Selasa, 24 Januari 2012

SURGA, NERAKA DAN CALON PENGHUNINYA

Berkenaan dengan masalah Surga dan Neraka, maka dari Kitab Al Yaumul Aakhir(Ensiklopedia Kiamat) yang ditulis oleh Syeikh Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor حفظه الله, insya Allooh akan dinukilkan beberapa halaman yang diharapkan dengan pemaparan nukilan dari Kitab tersebut, kita akan menjadi bertambah valid dan jelas didalam mengkaji tentang Al Jannah Wan Naar (Surga dan Neraka), khususnya berkaitan dengan bab
Pembukaan atau Bahasan ini tidak kurang dari 4 masalah, yakni adanya :
  1. Surga dan Neraka itu adalah dengan sesungguhnya, jadi bukan sesuatu yang fiktif.
  2. Surga dan Neraka itu sekarang sudah tercipta dan sudah ada.
  3. Surga dan Neraka adalah dua makhluk Allooh سبحانه وتعالى yang ditetapkan menjadi makhluk yang abadi dan tidak rusak.
  4. Surga yang semoga Allooh سبحانه وتعالى berkenan memasukkan kita kedalamnya itu adalah Surga yang pernah dinikmati oleh Nabi Adam عليه السلام.
Hendaknya kaum Muslimin mendasari bahasan ini dengan kesadaran penuh bahwa masuknya seseorang kedalam Surga dan selamatnya seseorang dari Neraka itulah sesungguhnya merupakan kesuksesan yang hakiki. Seandainya ada manusia yang menganggap dirinya sudah sukses di dunia ini dengan banyaknya harta atau istri dan anak yang dimilikinya, tingginya kedudukan / jabatannya dan sebagainya, lalu dengan itu semua maka ia merasa dirinya sudah final, lalu ia puas dan terbuai dengannya seolah tidak ada lagi unsur rugi dan untung setelah itu; maka ketahuilah bahwa sungguh orang yang demikian itu adalah jaahil(bodoh) atau ia adalah kaafir.

Oleh karena seorang Mu’min adalah seorang yang memiliki kesadaran penuh bahwa hidup di dunia ini hanyalah ladang untuk beramal shoolih, sehingga dia tidak menjadikan kehidupan di dunia ini sebagai kesuksesan yang hakiki, tetapi dirinya meyakini bahwa ia harus berjuang dengan perjuangan yang panjang untuk berusaha meraih cinta dan ridho Allooh سبحانه وتعالى agar kelak sesudah matinya ia mendapat rahmat Allooh سبحانه وتعالى untuk menjadi orang yang selamat dari Neraka dan masuk kedalam Surga-Nya. Maka barulah dikala itu ia terkategorikan sebagai seorang yang sukses, dengan kesuksesan yang sebenar-benarnya.

Setidaknya ada tiga ayat di dalam Al Qur’an dimana Allooh سبحانه وتعالى mengingatkan manusia tentang hal tersebut, yaitu antara lain adalah Surat Aali ‘Imroon (3) ayat 185 sebagai berikut:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَما الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Jadi akhir dari kehidupan kita yang disebut dengan untung (sukses) yang hakiki itu adalah jika kita sudah selamat dari Neraka dan sudah masuk ke dalam Surga. Kalau itu belum kita jangkau, belum kita capai, maka yakinilah bahwa kita masih dalam keadaan spekulatif. Mungkin untung atau mungkin rugi. Oleh karena itu tidak boleh diantara kita merasa tenang dalam hidup ini, harus selalu berada diantara dua keadaan: Khauuf dan Rojaa’. Khauuf artinya adalah takut pada hukuman yang Allooh سبحانه وتعالى janjikan, dan Rojaa’ artinya adalah berharap bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.

Kalau dalam beberapa bahasan yang lalu pernah kita kaji tentang perkara Ni’mat Kubur atau ‘Adzab Kubur, itu adalah masih sementara. Karena setelah di alam Kubur kita masih akan mengalami Hari Kiamat, Hari Dibangkitkan, Hari Dikumpulkan, Hari Dihisab, Hari Penimbangan Amal, lalu masih akan menyeberangi Ash Shirooth dan melalui Al Qonthoroh, kemudian sampai pada keputusan adakah kita tergolong orang yang “mendapat Syafa’at ataukah tidak”. Bila seandainya itu semua dapat dilalui oleh seseorang dengan baik dan setelah itu ia dimasukkan kedalam Surga, maka barulah itu yang disebutBeruntung (Sukses). Sadarilah wahai kaum Muslimin, alangkah panjang perjalanan yang masih harus kita tempuh untuk mencapai apa yang disebut “Beruntung / Sukses” menurut Allooh سبحانه وتعالى itu.

Walaupun seseorang itu merasa bahwa dirinya banyak berbuat amal kebajikan yang ia berharap pahala / ganjaran dari amal shoolih-nya tersebut, namun belum tentu di Hari Akhirat ia akan memasuki Surga; karena hendaknya ia perlu khawatir dengan adanya perkara Al Qishoshdimana mungkin segala pahala dan ganjaran yang ia peroleh masih akan dikurangi. Bahkan bisa saja ia malah menjadi orang yang bangkrut di Hari Kiamat, karena pahala / ganjaran yang dimilikinya itu habis untuk membayar orang-orang yang pernah disakiti / dianiayanya selama hidupnya di dunia. Maka keberuntungan yang hakiki itu adalah apabila seseorang itu sudah benar-benar masuk ke dalam Surga Allooh سبحانه وتعالى.

Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى yang lain di dalam Al Qur’an, yakni Surat At Taubah (9) ayat 72 :

وَعَدَ اللّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:

“Allooh menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga `Adn. Dan keridho-an Allooh adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”

Kalau orang sudah masuk ke dalam Surga, sudah masuk ke dalam ‘Adn (Taman Eden) dan ia sudah mendapatkan keridhoan Allooh سبحانه وتعالى, barulah itu disebut “orang yang beruntung”.

Perhatikan pula firman-Nya dalam Surat An Nisaa’ (4) ayat 13 berikut ini: 

تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya:

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allooh. Barangsiapa ta`at kepada Allooh dan Rosuul-Nya, niscaya Allooh memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”

Dari ayat-ayat tersebut diatas jelaslah bahwa kalau seseorang itu sudah dimasukkan kedalam Surga, diselamatkan dari Neraka, dan mendapatkan keridhoan Allooh سبحانه وتعالى, maka barulah itu yang disebut beruntung. Kalau itu semua belum didapatkannya, maka belumlah bisa dikatakan seseorang itu Sukses. Maka pahamilah terlebih dahulu definisi “Sukses” ini, agar kaum Muslimin janganlah merasa dirinya sudah sukses bila sekedar mendapat keuntungan duniawi yang semu / fana.

Persepsi para ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah tentang Surga dan Neraka

Dalam Kitab“Al ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah”, dimana kitab ini ditulis oleh salah seorang ‘UlamaAhlus Sunnah wal Jamaa’ah bernama Al Imaam Abu Ja’far Ath Thohaawy رحمه الله, beliau berkata: “Surga dan neraka itu telah diciptakan Allooh سبحانه وتعالى. Tidak akan rusak dan ia adalah selamanya. Allooh سبحانه وتعالى menciptakan Surga dan Neraka itu sebelum menciptakan makhluk yang lain. Alloohسبحانه وتعالى telah menciptakan untuk neraka ada penghuni-nya dan surga ada penghuninya. Barangsiapa yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki, maka Allooh سبحانه وتعالى akan memasukkannya ke dalam Surga karena keutamaan Allooh سبحانه وتعالى terhadapnya. Dan siapa yang dikehendaki-Nya akan masuk ke dalam Neraka maka itu adalah sesuai dengan keadilan-Nya. Setiap orang akan berperilaku sesuai dengan ketentuan yang telah diciptakan untuknya. Perbuatan baik dan perbuatan jelek telah ditakdirkan untuk semua orang.”

Perhatikan kata “Keutamaan” Allooh سبحانه وتعالى, karena sesungguhnya kita (manusia) tidak akan bisa membeli Surga Allooh سبحانه وتعالى. Pahala amalan kita seumur hidup pun tidak akan bisa membeli Surga.

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 2816, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ. قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِىَ اللَّهُ مِنْهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

Artinya:

“Tidak akan seorang pun dari kalian dimasukkan kedalam surga oleh amalannya.”

Mereka bertanya, “Demikian pula anda, wahai Rosuul?”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya. Hanya saja Allooh سبحانه وتعالى memberi jaminan padaku dengan keutamaan dan kasih sayang.”

Dari Hadits diatas dapatlah dipahami bahwa Allooh سبحانه وتعالى lebih menyayangi dan memberikan cinta-Nya kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, sehingga kedudukan beliau صلى الله عليه وسلم lebih tinggi. Berarti itu adalah karunia dari Allooh سبحانه وتعالى. Dengan demikian kalau seseorang itu bisa masuk kedalam Surga maka itu semata-mata adalah karunia Allooh سبحانه وتعالى, bukan karena hasil jerih payahnya. Adakah diantara kita manusia yang amal shoolih-nya dapat menyaingi amal shoolih Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم? Kalau Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم saja masuk kedalam Surga bukan karena amalnya, apalagi kah kita yang amalannya tidak seberapa dibandingkan dengan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Adapun siapa yang dikehendaki oleh Allooh سبحانه وتعالى untuk dimasukkan ke dalam neraka maka hal itu adalah karena keadilan-Nya. Karena Allooh سبحانه وتعالى telah memberikan kepada manusia berbagai macam perkara. Mulai dari Allooh سبحانه وتعالى lah yang telah menciptakan manusia dari tidak ada menjadi ada. Allooh سبحانه وتعالى lah yang telah memberikan kepada kita nikmat berupa udara, makanan – minuman, rizqi dan berbagai nikmat-Nya yang tak terhitung. Allooh سبحانه وتعالى lah yang telah menurunkan hidayah (petunjuk), telah menurunkan para rosuul dan nabi, bahkan sampainya petunjuk tersebut kepada kita melalui para ‘Ulama dimana mereka semua telah menyampaikan apa yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم. Setelah rambu-rambu itu jelas, yakni mana yang halal dan mana yang haram telah jelas, juga mana yang boleh dan mana yang tidak boleh telah jelas; tetapi manusia tetap melanggar dan mengkufurinya, maka sangatlah adil bila Allooh سبحانه وتعالى menghukum orang tersebut. Jadi bila seseorang dimasukkan kedalam api neraka maka itu adalah bagian dari Keadilan Allooh سبحانه وتعالى.

Persepsi tersebut dijelaskan oleh pen-syarahKitab“Al ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah”, yaitu AlImaam Muhammad bin Muhammad bin al ‘Izz al Hanafi رحمه الله:

“Imaam Ath Thohaawy رحمه الله berkata bahwa Surga dan Neraka adalah makhluk dan Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah sepakat bahwa Surga dan Neraka itu telah tercipta dan sekarang telah ada. Dan Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah masih tetap meyakini seperti ini dari dahulu sampai hari ini, hingga kemudian muncullah Ahlul Bid’ah yaitu Mu’tazilah dan Qodariyyah yang mereka memungkiri bahwa Surga dan Neraka itu sudah ada dan Surga dan Neraka adalah ciptaan Allooh سبحانه وتعالى. Mereka (Mu’tazilah dan Qodariyyah) mengatakan bahwa keyakinan mereka (Ahlul Bid’ah) adalah bahwa Allooh سبحانه وتعالى akan menciptakan Surga dan Neraka pada hari Kiamat. Mereka berpaham seperti itu karena mereka membuat syari’at yang tidak diperbuat dari Allooh سبحانه وتعالى, yaitu: Alloohسبحانه وتعالى sebagai Allooh seharusnya melakukan begini, begini, tidak boleh berbuat begitu dan begitu. Mereka (Mu’tazilah dan Qodariyyah) meng-analogikan Allooh سبحانه وتعالى dengan manusia dan perbuatannya. Mereka (Mu’tazilah dan Qodariyyah) menyerupakan Allooh سبحانه وتعالى seperti makhluk ciptaan-Nya; dan kemudian Jahmiyyah (kelompok sesat lainnya) masuk dan tergolong dalam perkara mereka. Sehingga bersamaan dengan musyabihah (firqoh yang memperserupakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya atau memperserupakan makhluk-Nya dengan Allooh سبحانه وتعالى) maka mereka juga adalah mu’attilah (orang-orang yang mengingkari bahwa Allooh سبحانه وتعالىtidak boleh berbuat begini, Allooh سبحانه وتعالى tidak patut punya ini dan itu. Mereka meyakini Allooh سبحانه وتعالى tidak punya nama dan tidak punya sifat, Allooh سبحانه وتعالى tidak hidup dan Allooh سبحانه وتعالى tidak mati, Allooh سبحانه وتعالى tidak di langit dan Allooh سبحانه وتعالى tidak di bumi). Itu adalah paham yang sesat yang dipahami oleh kelompok atau firqoh Al Jahmiyyah. Dimana mereka (Al Jahmiyyah) mengatakan: Kalau Allooh سبحانه وتعالى menciptakan surga dan neraka sebelum adanya pembalasan, maka itu sia-sia (pemborosan),karena surga dan neraka tidak ditempati dalam jangka yang sangat lama. Mereka menolak dalil-dalil dan nash-nash yang menyebabkan mereka menyimpang dari Syari’at yang benar, karena mereka mengharuskan Allooh سبحانه وتعالى untuk begini dan begitu. Mereka memanipulasi (menolak) terhadap nash-nash Al Qur’an dan Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dari tempat dan pemahaman yang semestinya. Orang yang tidak sepaham dengan mereka, oleh mereka dianggap sesat dan Bid’ah.”

Jadi Ahlul Bid’ah-pun mem-bid’ah-kan Ahlus Sunnah. Maka anda jangan kaget, seandainya Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah dituding sebagai “Ahlul Bid’ah” oleh orang-orang Ahlul Bid’ah itu sendiri. Contohnya adalahMu’tazilah, Qodariyyah, Jahmiyyah dimana mereka sebenarnya adalah orang yang jauh dari Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah dalam pemahaman ‘Aqiidah. Tetapi mereka (Mu’tazilah,Qodariyyah, Jahmiyyah) menuduh kepada Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah sebagai orang sesat dan Ahlul Bid’ah. Maka hal ini perlu dipahami sebaik-baiknya. Memang hal ini akan sangat membingungkan bagi kaum Muslimin yang awam atau masih baru menuntut ilmu dien, namun tuduhan Ahlul Bid’ah terhadapAhlus Sunnah tidaklah dapat menipu orang-orang yang faqiih dalam perkara ilmu dien.

Selanjutnya beliau Al Imaam Muhammad bin Muhammad bin Abi al ‘Izz Al Hanafi رحمه الله, pen-syarah Kitab“Al ‘Aqiidah Ath Thohaawiyyah” membawakan kepada kita banyak dalil bahwa Surga dan Neraka sudah tercipta saat ini. Dan juga didalam Kitab lain yakni Kitab “Ma’aarij Al Qabuul fii Syarhi sullamil Wushuul Ila ‘Ilmil ‘Ushuul” tentang ‘Aqiidah, karya Syaikh Haafidz Hakamiرحمه الله dikatakan bahwa: “Surga dan Neraka itu betul-betul benar adanya, bukan khurofat (fiktif), tetapi benar-benar akan dialami.”

Jadi Surga dan Neraka itu adalah sungguh-sungguh ada dan tidak dusta, serta bukanlah fiktif. Dan nanti akan kita fahami apa yang dimaksud dengan Surga, apakah berupa taman seperti yang dipahami oleh kaum Pluralis, ataukah Surga itu adalah yang seperti Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم gambarkan yakni adalah yang tidak pernah terdengar oleh telinga, tidak pernah terlihat oleh mata, dan tidak pernah terfikir dan terbayangkan oleh pikiran manusia.

Berbagai dalil yang menjelaskan bahwa Surga dan Neraka adalah benar adanya, adalah antara lain:

  1. Surat At Tahrim (66) ayat 6 – 8
  2. Surat Aali ‘Imroon (3) ayat 131 – 133
  3. Surat An Nisaa’ (4) ayat 55 – 57
  4. Surat Yuunus (10) ayat 7 – 8
  5. Surat An Nisaa’ (4) ayat 120 – 122
  6. Surat Al Hijr (15) ayat 43
Ayat-ayat Al Qur’an tersebut memberikan bukti kepada kita bahwa Surga dan Neraka itu adalah benar adanya dan kita tidak bisa memungkirinya kecuali orang-orang yang kaafir kepada Allooh سبحانه وتعالى.

Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam Surat At Tahrim (66) ayat 6 – 8 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ﴿٦﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴿٧﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴿٨﴾

Artinya:

(6) “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allooh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(7) Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.

(8) Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allooh dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Robb-mu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allooh tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat diatas Allooh سبحانه وتعالى menerangkan tentang adanya Neraka dan dijelaskan pula bahwa Neraka itu isinya adalah api, dan isinya adalah siksa, dan Neraka itu bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu dimana yang akan dibalas disana adalah orang-orang kaafir. Kemudian Allooh سبحانه وتعالى pun menjelaskan tentang Surga yang merupakan balasan bagi orang-orang yang beriman.

Perhatikan pula firman-Nya dalam Surat Yaasin (36) 63 – 64 :

هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ ﴿٦٣﴾ اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ ﴿٦٤
Artinya:

(63)“Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya).
(64) Masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.”

Berarti seseorang masuk ke dalam Jahannam karena kufur. Balasan kekufuran adalah Jahannam. Na’uudzu billaahi min dzaalik.

Kemudian dalam ayat berikut (Surat Ath Thuur (52) ayat 13 – 15), perhatikanlah bahwa Neraka Jahannam sudah diancamkan kepada manusia ketika mereka masih punya kesempatan di dunia, tetapi sayangnya mereka memilih untuk kufur kepada Allooh سبحانه وتعالى:

يَوْمَ يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعّاً ﴿١٣﴾ هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿١٤﴾ أَفَسِحْرٌ هَذَا أَمْ أَنتُمْ لَا تُبْصِرُونَ ﴿١٥﴾
Artinya

(13) “Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.
(14) (Dikatakan kepada mereka): “Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya”
(15) Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat?”

Yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah ketika mereka (orang-orang kaafir) kelak sudah masuk kedalam Neraka, maka barulah mereka benar-benar merasakan apa yang dahulunya telah Allooh سبحانه وتعالىancamkan tehadap mereka. Sekarang, di dunia ini mungkin mereka masih saja bersikap mengingkari dan mendustakannya, karena mereka itu belum “mencicipi” panas dan pedihnya siksaan api Neraka itu.

Perhatikan pula firman Allooh سبحانه وتعالىdalam Surat Aali ‘Imroon (3) ayat 131 – 133:

وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ ﴿١٣١﴾ وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ ﴿١٣٢﴾ وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ﴿١٣٣
Artinya:

(131) Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.
(132) Dan ta`atilah Allooh dan Rosuul, supaya kamu diberi rahmat.
(133) Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robb-mu dan kepada Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”

Juga firman-Nyadalam Surat An Nisaa’ (4) ayat 55 – 57 :

فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُم مَّن صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيراً ﴿٥٥﴾ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً ﴿٥٦﴾ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً لَّهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِـلاًّ ظَلِيلاً ﴿٥٧
Artinya:

(55) “Maka diantara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan diantara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.

(56) Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allooh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(57) Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shoolih, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”

Dan firman-Nyadalam Surat Yuunus (10) ayat 7 – 8:

إَنَّ الَّذِينَ لاَ يَرْجُونَ لِقَاءنَا وَرَضُواْ بِالْحَياةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّواْ بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ ﴿٧﴾ أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمُ النُّارُ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ ﴿٨﴾
Artinya:

(7) “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
(8) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.”

Dan firman-Nyadalam Surat An Nisaa’ (4) ayat 120 – 122 :

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً ﴿١٢٠﴾ أُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلاَ يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصاً ﴿١٢١﴾ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً وَعْدَ اللّهِ حَقّاً وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللّهِ قِيلاً ﴿١٢٢﴾
Artinya:

(120) “Syaithoon itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaithoon itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.
(121) Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari daripadanya.
(122) Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan shoolih, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allooh telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allooh?”

Lalu firman-Nyadalam Surat Al Hijr (15) ayat 43:

وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya:

“Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaithoon) semuanya.”

Itulah diantara dalil-dalil dari Al Qur’an yang memberikan keterangan kepada kita bahwa Surga dan Neraka itu ada. Adapun dali-dalil yang berupa Hadits adalah sebagai berikut:

Dalam Hadits Riwayat Al Imaam Muslim no: 28,yang berasal dari Shohabat ‘Ubaadah bin Shoomit رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَابْنُ أَمَتِهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةِ شَاءَ
Artinya:

“Barangsiapa yang bersaksi, berikrar dan meyakini, bahwa tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Allooh سبحانه وتعالى, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, dan bahwa Muhammad adalah hamba Allooh سبحانه وتعالى dan utusan-Nya, bahwa ‘Isa ibnu Maryam عليه السلام adalah hamba Allooh سبحانه وتعالى dan putra dari hamba-Nya (perempuan, yaitu Maryam – pen.), bahwa kalimat yang Allooh سبحانه وتعالى berikan kepada Maryam dan ruh berasal dari-Nya, bahwa surga dan neraka adalah benar, maka Allooh سبحانه وتعالى akan memasukkan dia ke dalam Jannah (surga) dari delapan pintu surga yang mana yang dia mau.”

Jadi pada intinya, Surga telah Allooh سبحانه وتعالى janjikan kepada orang-orang yang beriman.

Itulah hal-hal yang harus kita pahami bahwa Surga dan Neraka itu ada dan yang demikian itu benar adanya. Allooh سبحانه وتعالى menjanjikan Surga dan mengancam dengan api Neraka bagi orang-orang yangkaafir.

Surga itu sekarang sudah ada dan sudah tercipta

Sebagaimana kita ketahui, Nabi Adam عليه السلام pernah memasuki surga, berarti surga itu ada sebelum Nabi Adam عليه السلام. Dengan demikian, surga itu sekarang sudah ada, dan bukanlah seperti yang diyakini oleh orang-orang Mu’tazilah dan Qodariyyah bahwa Allooh سبحانه وتعالى baru menciptakan surga itu kelak di hari Kiamat.

Sebagai pengantar untuk kita memahami hal ini, adalah perkataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah, antara lain adalah perkataan Al Imaam Ahmad bin Hanbal رحمه الله (beliau adalah murid Al Imaam Asy Syaafi’iy رحمه الله) sebagai berikut :

“Allooh سبحانه وتعالى menciptakan Surga sebelum menciptakan makhluk. Allooh سبحانه وتعالى menciptakan untuk Surga itu ada penghuninya, dan untuk neraka juga ada penghuninya. Untuk Surga itu nikmatnya adalah abadi. Barangsiapa yang meyakini bahwa surga adalah sementara (– berarti rusak, tidak abadi– pen.), maka ia dihukumi sebagai kaafir. Allooh سبحانه وتعالى menciptakan neraka, sebelum menciptakan manusia. Dan untuk neraka itu ada penghuninya, dan adzabnya adalah abadi (selama-lamanya).”

Simak pula perkataan ‘Ulama Ahlus Sunnah lainnya yakni Al Imaam Aajurri Asy Syafi’iy رحمه الله dalam Kitabnya yang berjudul “Asy Syarii’ah” , dalam Bab “Mengimani dan Membenarkan bahwa Surga dan Neraka sudah tercipta”. Beliau رحمه الله berkata: “Ketahuilah oleh kalian, semoga Allooh سبحانه وتعالى mengasih-sayangi aku dan kalian, bahwa Al Qur’an menjadi saksi bahwa Allooh سبحانه وتعالى telah menciptakan Surga dan Neraka, sebelum Allooh سبحانه وتعالى menciptakan Adam عليه السلام. Dan Allooh سبحانه وتعالى menciptakan bagi Surga ada penghuninya dan bagi Neraka ada penghuninya, sebelum mereka itu dikeluarkan ke dalam kehidupan dunia. Tidak ada yang berselisih pendapat tentang perkara ini bagi siapa yang sampai kepada dirinya Islam dan mencicipi manisnya Iman. Telah ditunjukkan perkara tersebut, baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Maka kita berlindung kepada Allooh سبحانه وتعالى, dari orang yang mengingkari perkara ini”.

Lalu beliau رحمه الله menyampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an maupun Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمsesudahnya.

Selanjutnya simak pula perkataan ‘Ulama Ahlus Sunnah yakni Ibnu ‘Abdil Bar رحمه الله ketika beliau رحمه الله menjelaskan Hadits tentang Gerhana, maka beliau berkata sebagai berikut :

“Dari Hadits yang sudah kita bahas tersebut (– Hadits tentang Gerhana – pen.), terdapat pelajaran bahwa Allooh سبحانه وتعالى menyebutkan tentang Surga dan Neraka, menunjukkan bahwa Surga dan Neraka itu sudah tercipta. Dan para ‘Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah meyakini bahwa Surga dan Neraka itu tidak rusak, tetapi langgeng dan abadi. Ahlul Bid-ah-lah yang memungkiri perkara itu.”

Dari pernyataan tiga orang Imaam Ahlus Sunnah tersebut saja, kita menjadi jelas dan semakin pasti, serta tidak boleh ragu bahwa Surga dan Neraka itu sudah ada dan sudah tercipta. Kalau kita mengaku AhlusSunnah wal Jamaa’ahmaka kita harus meyakininya. Bahkan sebagaimana dikatakan oleh Al Imaam Aajurri رحمه الله bahwa siapa yang meragukan bahwa Surga dan Neraka itu sekarang sudah ada, maka orang tersebut bisa terancam kafir / murtad (keluar dari Al Islaam).

Adapun dalil-dalil (ayat-ayat) yang dibawakan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah tersebut diatas, adalahSurat Aali ‘Imron (3) ayat 133 :

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Robbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.”

Artinya, bahwa Surga itu telah dipersiapkan, telah disediakan.Berarti surga itu sudah ada dan sudah disiapkan oleh Allooh سبحانه وتعالى bagi orang-orang yang bertaqwa.

Juga dalam Surat Al Hadiid (57) ayat 21 : 

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاء وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ اللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya:

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Robmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allooh dan Rosuul-rasuul-Nya. Itulah karunia Allooh, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allooh mempunyai karunia yang besar.”

Kemudian dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7294, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه bahwa ketika matahari panas terik Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم keluar rumah melaksanakan shalat zhuhur, kemudian setelah salam beliau صلى الله عليه وسلم naik ke atas mimbar dan menyebutkan tentang hari kiamat. Beliau صلى الله عليه وسلم sebutkan bahwa pada saat itu terdapat perkara yang besar, kemudian Rosuulullooh صلى الله عليه وسلمbersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَسْأَلَ عَنْ شَيْءٍ فَلْيَسْأَلْ عَنْهُ فَوَاللَّهِ لاَ تَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَخْبَرْتُكُمْ بِهِ مَا دُمْتُ فِي مَقَامِي هَذَا قَالَ أَنَسٌ فَأَكْثَرَ النَّاسُ الْبُكَاءَ وَأَكْثَرَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ يَقُولَ سَلُونِي فَقَالَ أَنَسٌ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ أَيْنَ مَدْخَلِي يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ النَّارُ فَقَامَ عَبْدُ اللهِ بْنُ حُذَافَةَ فَقَالَ مَنْ أَبِي يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَبُوكَ حُذَافَةُ قَالَ ثُمَّ أَكْثَرَ أَنْ يَقُولَ سَلُونِي سَلُونِي فَبَرَكَ عُمَرُ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم رَسُولاً قَالَ فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ قَالَ عُمَرُ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ آنِفًا فِي عُرْضِ هَذَا الْحَائِطِ وَأَنَا أُصَلِّي فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ
Artinya:

“Siapa ingin bertanya maka bertanyalah. Dan tidaklah kalian bertanya kepadaku tentang sesuatu kecuali aku akan kabarkan kepada kalian selama aku masih berada di tempatku ini.”

Tiba-tiba para Shohabat menangis, dan Nabi صلى الله عليه وسلم terus mengulangi: “Bertanyalah kepadaku.”

Maka berdirilah ‘Abdullooh bin Hudzaafah As Sahmi رضي الله عنه seraya berkata, “Siapakah ayahku?”

Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab: “Ayahmu Hudzaafah.”

Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم meminta lagi: “Bertanyalah kepadaku.”

Maka bangkitlah ‘Umar dari posisi duduk berlututnya lantas berkata, “Kami ridho Allooh sebagai Robb, Islam sebagai dien dan Muhammad sebagai Nabi.”

Lalu Nabi صلى الله عليه وسلم terdiam sejenak, kemudian bersabda: “Barusan diperlihatkan kepadaku surga dan neraka dari balik dinding inisedangkan aku dalam keadaan sholat, aku tidak pernah melihat seperti hari ini tentang kebaikan dan kejahatan.”

Didalam suatu Hadits lain dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata:

“Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم sholat bersama kami pada suatu hari, setelah sholat selesai beliau صلى الله عليه وسلم berpaling kepada kami, lalu bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Imaam (pemimpin) kalian, maka janganlah kalian mendahului aku dalam perkara ruku’, perkara sujud, perkara bangun dari sujud dan perkara berpaling. Sesungguhnya aku melihat kalian dari hadapanku dan dari belakangku”.

Lalu Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Demi yang jiwaku di dalam genggaman-Nya kalau seandainya kalian melihat apa yang kulihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Para Shohabat bertanya: “Ya Rosuulullooh, apa sesungguhnya yang engkau lihat?”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Aku melihat surga dan aku melihat neraka”.

Juga dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 6637, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً
Artinya:

“Demi yang jiwaku di dalam genggaman-Nya kalau seandainya kalian melihat apa yang kulihat, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Pelajaran yang dapat kita petik dari Hadits-Hadits diatas adalah bahwa ketika sholat berjamaa’ah, maka hendaknya Ma’mum jangan bergerak sebelum Imaam Sholat bergerak. Gerakan Ma’mum haruslah setelah gerakan Imaam Sholat, termasuk ketika sang Imaam berpaling dari tempat duduknya, maka barulah si Ma’mum berpaling dari tempat duduknya.

Adapun yang dimaksud dengan “sedikit tertawa dan banyak menangis” dalam Hadits tersebut adalah tentu akan menjadi semakin sedikit tertawa dan banyak menangis seseorang jika saja ia mengetahui apa yang Allooh سبحانه وتعالى telah perlihatkan kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tentang dahsyat dan mengerikannya keadaan di Neraka, yang dengan demikian ia akan semakin takut berma’shiyat pada Allooh سبحانه وتعالى, dan semakin menyesal atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Inilah salah satu dari sekian Mu’jizat yang diberikan Allooh سبحانه وتعالى kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, dimana beliau صلى الله عليه وسلم telah melihat Surga dan melihat Neraka.

Jadi jelaslah bahwa Surga dan Neraka itu sudah ada, bahkan telah terlihat dan diperlihatkan oleh Allooh سبحانه وتعالى kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم. Dengan demikian sebagaimana yang dikatakan oleh AlImaam Ajurri رحمه الله, seseorang yang tidak meyakini bahwa Surga dan Neraka itu sekarang sudah ada, maka dia adalah kaafir terhadap firman Allooh سبحانه وتعالى dan kaafir terhadap sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Surga dan Neraka adalah Abadi (Kekal)

Kita pahami terlebih dahulu bahwa Surga dan Neraka adalah abadi, tidak akan rusak selama-lamanya. Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang Allooh سبحانه وتعالى masukkan ke dalam Surga Allooh سبحانه وتعالى sejak awal. Tetapi apabila Allooh سبحانه وتعالى takdirkan bahwa diantara kita ada yang harus masuk kedalam Neraka terlebih dahulu, maka mudah-mudahan tidak berada didalam Neraka tersebut selamanya. Karena bagi orang yang didalam hatinya ada sebesar sawit iman maka ia tidak selamanya berada di dalam neraka, melainkan pada suatu waktu ia akan dikeluarkan dari Neraka dan dimasukkan kedalam Surga.

Hal itu adalah sebagaimana diberitakan dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 44 dan Al Imaam Muslim no: 193, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ : لاََ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ
Artinya:

“Akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallooh dan dalam hatinya terdapat sebiji sawit kebajikan, dan akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallooh dan dalam hatinya terdapat sebesar butir padi kebajikan, dan akan keluar dari api neraka barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallooh dan dalam hatinya terdapat sebesar biji jagung kebajikan.” 

Tetapi ingatlah bahwa Neraka itu sendiri dan adzab-nya adalah abadi.

Surga dan Neraka adalah abadi, langgeng, tidak akan rusak. Misalnya seperti dikatakan oleh ImaamAhmad bin Hanbalرحمه الله bahwa: “Neraka itu telah diciptakan dan diciptakan pula siapa yang menjadi penghuninya dan surga itu telah Allooh سبحانه وتعالى ciptakan dan diciptakan pula siapa yang akan menjadi penghuninya. Allooh سبحانه وتعالى telah ciptakan kedua-duanya, lalu Allooh سبحانه وتعالى telah ciptakan warga untuk kedua tempat itu. Surga dan Neraka itu tidak pernah akan rusak dan apa yang ada didalamnya juga tidak pernah akan rusak.

Jika ada Ahlul Bid’ah atau kaum Zindiq (munaafiq) yang mengatakan dengan berdalil bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali Allooh سبحانه وتعالى, dan termasuk ayat-ayat sejenit itu, yang termasuk ayat Muhtasyaabihat di dalam Al Qur’an, maka hendaknya anda menjawab kepada orang yang seperti itu : ‘Tafsiran ayat itu adalah bahwa segala sesuatu yang Allooh سبحانه وتعالى takdirkan untuk rusak dan binasa, maka ia akan binasa. Sedangkan Allooh سبحانه وتعالىmenciptakan Surga dan Neraka itu untuk selamanya, bukan untuk fana dan tidak untuk binasa. Dan Surga itu termasuk di alam Akhirat bukan di alam dunia’.”

Demikian Al Imaam Ahmad bin Hanbalرحمه الله menjelaskan kepada kita sekalian tentang keabadian Surga dan Neraka.

Ulama Ahlus Sunnah Ibnu ‘Abdil Bar رحمه الله menjelaskan:

“Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Surga dan Neraka itu sudah tercipta dan keduanya tidak akan rusak, bahkan sampai datangnya hari Akhirat. Adapun rusaknya dunia sudah kita maklumi bersama, bila dunia itu musnah dengan adanya hari Kiamat. Sedangkan hari Akhirat tidak pernah terbebas dari Jahannam, tidak pernah kosong dari Jahannam. Akhirat juga tidak pernah kosong dari Surga, karena Surga adalah bagian dari kasih-sayang Allooh سبحانه وتعالى, dan Neraka adalah tempat orang yang diadzab dari kalangan orang-orang yang Allooh سبحانه وتعالى kehendaki”.

Berikut ini adalah perkataan ‘Ulama Ahlus Sunnah Ibnu Taimiyah رحمه الله:

“Telah sepakat pendahulu ummat dan para Imamnya dan seluruh Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah bahwa ada diantara makhluk yang tidak akan pernah hilang (lenyap) secara menyeluruh, seperti misalnya Surga, Neraka dan ‘Arsy. Karena menurut Hadits dan penjelasan para ‘Ulama bahwa ‘Arsy adalah atapnya Surga”. 

Jadi dari penjelasan para ‘Ulama Ahlus Sunnah diatas, maka dapatlah kita ambil pelajaran bahwa pada intinya:

  1. Surga dan Neraka sungguh-sungguh ada
  2. Surga dan Neraka sekarang sudah ada (sudah tercipta)
  3. Siapa yang ingin masuk surga sebelum Hari Kiamat, maka hendaknya ia mati dalam keadaanSyahid, yakni meninggikan Syari’at Allooh سبحانه وتعالى, meninggikan Laa ilaaha illalloohMuhammadur Rosuulullooh.
Insya Allooh dalil-dalil tentang hal ini akan kita bahas dalam kajian mendatang tentang perkara Surga dan Neraka.


Bahasan tentang Surga dan Neraka, seperti dikatakan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah antara lain Imaam As Safaariiny رحمه الله, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam sebuah Hadits shohiih tentang masalahSholat Al Khusuf (Sholat Gerhana), menyatakan bahwa beliau صلى الله عليه وسلم melihat Neraka sedangkan beliau صلى الله عليه وسلم dalam keadaan sholat. Padahal beliau صلى الله عليه وسلم berada di bumi. Maka itu adalah salah satu Mu’jizat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, juga bagian dari kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى.

Hal itu adalah sebagaimana dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 241, dari Shohabat ‘Abdullooh bin Abbas رضي الله عنه, beliau berkata, “Telah terjadi gerhana matahari, sehingga Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم melakukan Sholat Gerhana (Sholat Khusuf), kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bersabda:

رأيت النار فلم أر منظر كاليوم قط أفظع
Artinya:

“Aku melihat Neraka dan tidak ada satu pemandangan yang lebih buruk daripada yang kulihat hari ini”.

Memang sebagaimana apa yang disampaikan oleh Syaikh ‘Umar Sulaiman Al Asyqor dalam Kitab beliau yang berjudul “Al Jannatu Wan Naaru”, dimana beliau mengemukakan bahwa para ‘UlamaAhlus Sunnah berbeda pendapat tentang dimana letak Neraka sekarang:
  1. Maka sebagian berpendapat bahwa Neraka itu berada di bumi paling bawah.
  2. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa Neraka itu berada di langit.
  3. Dan yang lain lagi mengambil sikap tawaquf (tidak berpendapat apa-apa) tentang hal itu.
Sedangkan Syaikh ‘Umar Sulaiman Al Asyqor cenderung pada pendapat yang ke-3 ini, sehubungan dengan tidak adanya nash yang terang dan shohiih yang menerangkan tentang lokasi Neraka; dimana diantara para ‘Ulama yang mendukung pendapat ini adalah Al Imaam Jalaaluddin As Suyuuthi رحمه الله yang mengatakan: “Dan berhenti tentang Neraka, maksudnya tidak mengatakan apa-apa dalam perkara tempat Neraka itu dimana, sebab tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allooh سبحانه وتعالى. Tidak ada yang shohiih menurut saya. Tidak ada satu Hadits pun menurut saya yang saya dapat bertumpu padanya.” (lihat “Yaqdzoh Ulil I’tibar” tulisanSyaikh Siddiq Hasan Khoon رحمه الله halaman 47)

Juga Syaikh ‘Umar Sulaiman Al Asyqor dalam hal ini dalam Kitab yang sama menambahkan perkataan Syaikh Waliyullooh Addahlawy dalam ‘Aqiidah-nya, dimana beliau mengatakan:

“Tidak ada satu nash pun yang menentukan dimana tempatnya Surga dan Neraka.Yang jelas di tempat yangAllooh سبحانه وتعالى kehendaki. Karena kita tidak memiliki kemampuan untuk memiliki ilmu yang mencakup tentang makhluk Allooh سبحانه وتعالى dan alam-Nya.”

Juga Syaikh ‘Umar Sulaiman Al Asyqor menegaskan apa yang disimpulkan oleh Syaikh Siddiq Hasan Khoon رحمه الله pada saat beliau mengomentari pernyataan Syaikh Waliyullooh Addahlawytadi:

“Inilah pernyataan yang paling kuat dan hati-hati, yang insya Allooh Ta’aalaa.”

Demikianlah seputar pernyataan para ‘Ulama Ahlus Sunnah kepada kita tentang dimana posisi neraka. Tetapi bila kita lihat pernyataan-pernyataan tersebut diatas, baik pernyataan Imaam As Suyuuthi رحمه الله, atau Syaikh Siddiq Hasan Khoon رحمه الله, bahwa tidak ada Hadits yang shohiih yang memberitakan kepada kita tentang dimana Neraka itu berada. Sehingga tidak bisa kita katakan bahwa adanya neraka itu di langit atau di bumi, karena haditsnya tidak shohiih. Yang jelas: Hanya Allooh سبحانه وتعالىyang tahu, dimana tempat neraka itu berada. Yang penting bagi kita bukan mencari tahu tentang tempatnya, melainkan apa yang sudah kita persiapkan agar amalan kita bisa menjauhkan kita dari api neraka.

Berapa luas Neraka dan Surga?

Ada beberapa dalil yang nanti akan kita ketahui bahwa ternyata neraka adalah sangat luas, sangat besar, sangat dalam dan sangat panas. Semuanya serba sangat. Tentu tidak bisa dibandingkan dengan dunia dimana sekarang kita berada.

Misalnya dalam Al Qur’an Surat Qoof (50) ayat 30 :

يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ امْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ
Artinya:

“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam: “Apakah kamu sudah penuh?” Dia menjawab: “Masih adakah tambahan?”

Dari ayat tersebut kita bisa tahu bahwa Jahannam adalah nama dari bagian di neraka. Jahananam adalah nama salah satu neraka, bukan derajat neraka.Allooh سبحانه وتعالى berdialog dengan neraka.Jahannam bisa berbicara.

Itu adalah ayat Al Qur’an dimana kita tidak boleh ragu-ragu atasnya dan tidak boleh mengkufurinya, karena itu adalah firman Allooh سبحانه وتعالى.

Bagaimana bisa dikatakan bahwa neraka itu luas, bila ternyata orang yang akan masuk ke dalam surga lebih sedikit dibandingkan yang masuk ke neraka, berarti lebih banyak orang yang masuk neraka. Misalkan saja dibuat perbandingan bahwa yang masuk neraka 60% dan yang masuk surga 40%, berarti lebih banyak orang yang masuk neraka. Itu pun Jahanam menunjukkan bahwa belum juga penuh, berarti hal itu menunjukkan bahwa neraka itu luas sekali

Berikutnya, di dalam Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 7256, Imaam Al Bukhoory no: 6661 dan Imaam At Turmudzy no: 3272, dari Shohabat Anas bin Maalik رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ {تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ} حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ
Artinya:

“Senantiasa ke dalam Jahannam itu dicampakkan dan dilempari dengan penghuninya (penghuni neraka), tetapi Jahannam itu selalu mengatakan: ‘Apakah masih ada tambahan ya Allooh?’ Dan terus-menerus tidak pernah penuh sampai dengan Allooh meletakkan kaki-Nya, lalu Jahannam mengatakan: ‘Cukup, cukup’.”

Maksudnya, Neraka Jahannam itu tidak pernah akan penuh kecuali jika Allooh سبحانه وتعالىmeletakkan kaki-Nya ke dalamnya. Hadits tersebut berbicara tentang neraka, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran (‘Aqidah) yang dapat kita petik sebagai berikut:

Allooh سبحانه وتعالى mencampakkan penghuni neraka setiap saat. Selalu ada tambahan.
Bahwa Jahannam berbicara (baik dinyatakan dalam Hadits maupun dalam ayat Al Qur’an).
Jahnnam akan penuh jika Allooh سبحانه وتعالى meletakkan kaki-Nya.

Allooh سبحانه وتعالى mempunyai kaki, tetapi tidak boleh kita bayangkan bahwa Kaki Allooh سبحانه وتعالى adalah seperti kaki manusia. Oleh karena itu, bila ada ayat atau Hadits yang berkenaan dengan Sifat maupun dengan Dzat Allooh سبحانه وتعالى, maka akal kita harus meng-imaninya kembali pada kaidah keyakinan kita kepada Sifat dan Nama dari Allooh سبحانه وتعالى.

Intinya, bahwa neraka itu tidak pernah penuh, kecuali jika dipenuhi oleh Allooh سبحانه وتعالى, dengan kaki-Nya.

Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 4850 dan Imaam Muslim no: 7354, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا
Artinya:

“Surga dan neraka saling menghujat.

Kata api neraka:“Aku diutamakan bagi penghuniku adalah orang-orang yang sombong, kejam, tirani.” 

Lalu surga mengatakan:“Kenapa yang masuk kepadakutidak ada lain kecuali orang-orang yang lemah, orang-orang yang tidak terpandang?” 

Lalu Allooh سبحانه وتعالى berfirman kepada Surga:“Wahai surga, kamu adalah kasih-sayang-Ku, dimana Aku menyayangi kalian siapa yang Aku kehendaki.” 

Kemudian Allooh سبحانه وتعالى berfirman kepada Api Neraka (Jahannam):“Wahai Neraka, kamu adalah siksa-Ku, Aku siksa melalui kamu siapa saja yang Aku kehendaki.”

Dan setiap dari keduanya mempunyai penghuni yang memenuhinya. Adapun Neraka, tidak lah penuh sehingga Allooh سبحانه وتعالى meletakkan kaki-Nya dan Neraka pun berkata, “Cukup, cukup.”

Pada saat itu, maka penuhlah Neraka dan satu dengan yang lainnya sudah sangat padat. Dan Allooh سبحانه وتعالى tidak mendzolimi seorang pun dari makhluk-Nya. Adapun surga, maka Allooh سبحانه وتعالى memperluasnya.”

Dari Hadits tersebut, terdapat pelajaran bagi kita bahwa :

Bahwa surga dan neraka adalah dua makhluk yang dengan kekuasaan Allooh سبحانه وتعالى, keduanya bisa berbicara. Padahal keduanya adalah makhluk yang sangat besar dan luas, yang didalamnya menampung penghuni (warga)-nya masing-masing. Disini akal manusia tidak bisa menafsirkan apapun, namun cukuplah kita meng-imaninya.

Calon penghuni neraka adalah orang-orang yang sombong dan yang dzolim (sadis, bengis). Orang yang akan masuk ke dalam surga adalah orang-orang yang dhu’afa (lemah, miskin).
Surga merupakan kasih-sayang Allooh سبحانه وتعالى dan neraka adalah adzab Allooh سبحانه وتعالى.
Surga akan penuh tetapi neraka tidak akan penuh, kecuali Allooh سبحانه وتعالىyang membuat neraka menjadi penuh.

Hadits lain lagi diriwayatkan oleh Al Imaam Ath Thohaawy رحمها الله dalam Kitab Musykil Al ‘Atsardan diriwayatkan oleh Al Imaam Al Baihaqy رحمها الله, juga oleh Al Imam Al Bazaar, Imam Al Khothooby, kemudian oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaany رحمه الله di dalam kitab beliau Silsilah Hadits Ash Shohiihahno: 124, juga dalam Kitab “Misykat Al Mashoobih” no: 5692, dikatakan bahwa Hadits ini shohiih dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

الشمس والقمر ثوران مكوران في النار يوم القيامة
Artinya:

“Matahari dan Bulan, berputar dan mengitari di dalam Neraka pada hari Kiamat.” 

Dari Hadits tersebut didapat pelajaran bagi kita, yaitu: Neraka akan dikitari oleh Matahari dan Bulan. Namun hendaknya dipahami bahwa Matahari dan Bulan itu adalah bukan Matahari dan Bulan yang kita lihat sekarang di bumi, melainkan Matahari dan Bulan yang insya Allooh ada di Akhirat nanti.

Seperti apa panas api neraka

Dalam Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 3265, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:

نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا
Artinya:

“Api kalian (api dunia) hanyalah sepertujuh-puluh dari api Jahannam.”

Maka para Shohabat berkata: “Sepertujuh puluh itu sudah cukup, ya Rosuulullooh.”

Beliau صلى الله عليه وسلم bersabda, “Neraka Jahannam itu dilipatkan darinya 69 kali, semuanya seperti panasnya (api dunia).”

Artinya, api di neraka Jahannam adalah 70 kali panas api di dunia yang biasa kita kenal. Misalnya api di industri (pabrik) paling tinggi 1600 derat Celsius, dan panas api tersebut bila terkena badan manusia maka badan manusia akan tembus (bolong), bagaimana dengan api neraka yang 70 kali panasnya dengan api kita (70 X 1600 derajat Celsius), tentu kita tidak bisa membayangkan betapa panas api Jahannam itu. Belum lagi jika panasnya itu didekatkan dengan panas matahari kita yang katanya bisa mencapai 5000 derajat Celsius, bila dikalikan 70 maka panas api neraka Jahannam adalah 70 X 5000 derajat Celsius = 350.000 derajat Celsius.

Tidak terbayangkan oleh manusia betapa panasnya Jahannam itu. Hanya orang yang tidak punya hati sajalah yang mengingkari perkara tersebut. Bagi kita yang beriman kepada Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم harus menyadari bahwa api yang ada di dunia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan api neraka. Maka orang yang tidak ada takutnya dengan api tersebut, berarti dalam jiwanya ada penyakit.

Tentang kedalaman Api Neraka

Dalam Hadits riwayat Imaam Muslim no: 2844, dari Shohabat Abu Hurairoh رضي الله عنه, bahwa suatu hari kami bersama Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, lalu kami mendengar suara sesuatu seperti benda jatuh. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bertanya kepada kami:

تدرون ما هذا ؟ قال قلنا الله ورسوله أعلم قال هذا حجر رمي به في النار منذ سبعين خريفا فهو يهوي في النار الآن حتى انتهى إلى قعرها
Artinya:

“Tahukah kalian suara apa itu ?”

Kami (para Shohabat) menjawab: “Yang tahu hanya Allooh dan Rosuul-Nya”.

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda: “Itu adalah suara batu yang dilemparkan oleh Allooh Ta’ala ke dalam neraka sejak tujuhpuluh tahun lalu sampai sekarang belum sampai ke dasar neraka”.

Bayangkan, 70 tahun lalu sebuah batu dilemparkan oleh Allooh سبحانه وتعالى ke dalam neraka sampai hari itu (Masa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) belum sampai ke dasar neraka. Betapa dalamnya neraka itu.

Kita Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah meyakini tentang keshohiihan Hadits yang datang dari Al Imaam Muslim dan kita hendaknya takut kepada Allooh سبحانه وتعالى, betapa dalamnya neraka Jahannam itu.

Malaikat Penjaga Neraka

Siapa dan seperti apa Malaikat Penjaga neraka? Seperti disebutkan dalam Al Qur’an Surat At Tahrim(66) ayat 6 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allooh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Bahwa Neraka itu diberi penjaga yaitu para Malaikat yang kasar, bengis, tidak punya peri kemanusiaan. Allooh سبحانه وتعالى menciptakan malaikat-malaikat yang seperti itu, dengan tidak memberikan sedikitpun sifat kasih-sayang kepada mereka. Sehingga malaikat itu demikian kejamnya menyiksa para penghuni neraka. Para malaikat itu tidak pernah berma’shiyat kepada Allooh سبحانه وتعالى, mereka mengerjakan apa saja yang diinstruksikan Allooh سبحانه وتعالى.

Dalam Surat Al Mudatstsiir (74) ayat 26 – 31 Allooh سبحانه وتعالى berfirman :

سَأُصْلِيهِ سَقَرَ ﴿٢٦﴾ وَمَا أَدْرَاكَ مَا سَقَرُ ﴿٢٧﴾ لَا تُبْقِي وَلَا تَذَرُ ﴿٢٨﴾ لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ ﴿٢٩﴾ عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ ﴿٣٠﴾ وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَاناً وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلاً كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ ﴿٣١﴾
Artinya:

(26) Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqor.
(27) Tahukah kamu apa (neraka) Saqor itu?
(28) Saqor itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(29) (Neraka Saqor) adalah pembakar kulit manusia.
(30) Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).
(31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mu’min itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan):”Apakah yang dikehendaki Allooh dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allooh menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Robbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqor itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

Dari ayat tersebut dapat banyak pelajaran, intinya adalah :

Bilangan malaikat itu adalah sangat banyak, tidak ada yang tahu berapa bilangannya kecuali Allooh سبحانه وتعالى, tetapi komandannya seperti disebutkan dalam ayat diatas adalah sembilan belas. Semuanya mempunyai hikmah. Hanya saja orang kafir meragukannya.

Sebagaimana dalam Hadits riwayat Imam Muslim no: 2842, dari Shohabat Abdullooh bin Mas’uud رضي الله عنه, bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda :

يؤتى بجهنم يومئذ لها سبعون ألف زمام مع كل زمام سبعون ألف ملك يجرونها
Artinya:

“Jahannam didatangi pada hari itu (Hari Kiamat) oleh sebanyak 70 ribu tali kekang. Setiap tali kekang dijaga oleh 70 ribu malaikat yang menariknya.”

Maka sebagai orang yang beriman, kita seharusnya yakin dan berbangga, harus percaya penuh kepada Allooh سبحانه وتعالى, dan jangan takut kepada orang kafir, karena Allooh سبحانه وتعالى mempunyai tentara malaikat dan tentara tersebut siap untuk diterjunkan (diinstruksikan) oleh-Nya. Dan malaikat tidak pernah membantah perintah Allooh سبحانه وتعالى. Maka misalnya kita memohon (berdo’a): “Ya Allooh menangkanlah dan muliakan Islam dan kaum muslimin”, lalu Allooh سبحانه وتعالى mengabulkan do’a itu, maka semua orang kafir di dunia ini tidaklah ada artinya.

Yang menjadi masalah adalah : Mengapa do’a kita itu belum terkabul-terkabul juga? Jangan-jangan do’a kita yang mandul. Ternyata do’a kita menjadi mandul adalah karena kita tidak melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar. Selama ini kita masa-bodoh terhadap kemungkaran. Kita tidak perduli dengan kemungkaran yang terjadi di sekeliling kita. Sikap ini lah yang menjadikan Allooh سبحانه وتعالى tidak menanggapi do’a kita. Fayad’uuna falaa yustajaabu lakum(Kalian berdoa kepada Allooh سبحانه وتعالى, tetapi Allooh سبحانه وتعالى tidak mengabulkan do’a kalian).

Kalau kita ingin do’a kita di-ijabah, kuncinya antara lain : Setiap kita harus peka untuk ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Adapun berita tentang malaikat dan banyaknya, maka tidaklah perlu kita ragu. Semua itu dengan mudah Allooh سبحانه وتعالى akan instruksikan, karena segala sesuatu di dunia ini akan bisa menjadi tentara Allooh سبحانه وتعالى, yang tidak bisa dicegah oleh siapapun. Sehebat apapun yang diperbuat manusia, tidak akan bisa mengalahkan kehendak Allooh سبحانه وتعالى.

Ada beberapa perkara yang bisa menjadi uraian dari semuanya itu, kami nukilkan apa yang ditulis oleh AlImaam Al Haafidz Ibnu Rojab Al Hanbali رحمه اللهdalam Kitab At Takhwiif Minannaar Wat Ta’riif bi Hali daaril Bawaar (Memberi Rasa Takut dengan Api Neraka dan Memperkenalkan penghuni neraka ).

Dalam kitab tersebut ada satu judul yakni: “Penyebutan tentang para penjaga Neraka Jahannam dan siksa-siksanya.”Seperti disebutkan diatas Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam Surat Al Muddatstsiir ayat 31, dalam perkara ini para ‘Ulama dari kalangan Shohabat dan Tabi’iin mengemukakan berbagai ungkapan, intinya diantaranya seperti diriwayatkan oleh Aadam bin Abii Iyyaas tentang “19 malaikat” itu adalah 19.000 malaikat, dan setiap malaikat dari mereka membawa pemukul (martil) dari besi yang memiliki 2 cabang. Jika memukul sekali saja maka akan jatuhlah 70.000 orang kedalam neraka. Sedangkan 1 malaikat, dari bahu ke bahunya bisa melingkupi antara Mekkah dan negeri Syam, (yang jaraknya ribuan kilometer).

Sebagaimana penjelasan tersebut dapat dibaca dalam Tafsir Mujaahid Jilid 1 halaman: 467. Itu menunjukkan betapa Allooh سبحانه وتعالى menciptakan makhluk yang sedemikan besarnya, sedemikian kejamnya, dan yang sangat menakutkan.

Namun demikian dalam Tafsir Al Kabiir tulisan Fakhrurrozi, makna 19 itu adalah bahwa penguasa Neraka adalah 19 malaikat. Ada yang mengatakan 19 golongan malaikat. Ada pula yang mengatakan 19 barisan malaikat. Menurut Al Waahidy dari para Ahli Tafsiir bahwa pemimpin dari 19 malaikat itu adalah Malaikat Maalik. Bersamanya 18 malaikat lainnya. Mata mereka bagaikan Kilat. Taring mereka bagaikan tanduk. Rambut mereka menyentuh kaki mereka. Mulut mereka mengeluarkan api. Jarak antara dua bahu mereka sejarak 1 tahun. Luas telapak tangan dari satu malaikat tersebut adalah antara (negeri) Robii’ah dan Mudhor (– kira-kira antara Mekkah dan Syam – pen.). Dicabut dari mereka rasa sayang dan belas kasihan. Satu malaikat mengambil 70.000 orang dan melemparkannya semaunya kedalam Jahannam.

Itulah yang dijelaskan oleh para ‘Ulama Ahlus Sunnah, intinya adalah bahwa malaikat itu tubuhnya besar-besar sekali, tidak bisa dibayangkan oleh manusia.

Menurut Al Imaam Al Haafidz Ibnu Rojab Al Hanbali رحمه الله, bahwa para Salaf dan Kholaf(orang-orang dahulu dan orang-orang zaman kemudian), mengatakan bahwa fitnah (ujian) itu terdapat dalam bilangan malaikat itu sendiri, dimana orang-orang kafir tertipu dengan jumlah bilangannya dan kemudian mereka menyangka bahwa mereka bisa menangkis, bisa menghindar, lari dan mengelak dari apa yang Allooh سبحانه وتعالى timpakan kepada mereka berupa siksa neraka. Itu merupakan ancaman bahwa orang kafir tidak mungkin bisa melawan malaikat Allooh سبحانه وتعالى. Selanjutnya dijelaskan dalam ayat tersebut (Surat Al Muddatstsiir ayat 31) bahwa Allooh سبحانه وتعالى menggambarkan betapa mengerikannya neraka Saqoritu.

Ada pula Tafsiir yang menjelaskan tentang Az Zabaaniyyah. Kata Az Zujjaaj رحمه الله, Az Zabaaniyyah adalah malaikat. Dan kata Atho’ bin Maalik رضي الله عنه, Az Zabaaniyyah adalah malaikat yang sangat kejam dan bengis yang menjaga Jahannam.

Semua itu menjelaskan bahwa malaikat penjaga Neraka itu sedemikian banyak, sedemikian kejam, yang tidak diberi rasa kasihan dalam hatinya, semua itu merupakan ancaman bagi manusia, agar manusia takut kepada Allooh سبحانه وتعالى. Karena Neraka memang merupakan adzab Allooh سبحانه وتعالى dan surga adalah kasih-sayang Allooh سبحانه وتعالى.

Demikian itu beberapa uraian tentang Neraka. Mudah-mudahan Allooh سبحانه وتعالى menunjukkan kepada kita hidayah dan taufiq agar kita tidak mau untuk berbuat ma’shiyat, karena Allooh سبحانه وتعالى mengancam demikian dahsyatnya.


Ketetapan Surga dan Neraka untuk Hamba Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Dari Abu ‘Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, bahwaRasulullah telah bersabda, – dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan -“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalumenjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah malaikatuntuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 hal: 
  1. Rezeki, 
  2. Ajal,/ MATI
  3. Amal 
  4. Celaka/bahagianya. 
Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorangdiantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antaradirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu iamelakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yangmengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan nerakakecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukanperbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Bad’ulKhalq)

Penjelasan Hadits Maksud hadits “Maka demi Allah yang tiada Ilah selain-Nya, ada seseorangdiantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarakantara dirinya dan surga kecuali sehasta saja,” adalah seseorang yang menurutpandangan mata manusia mengerjakan amalan surga dan ketika sudahmendekati ajalnya mengerjakan amalan penduduk neraka, kemudian iadimasukkan ke dalam neraka. Jadi yang dimaksud ‘jaraknya dengan surga atauneraka tinggal sehasta‘ bukan tingkatan dan kedekatannya dengansurga, namun waktu antara hidupnya dengan ajalnya tinggal sebentar, sepertisehasta. Yang patut kita pahami dari hadits ini, bukan berarti ketika kita sudahberusaha melakukan kebaikan dan amalan ibadah maka Allah akan menyia-nyiakan amalan kita. Karena hadits di atas diperjelas dengan haditslainnya, yaitu, “Sesungguhnya ada di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli Surgamenurut pandangan manusia, padahal sebenarnya ia penduduk Neraka.”(HR. Muslim no. 112 dengan sedikit perbedaan lafazh dari yang tercantum)

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan maksud hadits ini, “Amalan ahli surgayang dia amalkan hanya sebatas dalam pandangan manusia, padahal amalan ahlisurga yang sebenarnya menurut Allah, belumlah ia amalkan. Jadi yang dimaksuddengan ‘tidak ada jarak antara dirinya dengan surga melainkan hanya sehasta’ adalahbegitu dekatnya ia dengan akhir ajalnya.”Sedangkan maksud hadits, “Kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu iamelakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka,” artinya, kemudian orangtersebut meninggalkan – kebiasaan – amalan ahli surga yang sebelumnya diaamalkan. Hal itu disebabkan adanya sesuatu yang merasuk ke dalam hatinya –semoga Allah melindungi kita dari hal ini – yang menjerumuskan orang tersebut kedalam neraka.

PENGERTIAN SURGA DAN NERAKA

SURGA

Dalam al-Qur’an (Islam), konsep surga dimaksudkan terjemahan darikata bahasa arab, jannah - jamak dari Jinan - yang berarti “kebun,taman”. Ia adalah tempat yang kekal di akhirat dan diperuntukkan bagihamba-hamba Allah Swt yang beriman dan beramal shaleh, tempatyang memberikan kenikmatan yang belum pernah dirasakan ketikahidup di dunia dan sebagai balasan jerih payah memenuhi perintahdan menjauhi larangannya.Dari arti “kebun” itu, tampaknya sangat sesuai ketika Al-Qur’anmelukiskan Al-Jannah (surga) sebagai sebuah tempat yang indah,dipenuhi pohonn-pohon rindang, sungai yang airnya mengalir jernihdan segala keindahan lainnya. Hal tersebut dimaksudkan dan jugasejumlah penafsir menggarisbawahi bahwa keadaan di surga, begituindah dan nikmatnya sampai tidak terbayangkan oleh manusia.Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang memikat danmenyenangkan hati serta pandangan, di dalamnya terdapat segalasesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengaroleh telinga dan belum pernah terpikirkan oleh akal pikiran. Olehkarena itu, Allah subhanahu wataaala berfirman:

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagaibalasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (As Sajdah: 17).

Sebagaimana diungkap di atas, surga dan neraka merupakan kelanjutan alamidari perbuatan baik dan jahat manusia. Secara logis manusia memerlukankeduanya sebagai balasan amal mereka. Jika beramal sholeh balasannya adalahsurga dan sebaliknya neraka adalah buat orang kafir dan ingkar terhadap ayat-ayatnya. Ini lebih menjelaskan lagi bahwa surga merupakan tempat yang bagusdan sebaliknya dengan neraka. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagimereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal didalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya.” (Al Kahfi: 107-108).

NERAKA

Neraka adalah tempat penyiksaan bagi mahluk Allah yangmembangkang. Mereka adalah orang-orang yangmembangkang terhadap syariat Allah dan mengingkariRasulullah saw. Kata neraka sering disebutkan dalam kitab suci Al-qur’an dan jumlahnya sangat banyak sekali. Dalam BahasaArab disebut naar ar)* (an-nār). Siapapun orang yang dimasukkan ke dalam neraka, diatidak akan keluar darinya. Pintu neraka berdiri kokoh dantertutup rapat. Itulah penjara bagi orang-orang yangmenganggap remeh berita tentang pengadilan akhirat. Ada juga orang-orang yang terakhir kali masuk surga,setelah mereka di siksa sesuai dengan dosa-dosanya yangtelah mereka perbuat.

Didalam Al-Quran disebutkan bahan bakar neraka adalahdari manusia dan batu (ada yang mengartikan berhala).Pintu gerbang Neraka di pimpin oleh Malaikat Malik, yang memiliki 19malaikat penyiksa di dalam Neraka, salah satunya yang disebut namanyadalam Al-Quran adalah Zabaniah. Walaupun neraka sering digambarkan sebagai tempat penyiksaan yangteramat panas, tetapi ada hawa neraka menjadi teramat sangat dingin.Disebutkan di dalam Al-Quran: “Inilah (azab neraka), biarlah mereka merasakannya, (minuman mereka)air yang sangat panas dan air yang sangat dingin. (Sad [38]:57)”Siksaan didalam neraka yang paling ringan diberikan sandal api yang bisamembuat otak mereka mendidih. “Sesungguhnya penghuni neraka yangpaling ringan siksaannya ialah orang yang diberi sepasang sandal yangtalinya terbuat dari api neraka, lalu mendidihlah otaknya karena panasnyayang laksana air panas mendidih di dalam periuk. Dia mengira tiadaseorangpun yang menerima siksaan lebih dahsyat dari itu, padahal dialahorang yang mendapat siksaan paling ringan.” (HR. Bukhari-Muslim)

A. Nama-nama neraka dan penghuninya

Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan (QS 78:17)

1. Neraka Jahanam (QS 15:43)

Disediakan untuk para pengikut syaithan. Pengikut syaithan kebanyakan para wanita, mengapa demikian? karena dalam diri seorang wanita terdapat roh-roh syaithan. Syaithan bentuknya ada 3 (tiga) yaitu:

  • Ucapan para dukun, peramal
  • Hawa nafsu (egoisme) QS 45:23
  • Mengkultuskan kepada seseorang
2. Neraka Syair (QS 84:12-13)

Disediakan untuk orang-orang kafir terhadap akherat (tidak percaya), juga untuk orang yang seneng bila mendapat rezeki dan marah ketika susah memperoleh rezeki.

3. Neraka Shaqor (QS 74:42-47) 

Disediakan untuk orang yang tidak melaksanakan sholat, tidak mau memberi makan orang miskin, tukang gossip dll.

4. Neraka Jahim (QS 26:91)

Disediakan untuk mereka yang menyembah berhala, thagut (harta & tahta), juga untuk orang yang sesat.

5. Neraka Huthomah (QS 104:1-9)

Disediakan untuk para pengumpat &  pencela.

6. Neraka Ladho (QS 70:15-18)

Disediakan untuk orang yang tidak beragama, menyimpan harta (kikir)

7. Neraka Hawiyah (QS 101:1-11)

Disediakan untuk orang yang ringan kebaikannya, 

Semoga kita terhindar dari perbuatan yang akan menjerumuskan kita ke dalam neraka. Ya Rabb tunjukilah kmai jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS 1:6-7).

B. Nama Surga, tingkatan, dan Calon-calon Penghuninya 

Surga (Al-Jannah) adalah suatu tempat di alam akhirat yang penuh dengan segala macam kenikmatan dan kesenangan. Allah Swt. menjadikan tempat ini bagi hamba-Nya yang takwa. Antara lain diterangkan dalam surat Al-Baqarah ayat 82 sbb:

"Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, menjadi penghuni surga. Kekallah mereka didalamnya."

Gambaran tentang Surga di dalam Al-Qur'an antara lain sebagai berikut : surga seluas langit dan Bumi (Al-Hadid:21), di dalamnya terdapat pohon-pohon dan buah-buahan (Ar-Rahman:54,68, dan Al Waqi'ah :28,29,32-33), terdapat istana-istana dan mengalir sungai-sungai dibawahnya (Al-Furqan:10), tahta-tahta kebesaran dan ranjang-ranjang emas/permata (Ash Safaat:44 dan Al Waqi'ah : 15), serta ditemani bidadari-bidadari (Ar-Rahman : 72 dan Ad Dukhan : 54)

Nama Surga, tingkatan, dan calon-calon penghuninya sbb :

1. Surga Firdaus

Dijadikan dari emas yang merah. Dalam Al-Mukminun :1-11, dijelaskan bahwa surga ini untuk orang-orang yang khusyuk sholatnya, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, aktif menunaikan zakat, menjaga kemaluannya, memelihara amanah, menepati janji, dan memelihara sholatnya.

2. Surga 'Adn

Diciptakan dari intan putih. Penghuninya yaitu orang yang bertakwa kepada Allah (An Nahl :30-31), benar-benar beriman dan beramal saleh (Thaha:75-76), banyak berbuat baik (Fathir:32-33), sabar, menginfakkan hartanya, dan membalas kejahatan dengan kebaikan (Ar Ra'ad :22-23).

3. Surga Naim

Dijadikan dari perak putih. Diperuntukkan bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah dan beramal saleh (Al Qalam : 34, Luqman : 8, Yunus : 9, dan Al-Haj : 56).

4. Surga Ma'wa

Diciptakan dari jamrud hijau. Adalah tempat orang-orang yang bertakwa kepada Allah (An Najm:15), beramal saleh (As Sajdah : 19) serta takut kepada kebesaran Allah dan menahan hawa nafsunya (An Naziat : 40-41).

5. Surga Darussalam

Diciptakan dari Yakut merah. Penghuninya yaitu orang-orang yang kuat iman dan Islamnya, memperhatikan ayat-ayat Allah, serta beramal Saleh (Al An'am : 27).

6. Surga Darul Muqamah

Diciptakan dari permata putih. Dihuni oleh orang-orang yang kuat iman Islamnya, banyak berbuat kebajikan, dan jarang berbuat kesalahan.

7. Surga Al-Maqamul Amin

Diciptakan dari permata putih. Kediaman orang-orang yang bertakwa (Ad dukhan : 51).

8. Surga Khuldi

Diciptakan dari marjan merah dan kuning. Dihuni oleh orang-orang yang taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya (Al Furqaan :15).

Jarak antara tingkatan surga yang satu dengan yang lainnya diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abi Said Al-Khudri : "Surga itu terdiri dari seratus tingkat. Antara tingkat yang satu dengan yang lainnya berjarak seperti antara Bumi dan langit. Dan tingkatan tertinggi adalah surga Firdaus.".

Menurut hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a., surga memiliki 8 pintu dari emas yang ditaburi mutiara. Pintu-pintu tersebut adalah :
  1. Pintu untuk para Nabi, Rasul, syuhada, dan dermawan.
  2. Pintu bagi orang-orang yang mendirikan sholat dengan menyempurnakan syarar rukunnya
  3. dan wudhunya.
  4. Pintu buat orang-orang yang mengeluarkan zakat dengan kebersihan jiwa.
  5. Pintu untuk orang-orang yang memerintah kebaikan dan melarang kemungkaran.
  6. Pintu orang-orang yang mencegah hawa nafsu dan kesyahwatan.
  7. Pintu buat orang-orang yang menunaikan ibadah Haji dan umrah.
  8. Pintu bagi para ahli Jihad (berjuang menegakkan agama Allah)
  9. Pintu bagi orang-orang yang bertakwa, berbakti kepada orangtua, dan menyambung tali persaudaraan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar