “Johar Awal Suci”. Karena Roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia akan mati. Roh ini sering disebut “NYAWA” . Roh Idofi merupaka sumber dari roh-roh lainnya. Kalau saja roh Idofi ini keluar dari raga manusia, pastilah roh-roh lainnya pun akan turut serta. Tetapi sebaliknya kalau salah satu roh dari roh yang delapan buah itu keluar, maka roh Idofi akan tetap tinggal. Dan manusia itu tetap masih hidup. Bagi mereka yang sudah sampai pada iradat Tuhan atau kebatinan tinggi, tentu akan menjumpai roh ini dengan penglihatannya. Dan wujudnya mirip diri sendiri, baik rupa, suara maupun segala sesuatunya. Bagaikan berdiri dicermin saja. Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membedakan dengan roh yang satu ini. Alam nya roh Idofi berupa cahaya (nur) terang benderang dan rasanya sejuk tentram ( bukan dingin ). Tentu saja kita bisa menjumpainya bila sudah mencapai tinggkat “INSAN KAMIL”. 

2. ROH RABBANI : roh inipun juga dikuasai dan diperintah oleh Roh Idofi. Alamnya roh ini ada didalam cahaya (nur) kuning diam tak bergerak.
 
3. ROH ROHANI : Roh rohani inipun juga dikuasai dan diperintah Roh Idofi. Karna roh ini maka manusia mempunya/memiliki dua rupa/kehendak. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tidak menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuata buruk. Roh inilah yang menempati 

4 Jenis nafsu, yaitu
  1. Nafsu Lumawah (Aluamah)
  2. Nafsu Amarah 
  3. Nafsu Supiyah. 
  4. Nafsu Mulamah ( Mutmainah) 

Roh ini sifatnya selalu mengikuti penglihata yang melihat. Dimana pandangan kita ditempatkan, disitu roh Rohani berada. 

4.ROH NURANI : Roh Ini dibawah pengaruh Roh-roh Idofi. Roh Nurani ini mempunya Sifat terang. Karena adanya roh ini menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau roh ini meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjadi gelap dan gelap pikirannya. 

5.ROH KUDUS ( Roh Suci ) : Roh yang yang diwah kekuasaan Roh Idofi juga. Roh ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mau member pertolongan kepada sesame manusia atau tidak. Mempengaruhi berbuat kebajikan dan mempengaruhi berbuat ibadah sesuai kepercayaan yang dianutnya. 

6.ROH RAHMANI : Roh Ini dibawah pengaruh Roh Idofi Pula. Roh ini disebut juga ROH PEMURAH. Karena diambil dari kata “Rahman” yang artinya pemurah. Roh ini mempengaruhi manusia bersifat social, suka memberi. 

7.ROH JASMANI : Roh Ini dibawah pengaruh Roh Idofi Pula roh ini menguasai seluruh darah dan urat syaraf manusia. Karena adanya roh jasmani maka manusia dapat merasakan sakit,lesu, segar dan lain sebagainya. Bila roh ini keluar dari tubuh maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit. Wujudnya sama dengan kita, hanya saja berwarna merah. 

8.ROH NABATI : Roh Ini dibawah pengaruh Roh Idofi Pula. Roh ini mengendalikan perkembangan dan pertumbuhan badan. 

9.ROH HEWANI : ialah roh yang menjaga raga kita. Bila roh hewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkuta akan tidur. Bila kita sedang bermimpi maka Roh Hewani itulah yang menjumpainya. Jadi mimpi itu hasih kerja Roh Hewani yang mengendalikan otak manusia. Ini dibawah pengaruh Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Hewani Kepergian dan kehadirannya diatur oleh roh Idofi. 

Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar