Selasa, 09 November 2010

TAK SENILAI SAYAP NYAMUK

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakanmu dalam (mentaati) Allah.” (QS. Luqman: 33)
Dunia memang indah. Warna-warni alamnya teramat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Hiasan-hiasannya bagaikan magnet yang mampu menarik siapa pun di sekelilingnya. Pesonanya bisa memukau mata manusia mana pun yang menatapnya dengan penuh harap. Mereka pun berkhayal, andai dunia tak pernah berpisah.


Kenikmatan yang berlimpah kadang bisa lebih berbahaya dari musibah terburuk apa pun. Seorang hamba Allah mungkin bisa bertahan dengan siksaan dan penjara. Tapi, belum tentu ia mulus dengan cobaan banyaknya harta. Berbahagialah hamba Allah yang kaya dan senantiasa bersyukur.

Jangan pernah bergeser dari niat yang ikhlas

Ikhlas adalah dasar diterima atau tidaknya sebuah amal. Apalah arti sebuah prestasi jika Allah swt. tidak menganggapnya sebagai sebuah bakti. Mungkin, manusia bisa tertipu dengan hiasan-hiasan amal yang ditampilkan. Tapi, Allah Maha Tahu apa yang tersembunyi di balik hati seorang hamba. Sekecil apa pun.

Keanggunan hiasan dunia kadang membuat hati manusia tertipu, terpedaya. Buat siapa pun, termasuk hamba Allah yang giat beramal. Bahkan, seorang sahabat Rasul sekali pun. Kisah kurang amanahnya pasukan pemanah pimpinan Abu Ubaidah pada Perang Uhud memberikan pelajaran tersendiri. Mereka siap menempuh bahaya seganas apa pun. Tapi, tak sesiap itu ketika menatap lambaian ghanimah. Kenikmatan dunia memperdaya mereka, merontokkan komitmen mereka terhadap perintah Rasul: “Apa pun yang terjadi, kalian harus tetap di bukit ini!”

Tidak heran, jika Allah swt. mengajarkan Thalut untuk menguji kesetiaan pasukannya dengan sungai. Buat kondisi jazirah Arab yang panas, sungai merupakan perwujudan standar dari bentuk kenikmatan dunia: menggiurkan di saat dahaga, menyejukkan di saat panas terik membakar. Kalau pada takaran standar saja mereka rontok, apatah lagi dengan kenikmatan yang lebih besar. Dan peperangan yang akan mereka hadapi bukan sekadar menumbangkan Jalut, tapi mengendalikan diri dari hamparan kenikmatan yang dimiliki Jalut. Mampukah?

Amru bin Ash r.a. di saat menghadapi akhir hayatnya pun menyadari. Betapa ia yang pernah berjuang bersama Rasulullah saw., menghunus pedang untuk membantai musuh-musuh Islam dengan pengorbanan yang tidak kecil, pun akhirnya bisa terpedaya dengan nikmatnya kekuasaan. Sebuah bagian dari kenikmatan dunia yang belum seberapa.
Tidak ada yang mampu mengawasi jati diri seorang hamba kecuali Allah dan dirinya sendiri. Dirinyalah yang tahu, apakah niatnya masih lurus. Atau, sudah bergeser. Dan kelak, ia akan menuai amal yang pernah ia tanam. Bagus atau buruk.

Biasakan untuk senantiasa memberi, bukan sebaliknya

Manusia memang tak bisa lepas dari tarikan dunia. Karena, sebagian dirinya berasal dari unsur tanah yang berarti bagian dari wujud dunia. Ia butuh makan, minum, tempat tinggal, pasangan, keluarga, status sosial, dan sebagainya. Tinggal, bagaimana ia mengelola keakrabannya dengan dunia.

Orang yang akrab dengan sesuatu biasanya akan cinta. Dan cinta menjadikan seseorang sulit dipisahkan dengan yang dicintai. Karena itu, sebelum seseorang terlanjur mencintai dunia, ia harus melatih diri untuk secara rutin berpisah. Biar kecil, tapi rutin.

Di situlah mungkin, di antara hikmah Allah swt. mewajibkan infak buat orang-orang yang beriman. Tak ada keuntungan sedikit pun buat Allah. Karena, tak satu pun benda di alam ini melainkan dari-Nya. Semua manfaat itu akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Sekilas, memberi terasa merugikan. Karena, ada bagian kepemilikannya yang dikorbankan buat orang lain. Tapi, justru di situlah seorang yang mudah memberi akan merasakan manfaat. Selain menyeimbangkan keakrabannya dengan dunia, memberi adalah bentuk investasi lain buat kepemilikan yang lebih berharga dari materi yang ia korbankan. Selain balasan dari Allah, ia akan mendapatkan nilai sosial lebih. Harga sosialnya akan semakin mahal, tanpa ia sadari.

Allah swt. berfirman, “Ada pun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 5-7)

Turunan dari memberi begitu banyak. Rasulullah saw. sering menganjurkan kita untuk bersedekah, memberi hadiah, menolong orang yang kesulitan dana, mengurus anak yatim, dan lain-lain. Karena itu, bersikaplah untuk senantiasa siap memberi buat orang lain. Bukan, berharap-harap apa yang mesti orang lain berikan kepada kita.

Jadilah seperti seorang penjual, bukan pembeli

Perbedaan mendasar antara seorang penjual dengan pembeli adalah sikap mental. Seorang penjual punya sikap pelayanan. Dan pembeli punya sikap memilih-milih, tidak merasa perlu. Apa pun yang dituntut pembeli, penjual akan menyesuaikan diri. Bahkan, ia harus siap dicela, dimarahi pembeli, tanpa memperlihatkan reaksi ketidaksukaan. Apalagi perlawanan. Dan, manajemen moderen membenarkan itu.

Begitu pun dalam beramal. Kehidupan seorang hamba Allah di dunia ini tak lain adalah seorang penjual. Dan Allahlah Si Pembeli. Pembeli bisa menentukan kriteria apa saja atas barang yang dibeli. Dan penjual wajib memenuhi, jika dagangannya mau terjual.

Allah swt. berfirman dalam surah At-Taubah ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Tak ada satu penjual pun yang santai-santai saja menyambut tawaran harga tinggi dari seorang pembeli. Dan harga apalagi yang lebih tinggi dari surga yang penuh kenikmatan. Dan satu lagi. Tak ada penjual yang sedemikian cintanya dengan dagangannya sehingga ia tak akan pernah menjual. Teramat bodoh seorang penjual yang bersikap, “Biarlah saya tak untung, yang penting barang dagangan yang saya cintai tak terjual!” Saat itu, ia bukan lagi seorang penjual. Tapi, penikmat.

Seorang hamba Allah yang cerdas tak akan terpedaya dengan dunia. Seindah apa pun, ia tampil. Segemerlap apa pun dunia bersolek. Karena dalam pandangan Allah, dunia tak senilai saya nyamuk. Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan dunia itu senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.” (HR. Tirmidzi)

Sayap Nyamuk = Isi Dunia

Malam hari banyak orang tidurnya tidurnya terganggu dengan banyaknya nyamuk, jika ada langsung ada nyamuk gigit langsung saja digebuk. Alhamdulilah sampai 10 bisa mematikan nayamuk dengan senyum kebanggaan, apalagi jika menggigit anak-anak dan istri kayaknya dendam membara. Seperti kaya satpam pokoknya nyamuk jangan sampai menyentuh kekulit istri atau anak. Jika terdengar suara nyamuk, langsung di kejar sampai keatas kebawah, sampai-sampai penulis membeli raket nyamuk bukan raket badminton, untuk menggebuk nyamuk seharga 40 ribu dengan gembira sambil mengatakan mampus mati nyamuk dan bau terbakar nyamuk dengan puasnya. Kadang malah mengorbankan tidak sholat qiyamullail, atau ketiduran tidak sholat subuh, gara-gara anak rewel banyak nyamuk jadi ketiduran sampai siang. 

Dengan bangganya laporan sama istri tadi malam saya telah mematikan nyamuk 10 ekor, seolah-olah menunjukkan tanggung jwab sebagai seorang suami bagi keluarga dan menunjukkan betapa sayangnya kepada keluarga. Dengan bangganya istri memuji itu baru suami yang sholeh (salah kaprah kali?). Esok harinya dengan semangat membara sore jam 5 terus semprot baygon sampia dapati 30-50 an nyamuk jatuh kelantai, sampai-sampai takut Cuma pingsan, disapu dan di tekan dengan jari sampai mampus keluar darah, ini darahku yang di gigit semalaman. Bahkan diantara kita ada sampai-sampai melindungi tempat tidur dengan kelambu atau memasang AC terus di tutupi semua dengan kain kasa agar nyamuk tidak masuk.

Nyamuk kalau menggigit Cuma berapa darah yang diambil, kok kita dengan emosinya langsung balas membunuhnya. Betapa pelitnya kita untuk mengasih darah yang tidak sebanding dengan tetesan air yang jatuh dengan di tengah lautan. Dan nyamuk terdiri dari beberapa bagian tubuh ada kepala sayap dan ekornya. Kadang nyamuk seperti nyamuk demam berdarah kadang mematikan. Penulis saat mau sholat subuh merenung ingat ada hadist Nabi bahwa dunia bagaikan sayap nyamuk.

Rasulullah saw. bersabda, “Andaikan dunia itu senilai dengan sayap nyamuk di sisi Allah, maka Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir walaupun seteguk air dari dunia.” (HR. Tirmidzi)

Begitu mudahnya Allah memperumakan kehidupan sehari-hari kita diganggu oleh nyamuk sekali lagi sayapnya nyamuk itu seperti isi dunia. Bayangkan jika semalaman tiap hari kita terganggu dengan nyamuk kita membancinya seperti membenci dunia jangan sampai pesona dunia membuat kita lupa dengan pesona akherat atau surga yang abadi.

Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamnya mengagumkan para petani kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirtat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta kerihaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (Q.S. al-Hadid [57];20)

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya) (Q.S. al-Nazi’at [79];37-41)

Diantara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat (Q.S. al-Ali Imran [3];52)

Barangsiapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu dan barang siapa menghendaki pahala akhirat. Kami berikan (pula) pahala akhirat itu (Q.S. al-Ali Imran [3]:145)

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada ada baginya suatu kebahagian di akherat (QS. Al-Syura [42]:20)

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (Q.S. Yunus [10];7-8)

Dan kampung akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti (Q.S. al-A’raf [7];169)

Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kiamu memahaminya (Q.S. al-An’nam [6];32

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi (Q.S. al-Munafiqun [63];9)

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal
(Q.S. al-Thaha [20]:131)

Dan bacakan kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi al-kitab), kemudian di melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguahnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaanya seperti anjing jika kamu menghalaunya di ulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir(Q.S. al-A’raf [7]:175-176)

Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui (Q.S. al-Ankabut [29]:64)

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya, sedang apa yang sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal apakah kamu tidak memahaminya (Q.S. al_qashash [28] : 60)

Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada kesenangan-kesenangan yang diperoleh daripada wanita anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda yang bagus, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah yang merupakan kesenangan keduniaan. Dan disisi Allahlah tempat kembali yang baik (Q.S. Ali Imran [3]; 14)

Sesungguhanya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara)dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal (Q.S. Ghafir39)

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit lalu tumbuhlah dengan seburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami diwaktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamanya) bagaikan tanaman-tanaman uang sudah di sabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami)kepada orang-orang yang berpikir. Allah menyeru (manusia ) keDarussalam (surga) dan menunjuki orang yang dikehendaki –Nya kepada jalan yanglurus (Islam)(Yunus :24-25)

Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangkan angin. Dan adalah Allah Mahakuasa atas segalan sesuatu. Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya disisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (al-Kahfi 45-46)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang dingini, yaitu ; wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-Lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah,”Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir Dan, (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta kerihaan Allah. Dan, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya (Ali Imran; 14-15)
Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan didunia itu (dibanding dengan kehidupan akhirat, hanya kesenangan (yang sedikit)” (ar-Ra’d : 26)
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dengan dan senja hari dengan mengharap keridhaan Keridhoaan-Nya dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia inidan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hwa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas (Q.S. al_Kahfi [18]: 28))
Terhadap orang yang merasa tenteram dengan kehidupan dunia dan lalai kepada ayat-ayat-Nya serta tidak mengharap perjumpaan dengan-Nya sebagai berikut :

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu tempatnya adalah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan (Yunus : 7-8)

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila di katakan kepada kamu,”Barangkatlah (untuk berperang) fi sabilillah,’Kami merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup didunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akherat hanya sedikit (at-Taubah:38)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (at-Takatsur: 1-5)
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah (Fathir: 5)
Sebesar kecintaan hambanya terhadap kehidupan dunia sebesar itulah kadar keberatannya untuk menaati Allah dan mencari kehidupan akherat. Dan sejumlah ayat berikut ini cukuplah untuk menjadikan kita zuhud terhadap dunia

Dan (ingatlah) akan hari yang diwaktu itu Allah mengumpulkan mereka , (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (didunia) hanya sesaat saja di siang hari, diwaktu itu mereka saling berkenalan (Yunus : 45)

Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpah orang-orang yang berdosa, “Mereka tidak berdiam (dalam kubur), melainkan saat (saja). Seperti demikianlah mreka selalu di palingkan (dari kebenaran). Dan berkata orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yuang kafir) Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah sampai hari-hari berbangkit maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak me-yakini(nya) ( AR-Ruum : 55-56)
Pada hari kiamat melihat hari berbangkit itu, mereka seakan-akan tidak tinggal (didunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi(an_Naazi’aat : 46)

Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.(Al Ahqaaf (46) )

Allah bertanya, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab, Kami tinggal (dibumi) sehari atau setengah hari,maka tanyakanlah kepada orang yang menghitung, Allah berfirman, Kamu tidak tinggal (dibumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengerhui “ (al-Muminun : 112-114)

(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya)? Kapada Rabbmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (Didunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari (an-Nazi’at : 42-46)

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (at-Takatsur: 1-5)

Allah ya Roob. Begitu Coba bayangkan kenapa kita tidak berpikir panjang langsung membunuh nyamuk. Bagaiaman jika dunia seperti sayap nyamuk kita tidak berpikir panjang bunuh dan bunuh.

Bagitu besarnya Allah sayangnya sama kita (muslim) dibandingkan dengan orang-orang kafir, mana ada orang kafir, Allah swt mengingatkan sayap nyamuk seperti dunia. Begitu bodohnya kita sudah di kasih hidup pernahkan kita membayangkan jika kita dihidupkan menjadi nyamuk, atau menjadi batu? Tidak pernah merasakan jadi manusia yang bisa makan dan minum, nonton bola, badminton?

Atau pernah enggak kita membayangkan kita menjadi orang-orang kafir yang tidak sama sekali tidak dikasih hidayah sama Allah dan di masukkan di neraka selama-lamanya. Padahal bagaimana tidak sayangnya Allah pada orang Islam. Contaoh kecil saja bangun pagi dan sholat sunnah saja dapat lebih baik dari isi dunia? Allahu Akbar sayang seribu sayang jika kita masih melalaikan, waktu yang sudah terjadi tidak bisa di ganti didunia dan akherat saudaraku

Ya Allah ampunilah dosa hambamu ini yang tidak memanfaatkan potensi secara maksimal, untuk menjaga kelauragaku dari godaan dunia. Coba bila kita melakukan tiap hari tindakan preventif pencegahan agar nyamuk tidak masuk kekamar kita seperti membuat kelambu, memakai ruangan AC sama dilakukan dengan mencegah terpesonanya dunia kita, istri dan anak. Betapa murkanya Allah sudah mempermumakan nyamuk makluk rendah masih begitu antuias mengejar nyamuk kadang sampai 6-10 jam sehari. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar