Sabtu, 03 Maret 2012

DAHSYATNYA SYIRIK

Syirik merupakan dosa paling besar, kezaliman yang paling zalim, dosa yang tidak akan diampuni Allah, dan pelakunya diharamkan masuk surga serta seluruh amal yang pernah dilakukannya selama di dunia akan hangus  dan sia-sia. Dan hukum bagi orang musyrik di dunia  adalah halal harta dan darahnya


MAKNA SYIRIK 

Kata Syirik secara bahasa artinya ‘An Nashiib’ (bag ian), apabila dibentuk jamak menjadi Asyraak, bisa juga diartikan keyakinan banyak tuhan yang boleh disembah. Adapun pengertian syirik dalam pembicaraan syari'at  adalah tindakan menyamakan antara selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang termasuk kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah (rububiyah, uluhiyah, atau asma’ wa shifat) Syaikh Al Albani mengatakan,“Barangsiapa yang bisa membersihkan diri dari ketiga macam syirik ini dalapenghambaaan dan tauhidnya kepada Allah, dia mengesakan Dzat-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan mengesakan sifat-sifat-Nya, maka dialah muwahhisejati.

Dialah pemilik berbagai keutamaan khusus yang dimiliki oleh kaum yang bertauhid. Dan barangsiapa yang kehilangan salah satu bagian darinya maka kepadanyalah tertuju ancaman yang terdapat dalam firman Allah ta’ala, semacam,“Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar termasuk orang yang merugi”. Camkanlah perkara ini, sebab inilah perkara terpenting dalam masalah akidah 

SYIRIK AKBAR DAN SYIRIK ASHGHA 

Para ulama membagi syirik menjadi dua : Syirik Akbar (syirik besar) dan Syirik Ashghar (syirik kecil). Berikut ini kami bawakan penjelasannya secara ringkas
SYIRIK AKBAR 
Syirik akbar adalah perbuatan atau keyakinan yang membuat pelakunya keluar dari Islam. Bentuknya ialadengan menujukan salah satu peribadatan (lahir maupun batin) kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, berkorban untuk jin, dsb. Apabila ia meninggal dan belum bertaubat maka akan kekal berada di dalam neraka.  

Macam-macam syirik akbar
Syirik dalam hal do’a 

Yaitu perbuatan memanjatkan permohonan kepada selain Allah di samping kepada Allah. Allah ta’alaberfirman yang artinya,“Apabila mereka5 menaiki kapal (dan terombang-ambing di tengah samudera) maka merekapun berdo’a kepada Allah dengan ikhlas (tidaksyirik sebagaimana ketika dalam kondisi tentram didarat). Kemudian tatkala Kami selamatkan mereka kedaratan maka merekapun berbuat syirik.” (QS. Al‘Ankabuut [29] : 65). Termasuk kategori syirik ini adalah: meminta perlindungan (isti’adzah) kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dikuasai oleh Allah, meminta pertolongan (isti’anah) kepada selain Allah, meminta dihilangkan bala (istighatsah) kepada selain Allah, dsb. semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi. Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Barangsiapa yang mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka Kami akan penuhi keinginan mereka dengan membalas amal itu di dunia untuk mereka dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak meraih apa-apa ketika di akherat melainkan siksa neraka dan lenyaplah semua amal yang mereka perbuat selama di dunia dan sia-sialah segala amal usaha mereka.” (QS. Huud [11] : 15-16).


Syirik dalam hal ketaatan Yaitu mentaati selain Allah untuk berbuat durhaka kepada Allah. Seperti contohnya mengikuti para tokoh dalam hal mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Mereka telah menjadikan para pendeta (ahli ilmu) dan rahib (ahli ibadah) mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah, begitu  pula (mereka sembah) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka itu tidak disuruh melainkan supaya menyembah sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, Maha suci Dia (Allah) dari segala bentuk perbutan syirik yang mereka lakukan.” (QS. At Taubah [9] : 31).

Syirik dalam hal kecintaan Yaitu mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan. Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Dan diantara manusia ada orang yang mengangkat sekutu sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah...” (QS. Al Baqarah [2] : 165). Kalau mensejajarkan saja sudah begitu besar dosanya, lalu bagaimana lagi jika seseorang justru lebih mencintai pujaannya lebih dalam daripada kecintaannya kepada Allah ? Lalu bagaimana lagi orang yang sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Allah ?! Laa haulawa laa quwwata illa billaah.

SYIRIK ASHGHAR

Syirik ashghar yaitu perbuatan atau keyakinan yang mengurangi keutuhan tauhid. Apabila seseorang terjerumus di dalamnya maka dia menanggung dosa yang sangat besar, bahkan dosa besar yang terbesar di bawah tingkatan syirik akbar dan di atas dosa-dosa besar lain seperti mencuri dan berzina. Namun orang yang melakukannya tidak sampai keluar dari Islam. Dan apabila ia meninggal dalam keadaan berbuat syirik ashghar ini maka pelakunya termasuk orang yang diancam tidak diampuni dosanya dan terancam dijatuhi siksa di neraka, meskipun tidak akan kekal di sana. Syirik ashghar ini terbagi menjadi syirik zhahir (tampak) dan syirik khafi9 (tersembunyi/samar) Syirik zhahir Jenis ini meliputi ucapan dan perbuatan fisik yang menjadi sarana menuju syirik akbar. Atau bisa juga diartikan dengan ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik oleh dalil-dalil syari’at akan tetapi tidak mencapai tingkatan tandid/persekutuan secara mutlak. Contohnya adalah : bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Tirmidzi, beliau menghasankannya, dan dishahihkan juga oleh Al Hakim). 

Contoh lainnya adalah : mengatakan maa syaa’a Allahu wa syi’ta (apa pun yang Allah kehendaki dan yang kamu inginkan). Ketika ada seseorang yang mengatakan ucapan itu kepada beliau, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam marah dan bersabda, “Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah ?! Katakanlah Apa pun yang Allah kehendaki, cukup itu saja” (HR. An Nasa’i). Atau dengan mengatakan,”Seandainya bukan karena dokter maka saya tidak akan sembuh”, dan lain sebagainya. Adapun yang berupa perbuatan fisik ialah seperti memakai jimat untuk tolak bala apabila meyakininya sebagai sebab perantara saja untuk mewujudkan keinginannya. Akan tetapi jika dia meyakininya sebagai faktor utama penentu tercapainya tujuan maka status perbuatan itu berubah menjadi syirik akbar dan mengeluarkan pelakunya dari lingkaran Islam. 

Syirik khafi

Jenis kesyirikan ini bersemayam di dalam gerak-gerik hati manusia. Ia dapat berujud rasa ingin dilihat dan menginginkan pujian orang dalam beramal (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Seperti contohnya; membagusbaguskan gerakan atau bacaan shalat karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Contoh lainnya adalah bersedekah karena ingin dipuji, berjihad karena ingin dijuluki pemberani, membaca Qur’an karena ingin disebut Qari’, mengajarkan ilmu karena ingin disebut sebagi ‘alim, dll. (selama di dalam hatinya masih mengharapkan keridhaan Allah). Amal yang tercampuri syirik semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Dan apabila ternyata niatnya murni untuk mengejar tujuan-tujuan hina itu maka perbuatan yang secara lahir berupa amal shalih itu telah berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana halnya riya’nya orang munafik10. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab,“Yaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551). Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda,“Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah11, hamba Khamilah12. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasa dan merugilah dia..” (HR. Al Bukhari)

Waspadai Bahaya Syirik


“Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 21-22)

Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah pada perkara yang merupakan hak istimewa-Nya. Hak istimewa Allah seperti: Ibadah, mencipta, mengatur, memberi manfaat dan mudharat, membuat hukum dan syariat dan lain-lainnya.

Bentuk-bentuk Syirik

Bentuk-bentuk Syirik dapat dibagi kedalam 3 bagian :

1) Syirik di dalam Al Uluhiyyah

Yaitu kalau seseorang menyakini bahwa ada tuhan selain Allah yang berhak untuk disembah (berhak mendapatkan sifat-sifat ubudiyyah). Yang mana Allah Subhanahuwa Ta’ala dalam berbagai tempat dalam Kitab-Nya menyeru kepada hamba-Nya agar tidak menyembah atau beribadah kecuali hanya kepada-Nya saja. Firman Allah Ta’ala :

“Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahuinya.” (QS. Al Baqarah : 21-22)

Perintah Allah dalam ayat ini agar semua manusia beribadah kepada Rabb mereka dan bentuk ibadah yang diperintahkan antara lain syahadat, shalat, zakat, shaum, haji, sujud, ruku’, thawaf, doa, tawakal, khauf (takut), raja’ (berharap), raghbah (menginginkan sesuatu), rahbah (menghindarkan dari sesuatu), khusu’, khasyah, isti’adzah (berlindung), istighatsah (meratap), penyembelihan, nadzar, sabar dan lain lain dari berbagai macam ibadah yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di sisi lain ada kerancuan yang terdapat di kalangan umum dalam memahami ibadah. Mereka mengartikan ibadah dalam definisi yang sempit sekali seperti shalat, puasa, zakat, haji. Ada pun yang lainnya tidak dikategorikan di dalamnya. Sungguh indah perkataan Syaikhul Islam Abul Abbas Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam mendefinisikan ibadah, beliau berkata : “Ibadah itu ialah suatu nama yang mencakup semua perkara yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, apakah berupa perkataan ataupun perbuatan, baik dhahir maupun yang bathin.”

Inilah pengertian ibadah yang sesungguhnya, yaitu meliputi segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan.
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,” ( QS. Al-baqoroh 21 )

Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 21 di atas menyatakan sembahlah Rabb kamu, dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman kepada semua manusia bahwa Ar Rabb yang wajib disembah adalah yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum kamu, yang menciptakan langit dan bumi serta yang mampu menurunkan air (hujan) dari langit. Yang dengan air hujan itu dihasilkan segala jenis buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian agar kalian mengetahui semua. Maka janganlah mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah dengan menyembah dan meminta rezeki kepada selain-Nya. Apakah kalian tidak malu dan berpikir bahwa Allah yang menghidupkan dan yang memberi rezeki kemudian kalian tinggalkan untuk beribadah kepada selain-Nya?

Firman Allah Ta?ala :

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tak dapat memberi rezeki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi dan tidak berkuasa (sedikit jua pun). Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An Nahl : 73-74)

2) Syirik Di Dalam Ar Rububiyyah

Yaitu jika seseorang meyakini bahwa ada selain Allah yang bisa menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan, dan yang lainnya dari sifat-sifat ar rububiyyah. Orang-orang seperti ini keadaannya lebih sesat dan lebih jelek daripada orang-orang kafir terdahulu.

Orang-orang terdahulu beriman dengan tauhid rububiyyah namun mereka menyekutukan Allah dalam uluhiyyah. Mereka meyakini kalau Allah satu-satunya Pencipta alam semesta namun mereka masih tetap berdoa, meminta pada kuburan-kuburan seperti kuburan Latta. Sebagaimana Allah kisahkan tentang mereka :

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. Al Ankabut : 61)

Firman Allah Ta’ala :

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab : “Allah.” Katakanlah : “Segala puji bagi Allah.” Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya. (QS. Luqman : 25)

Ayat-ayat ini semua menunjukkan kalau orang-orang musyrik terdahulu mengakui Allah-lah satu-satunya pencipta yang menciptakan langit dan bumi, yang menghidupkan dan mematikan, yang menurunkan hujan dan seterusnya. Akan tetapi mereka masih memberikan peribadatan kepada yang lainnya. Maka bagaimanakah dengan orang-orang yang tidak menyakini sama sekali kalau Allah-lah Penciptanya atau ada tuhan lain yang menciptakan, menghidupkan, dan mematikan, yang menurunkan hujaan dan seterusnya atau ada yang serupa dengan Allah dalam masalah-masalah ini. Tentu yang demikian lebih jelek lagi. Inilah yang dimaksud syirik dalam rububiyah.

3) Syirik Di Dalam Al Asma’ wa Ash Shifat

Yaitu kalau seseorang mensifatkan sebagian makhluk Allah dengan sebagian sifat-sifat Allah yang khusus bagi-Nya. Contohnya, menyakini bahwa ada makhluk Allah yang mengetahui perkara-perkara ghaib.

Firman Allah Ta?ala :
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.?” (QS. Al Jin : 26)

JENIS-JENIS SYIRIK

1. Syirik Akbar

Syirik ini menjadi penyebab keluarnya seseorang dari agama Islam, dan orang yang bersangkutan jika meninggal dalam keadaan demikian, akan kekal di dalam neraka. Hakikat syirik akbar adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah! Seperti memohon dan taat kepada selain Allah, bernadzar untuk selain Allah, takut kepada mayat, kuburan, jin, setan disertai keyakinan bahwa hal-hal tersebut dapat memberi bahaya dan mudharat kepadanya, memohon perlindungan kepada selain Allah, seperti meminta perlindungan kepada jin dan orang yang sudah mati, mengharapkan sesuatu yang tidak dapat diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti meminta hujan kepada pawang, meminta penyembuhan kepada dukun dengan keyakinan bahwa dukun itulah yang menyembuhkannya, mengaku mengetahui perkara ghaib, menyembelih hewan kurban yang ditujukan untuk selain Allah.

Thariq bin Syihab menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang terjemahannya): Ada seseorang masuk surga karena seekor lalat, dan ada seseorang masuk neraka karena seekor lalat pula. Para shahabat bertanya: Bagaimana hal itu, ya Rasulul-lah? Beliau menjawab: Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorang pun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu kurban.

Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut: Persembahkanlah kurban kepadanya! Dia menjawab: Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersem-bahkan kepadanya. Mereka pun berkata kepadanya lagi: Persembahkan sekalipun seekor lalat. Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat, mereka pun memperkenankan dia untuk meneruskan perjalanan.

Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain: Persembahkanlah kurban kepadanya. Dia menjawab: Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu kurban kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian mereka memenggal lehernya, karenanya orang ini masuk surga. (HR. Imam Ahmad).

Dan termasuk penyembelihan jahiliyah yang terkenal di zaman kita sekarang ini- adalah menyembelih untuk jin. Yaitu manakala mereka membeli rumah atau membangunnya, atau ketika menggali sumur mereka menyembelih di tempat tersebut atau di depan pintu gerbangnya sebagai sembelihan (sesajen) karena takut dari gangguan jin. (Lihat Taisirul Azizil Hamid, hal. 158).

Macam-macam Syirik Besar

a. Syirik dalam berdoa

Yaitu meminta kepada selain Allah, disamping meminta kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya (yang terjemahannya):

“Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa meskipun setipis kulit ari. Jika kamu meminta kepada mereka, mereka tiada mendengar seruanmu, dan kalau mereka mendengar mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. (QS. Faathir: 13-14)

b. Syirik dalam sifat Allah

Seperti keyakinan bahwa para nabi dan wali mengetahui perkara-perkara ghaib. Allah Ta’ala telah membantah keyakinan seperti itu dengan firman-Nya (yang terjemahannya):

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri.” (QS. Al-An’am : 59). Lihat QS. Al-Jin: 26-27.

Pengetahuan tentang hal yang ghaib merupakan salah satu hak istimewa Allah, menisbatkan hal tersebut kepada selain-Nya adalah syirik akbar.

c. Syirik dalam Mahabbah (kecintaan)

Mencintai seseorang, baik wali atau lainnya layaknya mencintai Allah, atau menyetarakan cinta-nya kepada makhluk dengan cintanya kepada Allah Ta’ala. Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman (yang terjemahannya):

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. (QS. Al-Baqarah: 165).

Mahabbah dalam ayat ini adalah mahabbatul ubu-diyah (cinta yang mengandung unsur-unsur ibadah), yaitu cinta yang dibarengi dengan ketundukan dan kepatuhan mutlak serta mengutamakan yang dicintai daripada yang lainnya. Mahabbah seperti ini adalah hak istimewa Allah, hanya Allah yang berhak dicintai seperti itu, tidak boleh diperlakukan dan disetarakan dengan-Nya sesuatu apapun.

d. Syirik dalam ketaatan

Yaitu ketaatan kepada makhluk, baik wali ataupun ulama dan lain-lainnya, dalam mendurhakai Allah Ta’ala. Seperti mentaati mereka dalam menghalal-kan apa yang diharamkan Allah Ta’ala, atau mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.

Mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Ta ala berfirman (yang terjemahannya) : Mereka menjadikan orang-orang alim, dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.(QS. At-Taubah: 31).

Taat kepada ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang dimaksud dengan menyembah berhala mereka! Berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Rasulullah SAW menegaskan (yang terjemahannya): Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada al-Khaliq (Allah). (Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad).

e. Syirik khauf (takut)

Jenis-jenis takut :
  1. Khauf Sirri; yaitu takut kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa berhala, thaghut, mayat, makhluk gahib seperti jin, dan orang-orang yang sudah mati, dengan keyakinan bahwa mereka dapat menimpakan mudharat kepada makhluk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahannya): Janganlah kamu takut kepada mereka, takutlah kamu kepada-Ku jika kamu benar-benar orang beriman.(QS. Ali Imran: 175).
  2. Takut yang menyebabkan seseorang meninggalkan kewajibannya, seperti: Takut kepada seseorang sehingga menyebabkan kewajiban ditinggalkan. Takut seperti in hukumnya haram, bahkan termasuk syirik ashghar (syirik kecil). Berkaitan dengan hal tersebut Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya): “Janganlah seseorang dari kamu menghinakan dirinya!” Shahabat bertanya: Bagaimana mungkin seseorang menghinakan dirinya sendiri? Rasulullah bersabda: “Yaitu ia melihat hak Allah yang harus ditunaikan, namun tidak ditunaikannya! Maka Allah akan berkata kepadanya di hari kiamat: Apa yang mencegahmu untuk mengucapkan begini dan begini?”.Ia menjawab: “Karena takut kepada manusia!”. Allah berkata: “Seharusnya hanya kepadaKu saja engkau takut”. (HR. Ibnu Majah dari Abu Said al Khudry, Shahih).
  3. Takut secara tabiat, takut yang timbul karena fitrah manusia seperti takut kepada binatang buas, atau kepada orang jahat dan lain-lainnya. Tidak termasuk syirik, hanya saja seseorang janganlah terlalu didominasi rasa takutnya sehingga dapat dimanfaatkan setan untuk menyesatkannya.
f. Syirik hulul

Percaya bahwa Allah menitis kepada makhluk-Nya. Ini adalah aqidah Ibnu Arabi (bukan Ibnul Arabi, beliau adalah ulama Ahlus Sunnah) dan keyakinan sebagian kaum Sufi yang ekstrem.

g. Syirik Tasharruf

Keyakinan bahwa sebagian para wali memiliki kuasa untuk bertindak dalam mengatur urusan makhluk. Keyakinan seperti ini jelas lebih sesat daripada keyakinan musyrikin Arab yang masih meyakini Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta.

h. Syirik Hakimiyah

Termasuk syirik hakimiyah adalah membuat undang-undang yang betentangan dengan syariat Islam, serta membolehkan diberlakukannya undang undang tersebut atau beranggapan bahwa hukum Islam tidak sesuai lagi dengan zaman. Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para hakim yang membuat dan memberlakukan undang-undang, serta orang-orang yang mematuhinya, jika meyakini kebenaran UU tersebut dan rela dengannya.

i. Syirik tawakkal

Tawakkal ada tiga jenis:
  1. Tawakkal dalam perkara yang hanya mampu dilaksanakan oleh Allah saja. Tawakkal jenis ini harus diserahkan kepada Allah semata, jika seseorang menyerahkan atau memasrahkannya kepada selain Allah, maka ia termasuk Musyrik.
  2. Tawakkal dalam perkara yang mampu dilaksanakan para makhluk. Tawakkal jenis ini seharusnya juga diserahkan kepada Allah, sebab menyerahkannya kepada makhluk termasuk syrik ashghar.
  3. Tawakkal dalam arti kata mewakilkan urusan kepada orang lain dalam perkara yang mampu dilaksanakannya. Seperti dalam urusan jual beli dan lainnya. Tawakkal jenis ini diperbolehkan, hanya saja hendaklah seseorang tetap bersandar kepada Allah Subhanahu wa Taala, meskipun urusan itu diwakilkan kepada makhluk.
j. Syirik niat dan maksud

Yaitu beribadah dengan maksud mencari pamrih manusia semata, mengenai hal ini Allah Subhanahu wa Taala berfirman (yang terjemahannya):

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak akan memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan“. (QS. Hud: 15-16).

Syirik jenis ini banyak menimpa kaum munafiqin yang telah biasa beramal karena riya.

k. Syirik dalam Hal Percaya Adanya Pengaruh Bintang dan Planet terhadap Berbagai Kejadian dan Kehidupan Manusia.

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya): Allah berfirman: “Pagi ini di antara hambaku ada yang beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang berkata, kami diberi hujan dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang. Adapun orang yang berkata: Hujan itu turun karena bintang ini dan bintang itu maka dia telah kufur kepada-Ku dan beriman kepada bintang“. (HR, Bukhari).

Lihat Fathul Bary, 2/333).

Termasuk dalam hal ini adalah mempercayai astrologi (ramalan bintang) seperti yang banyak kita temui di koran dan majalah. Jika ia mempercayai adanya pengaruh bintang dan planet-planet terse-but maka dia telah musyrik. Jika ia membacanya sekedar untuk hiburan maka ia telah melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Sebab tidak dibolehkan mencari hiburan dengan membaca hal-hal syirik. Disamping setan terkadang berhasil menggoda jiwa manusia sehingga ia percaya kepada hal-hal syirik tersebut. Maka, membacanya termasuk sarana dan jalan menuju kemusyrikan.

2. Syirik Ashghar

Yaitu setiap ucapan atau perbuatan yang dinyatakan syirik oleh syara tetapi tidak mengeluarkan dari agama. Ia merupakan dosa besar yang dapat mengantarkan kepada syirik akbar.

Macam-macam syirik asghar:

a. Zhahir (nyata), 

Berupa ucapan: Rasulullah SAW bersabda (yang terjemahannya): “Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka ia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad, Shahih).
Dan sabda Nabi SAW yang lain (yang terjemahannya): “Janganlah kamu berkata: Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan. Tapi katakanlah: Atas kehendak Allah , kemudian kehendak Fulan”. (HR. Ahmad, Shahih).

Berupa amalan, seperti: Memakai gelang, benang, dan sejenisnya sebagai pengusir atau penangkal mara bahaya, jika ia meyakini bahwa benda-benda tersebut hanya sebagai sarana tertolak atau tertangkalnya bala. Namun bila dia meyakini bahwa benda-benda itulah yang menolak dan menangkal bala, hal itu termasuk syirik akbar.

Imran bin Hushain radiallahu anhu menuturkan, bahwa Nabi SAW melihat seorang laki-laki terdapat di tangannya gelang kuningan, maka beliau bertanya (yang terjemahannya): “Apakah ini?”.

Orang itu menjawab: Penangkal sakit. Nabi pun bersabda: “Lepaskan itu karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya”. (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang bisa diterima).

Dan riwayat Imam Ahmad pula dari Uqbah bin Amir dalam hadits marfu (yang terjemahannya): Barang siapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabul-kan keinginannya; dan barang siapa menggantungkan wadaah, semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya. Disebutkan dalam riwayat lain: Barang siapa menggantungkan tamimah, maka dia telah berbuat syirik.(Tamimah adalah sesuatu yang dikalungan di leher anak-anak sebagai penangkal atau pengusir penyakit, pengaruh jahat yang disebabkan rasa dengki seseorang dan lain sebagainya. Wadaah adalah sejenis jimat).

b. Khafi (tersembunyi); syirik yang bersumber dari amalan hati, berupa riya, sumiah dan lain-lainnya.

BAHAYA SYIRIK

1. Syirik Ashghar (tidak mengeluarkan dari agama).

Merusak amal yang tercampur dengan syirik ashghar. Dari Abu Hurairah radiallahu anhu marfu (yang terjemahannya): Allah berfirman: “Aku tidak butuh sekutu-sekutu dari kalian, barang siapa yang melakukan suatu amalan yang dia menyekutukan-Ku padanya selain Aku, maka Aku tinggalkan dia dan persekutuannya”. (Riwayat Muslim, kitab az-Zuhud 2985, 46).
Terkena ancaman dari dalil-dalil tentang syirik, karena salaf menggunakan setiap dalil yang berkenaan dengan syirik akbar untuk syirik ashghar. (Lihat al-Madkhal, hal 124).
Termasuk dosa besar yang terbesar.

2. Syirik Akbar
  • Kezhaliman terbesar. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya syirik itu kezhaliman yang besar”. (QS. Luqman: 13).
  • Menghancurkan seluruh amal. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya jika engkau berbuat syirik, niscaya hapuslah amalmu, dan benar-benar engkau termasuk orang yang rugi”. (QS. Az-Zumar: 65).
  • ika meninggal dalam keadaan syirik, maka tidak akan diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya):Sesungguhnya, Allah tidak akan mengampuni jika disekutukan, dan Dia akan mengampuni selain itu (syirik) bagi siapa yang (Dia) kehendaki. (QS. An-Nisa: 48, 116).
  • Pelakunya diharamkan masuk surga. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya barang siapa menyekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al-Maidah: 72).
  • Kekal di dalam neraka. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”. (QS. Al-Bayyinah: 6).
  • Syirik adalah dosa paling besar. Firman Allah Ta’ala (yang terjemahannya): “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu. Bagi siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa: 116).
  • Perkara pertama yang diharamkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang terjemahannya): “Katakanlah: Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun ter-sembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menu-runkan hujjah untuk itu dan (meng-haram-kan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Araaf: 33).
  • Dosa pertama yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lihat Quran surah Al-Anaam: 151.
  • Pelakunya adalah orang-orang najis (kotor) akidahnya. Allah Ta’ala berfirman (yang terjemahannya): “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis”. (QS. At-Taubah: 28).

BAHAYA LAIN DARI SYIIRIIK

Dosa yang paling besar

Di dalam hadits sahih dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu beliau bertanya kepada Nabi,"Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?" Maka beliau menjawab,"Yaitu engkau mengangkat tandingan/sekutu bagi Allah (dalam beribadah) padahal Dia lah yang telah menciptakanmu." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits yang lain dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya, ayahnya berkata,"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar ?" Beliau bertanya sebanyak tiga kali. Para sahabat menjawab,"Mau wahai Rasulullah !" Lalu beliau bersabda,"Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." Lalu beliau duduk bersandar seraya melanjutkan sabdanya,"Ingatlah, begitu juga berkata-kata dusta." Beliau mengulang-ngulang kalimat itu sampai-sampai aku bergumam,"Mudah-mudahan beliau diam." (HR. Al Bukhari dan Muslim, dan diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad).

Oleh karena itulah, Imam Adz Dzahabi yang menulis kitab Al Kaba'ir menempatkan dosa syirik kepada Allah sebagai dosa besar nomor satu sebelum dosa-dosa yang lainnya. Beliau berkata,"Dosa besar yang terbesar adalah kesyirikan kepada Allah ta'ala…"14 Keterangan serupa disampaikan pula oleh guru beliau yaitu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah15.
Syaikhul Islam mengatakan16,"Ketahuilah –semoga Allah merahmatimu- sesungguhnya kesyirikan kepada Allah adalah dosa kedurhakaan paling besar yang ditujukan kepada Allah. Allah ta'ala berfirman,"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan
mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya." (QS. An Nisaa' [4] : 48, 116).

Di dalam Shahihain (kitab Shahih Al Bukhari dan Muslim, pent) disebutkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya,"Dosa apakah yang paling besar ?"
Maka beliau menjawab,"Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Allah lah yang menciptakanmu!!" Makna dari nidd/sekutu adalah mitsl/sesuatu yang serupa.Allah ta'ala juga berfirman,"Maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahui." (QS. Al Baqarah [2] : 22). Dan Allah ta'ala juga berfirman yang artinya,"Dan ia mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah, maka katakanlah kepadanya, 'Bersenang-senanglah kamu dengan kekufuranmu sebentar saja karena sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka." (QS. Az Zumar [39] : 8). 

Oleh sebab itu barangsiapa yang mengangkat sekutu bagi Allah dari kalangan makhluk-Nya dalam hal kekhususan-Nya yaitu urusan uluhiyah/peribadatan dan rububiyah/pengaturan maka sesungguhnya dia telah kafir menurut kesepakatan umat." Selesai ucapan Ibnu Taimiyah.

Demikian pula penjelasan yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah tatkala menerangkan isi dari firman Allah ta’ala,"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa
saja yang dikehendaki-Nya." (QS. An Nisaa' [4] : 48, 116).

Beliau rahimahullah berkata,"Dengan ayat ini maka jelaslah bahwasanya syirik adalah dosa yang paling besar. Karena Allah ta'ala mengabarkan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi orang yang tidak bertaubat darinya. Adapun dosa-dosa yang lain yang berada di bawah tingkatannya maka itu berada di bawah kehendak Allah; apabila Allah berkeinginan, Allah akan ampuni orang yang menghadap-Nya dengan membawa dosa itu, dan apabila Allah mau, niscaya Allah akan menyiksanya dengan sebab dosa itu…"17

Pelajaran Berharga :

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,"Firman Allah, wa yaghfiru maa duuna dzaalika "Dan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang berada di bawah tingkatan itu." yang dimaksud dengan kata ‘duuna’ di sini adalah : dosa yang lebih ringan daripada dosa syirik, dan bukanlah yang dimaksud adalah selain dosa syirik."18 Itu artinya dosa-dosa selain syirik yang setingkat parahnya dengan syirik atau lebih parah lagi (seperti orang yang semata-mata menyembah selain Allah tanpa menyembah Allah atau bahkan mengingkari adanya Allah?!!!) maka pelakunya tidak termasuk dalam golongan orang yang masih memiliki harapan untuk meraih ampunan jika mereka meninggal dan belum bertaubat.

Kezaliman yang paling zalim Ketahuilah saudaraku, Syaikhul Islam Kedua Ibnu Qayyim Al Jauziyah mengatakan,"Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan, dan Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan keadilan” (QS. Al Hadiid [57] : 25). Allah subhanahu memberitakan bahwa Dia mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya supaya manusia menegakkan al qisth yaitu keadilan. Salah satu di antara nilai-nilai keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok terbesar keadilan dan pilar penegaknya. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid merupakan keadilan yang paling hakiki


Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Hasan. Beliau mengatakan,"Sesungguhnya syirik itu adalah perbuatan buruk yang paling keji dan kezaliman

yang paling zalim dan tindakan pelecehan yang ditujukan kepada Rabbul 'alamin…" Perhatikanlah dengan tenang sebuah firman Allah yang mulia yang mengisahkan nasehat seorang ayah yang bijak kepada puteranya,"Wahai puteraku, janganlah berbuat syirik kepada Allah, karena sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar." (QS. Luqman

[31] : 13). Ketika menafsirkan ayat ini Al Hafizh Ibnu Katsir mengatakan,"Artinya (syirik) adalah kezaliman yang paling zalim. Imam Al Baghawi mengatakan,"Syirik disebut sebagai kezaliman karena di dalamnya terkandung unsur menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya.

Pelanggaran terhadap hak Sang pencipta

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pekezaliman terbesar yang harus ditumpas oleh umat manusia!!! Sampai-sampai beberapa hari menjelang wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masih sempat memperingatkan dari bahaya syirik dalam masalah kuburan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah sesungguhnya aku melarang kalian melakukan perbuatan itu." 'Aisyah mengatakan,"Beliau memberikan peringatan keras dari perbuatan mereka itu." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Nah, saudaraku yang berpikiran dalam, hak siapakah yang lebih utama, hak Allah ataukah hak makhluk? Tentunya hak Allah itulah yang lebih utama dan lebih didahulukan. Lantas apakah yang disebut dengan keadilan itu? Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa makna keadilan itu berkisar pada dua batasan. Pertama, keadilan itu maknanya adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya.

Kedua, keadilan itu bermakna memberikan hak kepada setiap pemilik hak sebagaimana mestinya23rnah bertanyakepada Mu'adz,"Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah ?" Maka Mu'adz menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu." Lalu Rasul bersabda,"Hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa hamba yang tidak mepersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun."(HR. Al Bukhari dan Muslim).

Ibadah adalah hak Allah. Maka menujukan ibadah kepada selain Allah adalah pelanggaran hak. Oleh sebab itu syirik disebut sebagai kezaliman, bahkan inilah kezaliman terbesar yang harus ditumpas oleh umat manusia!!! Sampai-sampai beberapa hari menjelang wafatnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam masih sempat memperingatkan dari bahaya syirik dalam masalah
kuburan. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kubur-kubur Nabi mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah sesungguhnya aku melarang kalian melakukan perbuatan itu." 'Aisyah mengatakan,"Beliau memberikan peringatan keras dari perbuatan mereka itu." (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Saudaraku yang berpikiran dalam, hak siapakah yang lebih utama, hak Allah ataukah hak makhluk? Tentunya hak Allah itulah yang lebih utama dan lebih didahulukan. Lantas apakah yang disebut dengan keadilan itu? Syaikh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa makna keadilan itu berkisar pada dua batasan. Pertama, keadilan itu maknanya adalah menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Kedua, keadilan itu bermakna memberikan hak kepada setiap pemilik hak sebagaimana mestinya 

Maka jawablah pertanyaan saya sekarang. Apakah seseorang yang menempatkan uang rakyat di kantong pribadinya dengan jalan korupsi termasuk sikap adil? Tentunya kalian akan menjawab tidak, bahkan itu adalah kezaliman yang besar karena menyangkut hak orang banyak. Apakah seorang anak yang menganiaya kedua orang tuanya termasuk keadilan? Tentu, bukan. Lalu, bagaimanakah dalam pandangan kalian apabila ada seorang muslim yang ingin selamat dari gangguan jin penunggu jembatan kemudian dia menyembelih sembelihan untuknya dan menanam kepala kerbau yang disembelihnya itu di dalam tanah tempat di mana di situ akan dibangun jembatan. Apakah perbuatannya ini bukan termasuk kezaliman? 

Jawablah saudaraku, dari hati nuranimu yang masih suci…Tentunya setelah memahami hakekat kezaliman tersebut niscaya engkau akan menjawab bahwa ini termasuk kezaliman, karena menyembelih sembelihan untuk dipersembahkan adalah ibadah dan ibadah adalah hak Allah, oleh sebab itu maka menujukan sembelihan kepada selain Allah adalah syirik, dan syirik adalah kezaliman, bahkan kezaliman yang paling besar! Dan adakah tindakan zalim yang lebih parah daripada mempersekutukan makhluk yang diliputi dengan berbagai kekurangan dan kelemahan dengan Allah Yang Maha Mencipta, Maha Sempurna lagi Maha Perkasa serta memiliki segala sifat kesempurnaan?

Tanyakanlah kepada orang-orang yang datang ke kubur-kubur wali dan mengharap turunnya berkah di sisi kubur mereka; Apakah mereka meyakini bahwa para wali itulah yang menciptakan mereka dari tidak ada menjadi ada, apakah mereka meyakini bahwa para wali
itu yang menciptakan langit dan bumi? Tentunya orang yang masih sehat akalnya diantara mereka akan menjawab tidak, bahkan Allah lah yang menciptakan itu semua.

Namun lihatlah apa yang mereka perbuat di sana.Mereka berdo'a, mereka mencari berkah dari kubur wali, bahkan ada yang sampai menyembelih sembelihan di sana, mereka meminta perlindungan, mereka minta keselamatan, mereka minta diberi kelancaran rezeki dan jodoh di sisi kuburan tersebut. Dan hal itu mereka lakukan dengan menganggap wali dan orang salih yang sudah mati itu hanya sebagai perantara untuk mengantarkan mereka yang penuh dengan dosa guna menghadap Allah.

Itulah kesyirikan yang banyak terjadi di antara mereka, dan bahkan inilah kesyirikan yang terjadi pada masa jahiliyah dahulu. Hampir tidak ada atau sedikit sekali diantara mereka yang memiliki keyakinan bahwa sesembahan-sesembahan mereka itu bisa menciptakan dan memberikan rezki. Mereka yakin bahwa itu semua ada di tangan Allah. Lalu dimanakah letak kekeliruan mereka? Yaitu ketika mereka mengangkat perantaraperantara dalam beribadah kepada-Nya seperti dengan berdo'a di dekat kubur wali dan beribadah di sekitarnya. Inilah kezaliman!! Tidakkah mereka ingat sebuah ayat yang mereka baca "Wahai umat manusia, sembahlah (Allah) Rabb yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa. Dia itu lah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia pula yang telah menurunkan air hujan dari langit sehingga mampu mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezki untuk kalian maka janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah sedangkan kalian mengetahui." (QS. Al Baqarah [2] : 21-22).

Wahai saudaraku ‘para pecinta keadilan’, setelah engkau mengetahui hakekat kesyirikan yang banyak merebak ini maka akankah engkau memandang bahwa pemberantasan korupsi itu lebih penting daripada pemberantasan syirik yang sangat kental dengan kubur para wali? Kita setuju bahwa korupsi itu kejahatan yang harus diberantas. Namun ingatlah, bukankah dosa korupsi itu masih berada di bawah tingkatan kesyirikan? Lalu kenapa kita masih memandang upaya para da'i untuk memberantas syirik dengan pandangan sebelah mata? Dimanakah letak ‘fikih prioritas’ yang didengungdengungkan oleh sebagian diantara kalian? Dimanakah letak fikih realita (fiqhul waqi’) yang kalian banggabanggakan ?
Oleh karena itu, di sini kami ingin mengingatkan kepada kalian sebuah ayat yang sering kalian bawakan dan kalian pampangkan di spanduk-spanduk kampanye kalian,"Berlaku adillah, karena sesungguhnya adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al Maa'idah [5] : 8).

Sungguh, ayat ini adalah hujjah bagi kami untuk mengibarkan bendera pemberantasan syirik di atas seluruh panji-panji dakwah yang ada. Dan ayat ini bukanlah hujjah bagi kalian untuk mencari massa dan membujuk rayu mereka agar bergabung dengan partai kalian. Wahai saudaraku, sampai kapan kalian akan terus menerus membuang akal sehat kalian? Dosa yang tak terampuni Kalau seandainya seorang hamba berjumpa dengan Allah ta'ala dengan dosa sepenuh bumi niscaya Allah akan mengampuni dosa itu semua, akan tetapi tidak demikian halnya bila dosa itu adalah syirik. Allah ta'ala berfirman melalui lisan Nabi-Nya dalam sebuah hadits qudsi,"Wahai anak Adam, seandainya engkau menjumpai-Ku dengan dosa kesalahan sepenuh bumi dalam keadaan tidak mempersekutukan Aku, niscaya Akupun akan menjumpaimu dengan ampunan sepenuh itu pula" (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah 127).

Bahkan, di dalam Al Qur'an Allah telah menegaskan dalam firman-Nya,"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang berada di bawah tingkatan syirik bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya" (QS. An Nisaa' [4] : 48 dan 116).
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas,"Allah ta'ala mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuni dosa syirik, artinya Dia tidakmengampuni hamba yang bertemu dengan-Nya dalam keadaan musyrik, dan (Dia mengampuni dosa yang dibawahnya bagi orang yang dikehendaki-Nya); yaitu dosa-dosa (selain syirik-pent) yang Allah akan beri ampunan kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya

Ibnul Qayyim berkata tentang ayat ini,"Dengan ayat ini maka jelaslah bahwasanya syirik adalah dosa yang paling besar, karena Allah ta'ala memberitakan bahwasanya Dia tidak mengampuni dosa orang yang tidak bertaubat darinya (syirik), adapun dosa-dosa yang lain yang tingkatannya ada di bawahnya maka itu tergantung kehendak-Nya, jika Dia menghendaki maka orang yang bertemu dengan-Nya dengan membawa dosa tersebut akan diampuni, tapi jika Dia menghendaki maka orang itu akan disiksa karena dosa itu. Dan hal ini tentu saja membuahkan rasa takut yang amat dalam bagi seorang hamba terhadap syirik yang demikian besar dosanya di sisi Allah. Karena syirik itu adalah keburukan yang paling buruk, kezaliman yang paling zalim, dan merupakan pelecehan terhadap Rabbul 'alamin; dan memalingkan hak yang seharusnya dipersembahkan hanya kepada- Nya namun justru ditujukan kepada selain-Nya, dan mensejajarkan selain-Nya dengan diri-Nya,…"


Persoalan :

Bukankah Allah mengampuni seluruh dosa ? Mungkin terbetik pertanyaan di benak sebagian orang, "Bukankah Allah mengampuni semua dosa, sebagaimana disebutkan dalam ayat, "Sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa." (QS. Az Zumar [39] : 53)." Maka jawabannya sebagaimana disampaikan oleh Syaikhul Islam berikut ini. Beliau rahimahullah mengatakan,"Dan tidak boleh membawa makna ayat ini (yaitu ayat An Nisaa' : 48 dan 116) kepada orang yang sudah bertaubat. Karena bagi orang yang bertaubat maka tidak ada pembedaan apakah dosa yang dilakukannya adalah syirik maupun dosa yang lainnya27. Sebagaimana yang disebutkan oleh Allah ta'ala dalam ayat yang lain,"Katakanlah Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah sesungguhnya Allah mengampuni seluruh dosa." (QS. Az Zumar [39] : 53). Maka ayat ini berbicara secara umum dan mutlak karena yang dimaksud olehnya adalah

bagi orang yang bertaubat. Sedangkan dalam ayat yang lain (yaitu An Nisaa' : 48 dan 116) disebutkan secara khusus dan dalam batasan tertentu karena yang dimaksud olehnya adalah bagi orang yang tidak bertaubat.

Jadi, yang dimaksud dengan pernyataan ‘Allah tidak akan  mengampuni dosa syirik’ adalah bagi orang yang berbuat syirik kemudian belum sempat bertaubat sebelum meninggal. Sedangkan dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik, maka masih ada harapan baginya untuk diampuni oleh Allah, sehingga dikatakan dosa itu ‘tahtal masyi'ah’ atau berada di bawah kehendak Allah. Sedangkan orang yang berbuat syirik lalu bertaubat maka itu termasuk dalam kandungan ayat yang menyebutkan bahwa Allah mengampuni semua dosa,
dan syirik juga termasuk di dalamnya (apabila pelakunya sudah bertaubat). Namun, apabila dia belum bertaubat maka dosa syiriknya itu tidak akan diampuni.


Masuk neraka gara-gara seekor lalat



Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada lelaki yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka (para sahabat) bertanya,“Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab,“Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki arca. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk arca tersebut. Mereka pun mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu,“Berkorbanlah.”

Maka dia menjawab,“Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.” Maka mereka mengatakan,“Berkorbanlah, walaupun hanya dengan seekor lalat.” Maka dia pun berkorban dengan seekor lalat, sehingga mereka pun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan
perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan mereka juga mengatakan kepada orang yang satunya,“Berkorbanlah.” Dia menjawab,“Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.” Maka mereka pun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad di dalam Az Zuhud (15,16), Abu Nu’aim dalam Al Hilyah (1/203) dari Thariq bin Syihab dari Salman Al Farisi radhiyallahu’anhu secara mauquf dengan sanad shahih, dinukil dari Al Jadiid, hal. 109).

Kekal di dalam neraka Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah [98] : 6). Dari Jabir radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Barang siapa yang berjumpa Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya, niscaya masuk surga. Dan barang siapa yang berjumpa Allah dalam keadaan memepersekutukan sesuatu dengan-Nya, maka dia masuk neraka.” (HR. Muslim).

Ayat dan hadits yang mulia di atas menunjukkan bahwa orang yang melakukan syirik akbar tidak akan masuk surga alias kekal di dalam neraka. Mereka tidak berhak mendapatkan rahmat dari-Nya. Kalau seandainya syiriknya termasuk kategori syirik ashghar maka dia juga
akan masuk neraka –apabila dia tidak punya kebaikan yang lebih berat daripada timbangan keburukannyanamun pelaku syirik ashghar tidak disiksa kekal di dalam neraka

Pemusnah pahala amalan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya,“Apa yang kamu lakukan dengannya ?” Dia menjawab,“Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman,“Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. 

Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya,“Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya ?” Dia menjawab,“Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman,“Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmatnikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya,“Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab,“Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman,”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim.

Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).

REALITA KESYIRIKAN DI SEKITAR KITA

Untuk melengkapi pembahasan ini, berikut ini akan kami bawakan beberapa cerita yang menggambarkan bahwa kesyirikan adalah realita memilukan yang seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama. Dan perhatian kepadanya haruslah lebih besar daripada perhatian kita untuk mengobati ‘penyakit masyarakat’ yang lainnya. Pengagungan Makam Sunan Kalijaga Lokasi makam ini ada di desa Kalidangu Demak, dengan tradisi kemusyrikan berupa penyucian benda-benda pusaka (jimat) yang sering diadakan pada tanggal 10 bulan besar (Zulhijah). Kebanyakan yang dilakukan di makam ini oleh para peziarah (pecinta kemusyrikan)
adalah bersemedi. Dengan alasan menapaktilasi tradisi seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga saat topo ngluweng (bertapa dengan cara dikubur seperti orang mati). Mereka meminta wangsit (wahyu) dan meminta kepada arwah Sunan Kalijaga agar semua hajatnya dikabulkan. Anehnya dalam doa dan semedinya terkadang didahului dengan membaca wirid-wirid dan tahlil serta salawatan. 

Sudah sangat banyak peziarah yang nginep (menginap) dan bersemedi di tempat ini untuk ngalap berkah, mencari wangsit dan memohon segala sesuatu. 

Persembahan untuk Ratu Laut Selatan Dalam ritual ini berbagai persembahan dihaturkan pada Kanjeng Ratu Kidul, yang mereka yakini secara turun menurun sebagai penguasa Laut Selatan. Tempat yang terkenal sebagai pusat ritual adalah di sekitar Parangkusumo. Ritual yang masih bernuansa kemusyrikan seperti ini dilakukan dengan tujuan sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan, khususnya bagi warga Keraton dan asyarakat Yogyakarta pada umumnya. Upacara dilaksanakan di pagi hari oleh abdi dalem dan masyarakat. Dibuka dengan mantra dari juru kunci Parangkusumo, lalu persembahan-persembahan yang berupa pakaian wanita, alat-alat kosmetik, sirih, bunga dan ubo rampene (perlengkapan lainnya), dihanyutkan ke Laut Selatan. Pada hari Kamis 18 Oktober 2001 ratusan warga Bantul dan sekitarnya mengikuti prosesi ritual persembahan labuhan di pantai Parangkusumo, Bantul Yogyakarta. Persembahan ini selalu diikuti oleh warga yang ingin ngalap berkah dengan cara ngrayah (berebutan mendapatkan) barang-barang yang dipersembahkan dalam labuhan tersebut antara lain; uborampe ageman (perlengkapan pakaian) Putri Laut Kidul lengkap, potongan kuku dan rambut Ngarso Dalem
Sultan Hamengkubuwono X, surjan lengkap, dan lainlain.

Upacara serupa juga dilakukan di Gunung Lawu, Tawangwangu Jawa Tengah, dan di Gunung Merapi di Yogyakarta. Persembahan untuk Penguasa Gunung Merapi Di Dukuh Sumber Desa Klakah Kecamatan Selo Boyolali para warga mengadakan selamatan nasi tumpeng jagung yang dilengkapi dengan uba rampe lainnya yaitu; golong jagung, pelas, polowijo, wedang kopi, teh, air putih dan gula jawa. Selain itu ada pula jenang abang putih, nasi kepyar, bubuk deli panggang buto, jadah bakar, ketela bakar dan rokok. Sesaji lengkap dengan hasil pertanian itu diyakini warga sebagai hidangan kesukaan ‘penguasa gunung Merapi’. Seluruh uba rampe itu, kemudian didoakan untuk memohon keselamatan kepada Sang Pencipta agar apabila Merapi meletus, warga bisa terhindar dan tidak ada korban jiwa. Makanan yang tersedia kemudian dibagikan dan dimakan bersamasama.

Praktek Perdukunan

Orang yang terbelit dalam perangkap perdukunan dan tipuan syetan ini tidak saja hanya orang awam dan rakyat jelata, tetapi banyak juga dari golongan para pejabat yang intelektual dan para konglomerat yang berpangkat. Mereka menjuluki para dukun ini dengan sebutan sebagai orang pintar, ahli hikmah, paranormal, mentalis, spiritualis inner power, hiper metafisik, dan sebutan keren lainnya. Para dukun yang lebih senang disebut sebagai ahli hikmah, orang pinter, paranormal, hipermetafisik dan nama keren lainnya ini tidak lagi membuka praktek di kampung-kampung. Tetapi di tempat-tempat elit seperti perhotelan, membuka studio tempat praktek sekaligus sebagai kantornya atau bahkan ada yang berani membuka pesantren untuk mengelabui para pasiennya. Mereka juga berani melakukan seminar-

Sumber: koran Kedaulatan Rakyat, 06 Mei 2006. Dikutip dari artikel ‘Bencana di atas Bencana’ oleh penulis seminar ilmiah dan beriklan di media cetak dan elektronik dan bahkan lewat internet, Bintang Anda Hari Ini Sering kita dapatkan di koran-koran adanya ramalan bintang (horoskop). Orang diramal berdasarkan jenis bintangnya; Taurus, Leo, Aries, Sagitarius, dan lain sebagainya. Di sana biasanya dicantumkan tentang berbagai hal, mulai dari persoalan asmara, kesehatan, sampai urusan rejeki dan jodoh yang akan didapatkan. Bagi sebagian orang hal ini adalah sesuatu yang biasasaja. Akan tetapi bagi orang yang telah memahami keagungan tauhid, hal ini adalah kemungkaran yang sangat besar dan membahayakan dunia.

Ini adalah kenyataan yang bisa kita saksikan. Padahal, ramalan semacam ini tergolong tindak kesyirikan yang sangat dilarang oleh Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang mendatangi paranormal kemudian menanyakan sesuatu kepadanya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim dan Ahmad). 
Termasuk dalam kategori perdukunan dan ramal meramal adalah meramal nasib dengan melihat garis telapak tangan, menuangkan air dalam cangkir atau baskom, horoskop, atau ramalan bintang yang banyak bertebaran di koran, tabloid dan majalah-majalah. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah mengatakan bahwa itu semua termasuk kategori perdukunan/kahanah.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Barangsiapa yang mendatangi paranormal atau dukun kemudian membenarkan informasi yang disampaikannya maka sungguh dia telah kafir terhadap ajaran yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Al Hakim, dia berkata shahih
dan memenuhi kriteria Al Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh Adz Dzahabi, dishahihkan Al Albani dalam Irwa’ul Ghalil 2006). 

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Apakah kalian tahu apa yang difirmankan Rabb kalian ?” Mereka (para sahabat) mengatakan,“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu” Beliau bersabda,“(Allah berfirman) Pada pagi hari ini ada diantara hamba-Ku yang beriman dan ada
yang kafir kepada-Ku. Orang yang berkata,‘Kami telah mendapatkan anugerah hujan berkat keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka itulah yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun orang yang berkata,‘Kami mendapatkan curahan hujan karena rasi
bintang ini atau itu, maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang’.”(Muttafaq ‘alaih).

Tradisi Ruwatan

Pada umumnya acara ini ditujukan untuk tolak bala dan kesialan serta mencari perlindungan dan keselamatan. Menurut kepercayaan tradisional masyarakat Jawa, orang-orang yang harus diruwat biasanya mempunyai ciri khusus yang dipercayai bisa membawa sial, seperti
anak tunggal laki-laki (ontang-anting), dua bersaudara saja laki-laki dan perempuan (gedhono gedhini), dan lain-lain. Prosesi ruwatan dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada yang dengan cara mencuci benda pusakanya, ada yang dengan memandikan orang yang diruwat. Menurut kepercayaan yang melekat secara turun temurun, meski telah menjalani kewajiban ajaran Islam, namun bila belum diruwat, orang tersebut bakal sering mendapat musibah dan kesialan.

Sedih, itulah perasaan yang muncul setelah melihat berbagai realita kesyirikan yang bertebaran di masyarakat kita. Sebuah negara yang dibanggabanggakan sebagai sosok negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Mungkin saja mereka lupa bahwa jumlah yang besar bukanlah jaminan kemuliaan dan kemenangan. Mungkin mereka telah lalai bahwa kemuliaan hanya bisa diraih dengan ketakwaan. Mungkin mereka tidak ingat kalau kemenangan hanya akan diraih oleh orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dengan menegakkan panji-panji tauhid dan mengibarkan bendera permusuhan untuk memberangus kesyirikan dan berbagai tindak pelecehan terhadap ajaran agama. 

Allah ta’ala berfirman yang artinya,”Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian membela (agama) Allah, niscaya Allah juga akan menolong kalian dan mengokohkan kedudukan kalian.” (QS. Muhammad [47] : 7).

MEMBENTENGII DIIRII DARII SYIIRIIK
Di antara kiat untuk membentengi diri agar tidak terjerumus dalam kesyirikan adalah :
  1. Mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah ‘azza wa jalla dengan senantiasa berupaya memurnikan tauhid
  2. Menuntut ilmu syar’i
  3. Mengenali dampak syirik dan menyadari bahwasanya syirik itu akan menghantarkan pelakunya kekal di dalam Jahannam dan menghapuskan amal kebaikan
  4. Menyadari bahwasanya syirik akbar tidak akan diampuni oleh Allah
  5. Tidak berteman dengan orang-orang yang bodoh yang hanyut dalam berbagai bentuk kesyirikan
Maka berhati-hatilah saudaraku dari kesyirikan dengan seluruh macamnya. Ingatlah, bahwasanya syirik itu bisa berbentuk ucapan, perbuatan dan keyakinan. Terkadang satu kata saja bisa menghancurkan kehidupan dunia dan akhirat seseorang dalam keadaan dia tidak menyadarinya

Syaikh Shalih Al Fauzan juga menyebutkan beberapa kiat untuk melindungi masyarakat dari syirik dan berbagai macam penyimpangan akidah, di antaranya adalah :
  1. Kembali merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dalam memahami akidah. Sebagaimana para ulama salaf dahulu juga mengambil akidah mereka dari keduanya. Karena umat akhir jaman ini tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengan sesuatu yang telah berhasil membuat baik generasi pendahulunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Darul Hijrah Malik bin Anas rahimahullah. Selain itu dibutuhkan pula perhatian khusus untuk mengkaji keyakinan fiqrah-firqah menyimpang, membongkar syubhat-syubhat mereka, dan memperingatkan umat dari bahayanya. Karena orang yang tidak mengetahui kejelekan niscaya akan terjatuh ke dalamnya. 
  2. Memberikan porsi yang cukup dalam mengajarkan akidah yang benar yaitu akidah salafush shalih- di berbagai jenjang pendidikan. Di samping itu juga dibutuhkan perhatian yang besar dalam penyusunan soal ujian yang mendetail dalam bidang ilmu ini
  3. Menggunakan buku-buku bermanhaj salaf yang murni serta menjauhi buku-buku menyesatkan yang disebarkan oleh firqah menyimpang semacam sufi, Jahmiyah, Mu’tazilah, Asya’irah, Maturidiyah dan lain sebagainya, kecuali apabila ada hajat untuk membantah dan membongkar penyimpangan mereka serta memperingatkan umat dari bahayanya.
  4. Bangkitnya para da’i yang berusaha untuk memperbaiki keadaan umat dengan berjuang keras untuk menanamkan kembali akidah salaf (yang murni) di tengah-tengah masyarakat serta menangkis berbagai macam kesesatan yang tersebar di sana.

Syirik Versi Ahli Kalam dan Ahli Tauhid

Ada empat kaedah yang dapat membantu memahami syirik. Sedikit dari kita yang mengaku muslim memahami syirik karena kejahilan jadinya budaya syirik masih terus laris manis.

Nah, Rumaysho.Com kesempatan kali ini akan mengangkat pembahasan empat kaedah memahami syirik dari kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab “Al Qowa’idul Arba’” (kitab yang ringkas namun syarat makna), dengan mengambil penjelasan dari guru penulis Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah.

Semoga dengan memahami empat kaedah ini semakin memantapkan tauhid dan iman kita.

القَاعِدَةُ الأُوْلَى: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الخَالِقُ المُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ في الإسْلامِ، والدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31

Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Namun, pengakuan mereka ini tidaklah dapat memasukkan mereka ke dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 )

Ketahuilah bahwasanya orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki) [1]. Namun pengakuan mereka ini tidaklah memasukkan mereka ke dalam islam, tidaklah diharamkan darah dan harta mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa tauhid bukanlah pengakuan dalam perkara rububiyah saja dan syirik bukanlah syirik dalam perkara rububiyah saja. Bahkan tak ada seorangpun yang mengingkari tauhid rububiyah kecuali makhluk yang penuh dengan keragu-raguan. Setiap orang pasti mengakui tauhid yang satu ini.

Tauhid rububiyah adalah mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Pengatur (Alam Semesta). Defenisi lainnya, tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.

Tidaklah seorang makhluk pun yang mengakui bahwa ada pencipta selain Allah, Pemberi rizki selain Allah, atau Yang menghidupkan dan mematikan selain-Nya. Bahkan orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Pengatur (Alam Semesta ). Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

”Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah“.(QS. Luqman [31] : 25 ).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ

“Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. (QS. Al Mu’minun [23] : 86-87 ). Bacalah akhir surat Al Mu’minun, niscaya engkau akan dapati bahwa orang-orang musyrik mengakui tauhid rububiyah. Demikian juga halnya dalam surat Yunus, Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 ). Mereka (orang-orang musyrik) telah mengakui sifat-sifat rububiyah ini.

Ingatlah, tauhid bukanlah hanya tauhid rububiyah saja, sebagaimana yang diyakini oleh ahli kalam dan ahli logika yang mereka nyatakan sebagai aqidah mereka. Orang-orang semacam ini hanya mengakui tauhid adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan. Di antara perkataan mereka adalah “Allah itu Esa dalam Dzat-Nya dan tidak terbagi. Allah itu Esa dalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah itu Esa dalam perbuatan-Nya[2] dan tidak ada sekutu bagi-Nya”. Semua ini yang disebutkan oleh mereka (ahli kalam) adalah sebatas pada tauhid rububiyah saja. Kalian silakan merujuk pada kitab-kitab mereka. Kalian akan mendapati bahwa definisi mereka terhadap tauhid tidaklah lepas dari tauhid rububiyah saja.

(Perlu diketahui bahwa) tauhid rububiyah bukanlah tauhid yang Allah minta untuk disampaikan melaui pengutusan Rasul. (Juga perlu diketahui bahwa) pengakuan terhadap tauhid ini semata tidak akan bermanfaat bagi pelakunya. Karena pengakuan semacam ini juga diakui oleh orang musyrik dan orang kafir. Dan hal ini tidak mengeluarkan mereka (orang-orang musyrik) dari kekafiran lalu memasukkan mereka dalam Islam. Mengenai tauhid ini saja termasuk kesalahan yang besar.

Barangsiapa yang hanya meyakini tauhid rububiyah semata, maka itu tidak lebih dari aqidah Abu Jahal dan Abu Lahab. Namun sayang, inilah yang diyakini oleh para intelektual muslim saat ini, mereka hanya mengakui tauhid rububiyah saja dan tidak sampai beranjak kepada tauhid uluhiyah. Ini adalah kekeliruan yang sangat besar dalam pendefenisian tauhid.

Adapun syirik, mereka (ahli kalam) mengatakan, “Syirik adalah meyakini adanya pencipta dan pemberi rizki selain Allah“. Maka kita katakan , “Ini adalah perkataan Abu Jahal dan Abu Lahab.” Pembesar musyrik Quraisy ini tidaklah mengatakan, ”Sesungguhnya ada pencipta dan pemberi rizki selain Allah.” Bahkan yang mereka akui yaitu : Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.

TAWASUL MEMINTA SYAFAAT

Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah.

Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’.

القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].


Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.”

Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)

Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman,

مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ

“Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya menjadikan sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya).

Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.”

Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut.

[Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah.

[Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat).

Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas,

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ).

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman,

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2].

Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak.

وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18)

(Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan).

Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)


Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak

Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya,

ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ

“Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4]

Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah.

****

]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].

Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255)

Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali.

Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid.

SESEMBAHAN ORANG MUSRIK BER MACAM MACAM

Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik.

القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ،

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih.

Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا

“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40).

Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ).

Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini),

وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ

“Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid.

(Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka.

Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung.

Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi.

Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda).

Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا



“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan.


Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar